on Rabu, 24 Oktober 2012

Anda mungkin bertanya enam museum terbaik di Jakarta itu adalah versi siapa? hmmm, atau mungkin anda akan bertanya juga, dikatakan sebagai museum terbaik itu dilihat kriterianya seperti apa dan siapa yang berhak menilainya? Bukankah semua museum mempunyai ciri khasnya masing-masing? tak ada yang unggul melebihi museum lainnya karena setiap museum mempunyai keunikannya sendiri, terlebih lagi  jika itu diletakkan dalam konteks benda-benda koleksinya.

Ok, pertanyaan anda sah-sah saja terlontarkan, namun baru-baru ini tepatnya beberapa bulan yang lalu diadakan semacam acara penghargaan bagi museum-museum terbaik yang ada di Jakarta. Acara itu  dikenal dengan nama Museum Awards 2012 yang diselenggarakan atas kerjasama Pemprov DKI Jakarta dengan komunitas Jelajah di Jakarta. Penghargaan ini diadakan tak lebih untuk memancing rasa apresiasi masyarakat terhadap keberadaan suatu museum. 

Yup, seperti yang diketahui banyak orang sekarang merasa  tak perduli dengan adanya museum di sebuah kota, semisal Jakarta. Puluhan museum berdiri di kota ini, tapi jari pun terhitung hanya beberapa orang saja yang berkunjung setiap harinya mungkin. Ironitas akan terasa panjang jika dibahas kenapa museum sangat jarang dikunjungi, di saat banyak dari kita mempunyai waktu sekedar menambah pengetahuan dengan menjelajahi ke museum?   ironis memang tinggal ironis, tapi tanpa panjang lebar lagi mari sekarang kita lihat dimana sajakah ke-enam museum terbaik se-Jakarta menurut Museum Awards 2012 itu berada

Museum Harry Darsono 
Museum ini letaknya di belakang Cilandak Town Square dan menang sebagai Museum Terbaik kategori Penataan Koleksi. Museum Harry Darsono dapat dikategorikan sebagai museum fashion yang mana untuk museum yang masuk jenis ini cukup langka keberadaannya di Indonesia. Bahkan dapat dikatakan museum ini merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia.

Museum Harry Darsono ini mengesankan keanggunan, baik dari luar maupun dari dalam bangunan. Dari segi arsitekturnya  mengesankan sebuah bangunan yang sangat kuno, elegan, klasik dan abadi. Begitu pun warna dinding, hiasan eksterior, juga tanaman yang menghiasi, memberikan pesona yang elegan dan antik.

Di museum Harry Dharsono anda dapat melihat karya-karya fenomenalnya dari yang beraneka bentuk karya, terutama yang berhubungan dengan rancang busana, asesoris, dekorasi interior sebagai setting dimana gaun ciptaannya bisa dikenakan dalam suatu yang elegan.  Gaun-gaun Harry selama ini dikenal sebagai rancangan yang berkelas, haute couture atau adibusana, serta kontemporer yang tetap elegan. 

Selain itu Anda dapat melihat berbagai karyanya sejak tahun 1970, bahkan yang sempat  go international. Sebut saja karya adibusananya, koleksi art to wear, kostum panggung kontemporer yang pernah ditampilkan untuk pergelaran karya-karya Shakespeare, seperti Hamlet & Othello yang pernah ditampilkan di Woodbridge, Suffolk, Inggris (1980), serta Julius Caesar di Jakarta (1997), tampil memukau di salah satu sudut ruangan yang bermandikan cahaya kristal.

Terdapat pula gaun-gaun adibusana, seperti baju dan gaun pengantin dengan sulaman emas murni yang pernah dipesan oleh wanita-wanita bangsawan dunia. Anda akan melihat rancangan khusus untuk Lady Diana yang dibuatnya pada 1980 dan rancangan untuk Ratu Rania, Ratu Yordania.

Karya-karya fashion Harry Darsono selain elegan, kadang spektakuler. Hal ini didukung latar belakang pendidikan dan pengalamannya yang luas. Pria kelahiran Surabaya, 19 Maret 1950 ini pernah studi di Ecole Des Beoux di Paris, Prancis, Fashion Marchandising & Clothing Technology di London College of Fashion, Inggris, lalu London Film & TV Academy untuk Stage Production di London, Psychology di Christchurch College, Oxford, Inggris Phd dalam Humanistic Philosophy.

Selama 30 tahun berkarier, karya-karya Harry Darsono berhasil membuat semua orang berdecak kagum, tak hanya di Indonesia tetapi juga seluruh dunia. Selama ini mungkin banyak yang mengira karya-karyanya tersimpan rapi di lemari, tak tersentuh oleh sembarang orang. Nyatanya, tidak demikian. Harry mempersilakan publik menikmati koleksi masterpiece-nya.

“Memasuki museum saya, Anda akan tahu bahwa ada anak manusia yang mengawali semuanya dengan keterpurukan, kebisuan, dan kenakalan. Saya pernah diidentifikasi sebagai anak ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder). Inilah yang membuat saya bersemangat membuat museum. Saya bisa menghimpun anak ADHD untuk berkarya di dalam museum ini,” tuturnya. Sungguh mulia!

