on Kamis, 03 Mei 2012
Jika anda pernah bertamasya ria ke daerah Pantai Pangandaran tepatnya di pantai yang bernama Pantai Karang Nini yang letaknya kurang lebih 10 km sebelum Pantai Pangandaran, pastilah anda pernah melihat sebuah karang yang menyerupai seoarang nenek yang sedang duduk bersandar. Yup, karang itulah yang bernama Nini,  lantas kenapa pula nama karangnya diambil dari nama seorang wanita.

Lagi-lagi tulisan ini akan diawali dengan alkisah seperti tulisan lainnya di blog yang banyak mencerikatan legenda di sebuah tempat wisata. Jadi alkisahnya dari legenda Nini ini bak cerita roman yang mungkin bisa menguras air mata.

Nah, diceritakan pada zaman dahulu ada sebuah kampung yang bernama Emplak atau Karangtunjang, di sana tinggalah sepasang kakek dan nenek samti (akidan nini) yang bernama Ambu Kolor dan Arga Piara. Aki yang memiliki kegemaran menangkap di laut, nah pada suatu hari tak kunjung pulang ke rumahnya. Tak pelak nenek Nini menunggu di rumah dengan rasa was-was.
sumber foto: www.ybandung.wordpress.com

         Matahari perlahan semakin tenggelam, namun si Aki tidak jua muncul  dan kembali ke rumah.  Bersama para tetangga Nini  berusaha mencarinya di tepi-tepi pantai karena dia  tak sabar menunggu Namun sayang mereka pulang dengan tangan hampa dan tinggallah Nini sendirian merenungi kemana perginya sang kakek.

Sang nenek yang  begitu mencintainya suaminya tak rela ditinggal suaminya pergi. Ia lalu  meminta dan memohon kepada Penguasa Pantai Selatan untuk bisa dipertemukan lagi dengan pasangan jiwanya. Eh, ternyata kupingnya Ratu Pantai Selatan mendengar permohonan itu, lantaslah tidak beberapa lama kemudian muncullah sebuah karang yang sekarang disebut Balekambang sebagai perwujudan jiwa kakek tersebut.

Nenek Nini merasa tidak puas dengan pemberian Penguasa Pantai Selatan yang pertama, kemudian ia kembali bersemedi sebagai bukti dari cinta kasih dan kesetiannya sekaligus memohon permintaan yang kedua. Kali ini permohonannya adalah ingin lebih dekat lagi dengan sang kakek, entah minta dekat dalam wujud apa dan seperti apa.

Akan tetapi  pada permintaan yang kedua ini menurut ceritera, jiwa nenek Nini diambil oleh Penguasa Pantai Selatan dan dirubah menjadi sebuah batu karang yang arahnya menghadap Balekambang. Batu karang tersebut yang kemudian secara fisik dianggap mirip rupa sang nenek yang sedang duduk bersandar.

Sampai berabad-abad kemudian, dua buah batu karang yang berhadap-hadapan itu tetap kokoh di tempatnya menjadi simbol cinta dan kesetiaan. Hanya saja pada tahun 1918 bagian karang yang menyerupai kepada si Nini putus disambar petir menyisakan bagian yang sekarang kita dapat lihat (Berbagai sumber)