Museum Art One Mondecor
Museum Art One Mondecor ini menang sebagai Museum Terbaik kategori Saran dan Fasilitas Pengunjung. Mungkin banyak dari kita masih dengan asing dengan keberdaan museum ini, tapi tahu kah anda ternyata benih-benih museum ini sudah ada puluhan tahun yang lalu tepatnya tahun 1983 di Jakarta.

Di tahun itu Martha Gunawan melalui Mon Decor-nya merintis bisnis seninya yang berangkat dari konsep seni sebagai kesatuan interior. Pesatnya perkembangan  seni  rupa  memberikan  inspirasi  bagi  Mon  Decor  untuk  turut  serta mengembangkan seni rupa Indonesia dan aktif  mencari sekaligus menyaring seniman muda yang berbakat.

Tahun 2009, Mon Décor menambah sebuah ruang pamer yang lebih representatif, luas, dan mudah diakses di City Plaza, Wisma Mulia, Jl. Jend Gatot Subroto No 42 Jakarta dengan luas 1.000 meter persegi. Di lokasi itu kemudian dibangun ruang kontemporer bernama MD Art Space yang diresmikan pada tanggal18 Oktober 2011.

Dengan ruang pamer tetap berukuran 750 m2 dan ruang pamer temporer seluas 350 m2, MD Art Space, siap melayani kebutuhan klien serta seniman. Seluruh ruang galeri tersebut ditujukan sebagai tempat showcase bagi karya-karya pilihan dari berbagai aliran dan teknik Setiap bulannya diselenggarakan pameran temporer yang menjadi program yang berjalan secara kontinyu.

Museum Wayang
Nah, bagi anda yang sering hilir mudik di kawasan kota tua, pasti sudah tidak asing lagi dengan museum yang satu ini. ya, museum wayang namanya yang berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Museum Terbaik Kategori Kreativitas dan Inovasi Layanan.

Gedung Museum Wayang yang dulunya bernama de Oude Hollandse Kerk ini Anda dapat  melihat koleksi-koleksi wayang dari seluruh Nusantara dan berbagai dari  negara. Terdapat berbagai macam koleksi mulai dari koleksi-koleksi wayang  yang terbuat dari kayu dan kulit maupun bahan-bahan lain dari daerah-daerah di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Bali, Lombok, Sumatera yang terdiri atas wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber dan gamelan.

Tidak hanya wayang lokal asli Indonesia saja melainkan anda bisa juga melihat wayang-wayang berasal dari luar negeri antara lain Malaysia, Suriname, Kelantan, Perancis, Kamboja, India, Pakistan, Vietnam, Inggris, Amerika dan Thailand. Jumlah koleksinya kurang lebih 5.147 buah yang diperoleh dari pembelian, hibah, sumbangan atau titipan.

Menilisik sedikit historisitas Museum Wayang ini, awalnya gedung ini sebelum dijadikan museum adalah sebuah gereja lama Belanda yang dibangun pada abad ke-17. Seiring berjalannya waktu bangunan gereja itu pernah hancur akibat gempa.  Namun, kemudian gedung itu dibangun kembali oleh Bataviasche Genootshap van Kunsten en Wetenschappen, yaitu lembaga yang menangani pengetahuan dan kebudayaan Indonesia. Oleh lembaga itu, gedung tersebut diserahkan kepada Stichting Oud Batavia pada 22 Desember 1939 dan dijadikan museum dengan nama Oude Bataviasce Museum.

Nah, di tahun 1957 gedung ini diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia. Selanjutnya kembali diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 1962. Oleh Depdikbud, pada tahun 1968 kembali diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta untuk dijadikan Museum Wayang. Museum Wayang sendiri akhirnya diresmikan pada 13 Agustus 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu, Ali Sadikin.

Museum Kathedral Jakarta
Berada tak jauh dari Masjid Istiqlal, Museum yang satu bangunan dengan Gereja Katedral ini berhasil menyebet penghargaan Museum Terbaik kategori Bangunan Cagar Budaya. Museum Katedral terletak di balkon utama gereja yang biasanya digunakan jemaat untuk misa. Sebelum dijadikan museumlantai balkon tersebut digunakan untuk koor gereja, namun saat ini dimanfaatkan untuk ruangan memajang koleksi Museum Katedral Jakarta.

Salah satu koleksi yang menarik untuk dlihat adalah pakaian rohaniawan Katolik yang tersimpan dengan baik di dalam beberapa kotak kaca. Di dalam kotak kaca tersebut kita dapat melihat jubah, topi dan kasula berbagai warna. Kasula merupakan lapisan terluar busana yang biasa digunakan rohaniawan katolik. Kasula berwarna putih biasa dikenakan untuk ibadah sehari-hari, dan kasula yang berwarna merah dan ungu biasa digunakan untuk acara duka cita, seperti paskah dan misa tutup peti.

Tak hanya itu di museum ini ada pula Tongkat Paus Paulus VI dan Piala Paus Yohanes Palulus II yang sengaja ditinggal untuk kenang-kenangan saat mereka mengunjungi Indonesia juga cukup menarik untuk dilihat. Selain itu, jika anda penasaran ingin melihat salah satu lukisannya Kusni Kasdut (penjahat kelas kakap yang dihukum mati pada tahun 1980, museum ini juga menyimpan lukisan bergambar gereja yang diukis oleh) yang ia buat dari pelepah pisang, cukup menarik bukan?

Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah
Museum ini sudah tak asing lagi didengar oleh kita, terutama yang ber KTP Jakarta. Jadi pantaslah jika Museum ini menang sebagai Museum Terpopuler. Museum yang diresmikan pada tanggal 30 Maret 1974 oleh Ali Sadikin (mantan Gubernur DKI Jakarta) ini mempunyai benda koleksi yang ada mencapai jumlah 23.500 yang Terdiri atas ragam bahan material baik yang sejenis maupun campuran, meliputi logam, batu, kayu, kaca, kristal, gerabah, keramik, porselen, kain, kulit, kertas dan tulang. 

Selain itu di museum ini juga terdapat sketsel, patung Hermes, pedang eksekusi, lemari arsip, lukisan Gubernur Jenderal VOC Hindia Belanda tahun 1602-1942, meja bulat berdiameter 2,25 meter tanpa sambungan, peralatan masyarakat prasejarah, prasasti dan senjata. Umur koleksi di sana ada yang mencapai lebih 1.500 tahun khususnya koleksi peralatan hidup masyarakat prasejarah seperti kapak batu, beliung persegi, kendi gerabah. Bagi anda yang pernah tahu meriam legendaris dengan lambang kesuburan yang berada di belakang meriam. Ya disinilah anda bisa menemui sebuah Meriam si Jagur, meriam yang konon katanya dianggap mempunyai kekuatan magis.

Koleksi benda-benda museum yang berada di kawasan kota lama ini dipamerkan di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Sultan Agung, Ruang Fatahillah, dan Ruang M.H. Tamrin. Bagi pengunjung yang ingin menikmati koleksi museum akan dimudahkan oleh tata pamer Museum Sejarah Jakarta. Tata pamer tersebut dirancang berdasarkan kronologi sejarah, yaitu dengan  cara menampilkan sejarah Jakarta dalam bentuk display. Koleksi-koleksi itu pun ditunjang secara grafis oleh foto-foto, gambar-gambar dan sketsa, peta, dan label penjelasan agar mudah dipahami berdasarkan latar belakang sejarahnya

Museum Bank Indonesia
Nah, kalau Museum ini adalah pemenang untuk Museum Terbaik 2012. Kali pertama berkunjung pada akhir pekan  yang lalu setelah melihat ada ultah dewa di sepanjang jalan Hayam Wuruk, kesan pertama yang ditangkap setelah masuk ke dalamnya adalah museum ini memang berbeda dengan museum-museum yang ada di Jakarta.

Baik penyajian atau pun penataan benda koleksinya cukup apik, ditambah lagi dengan adanya seperangkat alat-alat komunikasi modern yang membantu kita untuk menelusuri informasi seputar sejarah perbankan di Indonesia ataupun Bak Indonesia itu sendiri.  Peluh pun dapat tertahan tanpa harus menetas dari tubuh, tak seperti cuaca di luar gedung museum saat itu karena pendingin ruangan di museum ini bekerja dengan baik dan dapat menyejukkan anda.

Tak ketinggalan  ada satu yang menarik, di museum ini anda dapat masuk ke dalam rungan yang dulunya digunakan untuk menyimpan uang. Bisa dibayangkan bagaimana bentuk pintu masuknya bukan? besi yang sangat tebal entah berapa ketebalannya. Nah, di dalam ruangan ini anda dapat melihat koleksi-koleksi uang dalam negeri maupun uang dari berbagai negara. Berada dalam kaca tebal, anda dapat melihatnya dengan memakai  kaca pembesar yang telah disediakan oleh pihak museum. 

Sedikit mengenai sejarahnya, museum ini awalnya merupakan sebuah rumah sakit Binnen Hospitaal, lalu kemudian digunakan menjadi sebuah bank yaitu De Javashe Bank (DJB) pada tahun 1828. Lalu setelah kemerdekaan yaitu pada tahun 1953, bank ini di-nasionalisasikan menjadi bank sentral Indonesia atau Bank Indonesia. 

Tapi tidak lama, yaitu tahun 1962, Bank Indonesia pindah ke gedung yang baru. Gedung ini dibiarkan kosong, namun dewan gubernur BI menghargai nilai sejarah yang tinggi atas gedung tersebut, sehingga memanfaatkan dan melestarikannya menjadi Museum Bank Indonesia. Museum ini diresmikan pada 15 Desember 2006 oleh Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah. (berbagai sumber)