on Kamis, 31 Januari 2013

Maulid akan tiba, salah seorang teman dekat yang hidup di salah satu desa Muslim di Bali pernah bercerita, betapa sibuknya dia saat perayaan Maulid Nabi Muhammad yang jatuh tepat di bulan Januari. Pasalnya, masjid yang berada persis di samping rumahnya menjadi pusat berkumpulnya warga sekitar. Tak hanya itu, sebagai warga desa yang partisipatif, ia dan keluarganya seraya membantu segala macam kebutuhan yang diperlukan dalam prosesi keagamaan yang berlangsung hanya sehari itu.

Sebut saja mulai dari persiapan membeli telor dalam jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit, merebus telurnya, sampai menghias Telur Maulid dengan ornamen hiasan. Ia dan keluarga senantiasa sibuk seraya mengikuti garis takdir yang tak bisa terelakkan di saat Maulidan tiba di desanya. Tak peduli kocek semakin menipis lantaran Maulid jatuh di tanggal tua“ yah mau gimana lagi sudah tradisi ehehehhe” kata Risma.

Siangnya dia membeli telur di pasar dekat rumah dan saat Malam Maulid, anggota keluarganya pun sibuk dengan kewajiban Maulidannya. Perlu waktu itu sudah pasti, maka tak jarang mereka habiskan malam untuk mendekorasi telor hiasnya. Cukup unik, Risma bilang membuat pohon hias dengan puncuk-puncuk ranting yang diisi telur. Tak tangung-tanggung, sekilas ranting berwarna merah yang dihiasnya, itu tak hanya berisi puluhan telur saja melainkan ratusan banyaknya. “ kalau ditotal jumlah telurnya mencapai 600 buah” katanya. Wow! Pohon pun menjadi meriah dengan hiasan telur.

Nah, keesokan harinya tanpa ada komando para tetua desa lagipula ini sudah tradisi turun temurun di sana. Masyarakat sekitar, menurut Risma, sudah mengerubungi di areal masjid. Mereka berpartisipasi dari pagi mendengarkan ceramah plus doa-doa sampai selesai. Setelah itu arak-akan pun dimulai dengan belasan diorama dari telur warna-warni yang berbentuk masjid, ketupat dan kabah itu dan yang lainnya.

Setelah arakan-akan warga lalu berebut mengambil sajian berupa telur. Eits, tapi tunggu dulu jangan Anda bayangkan kekisruhan akan terjadi sama seperti pembagian sembako yang sering kita lihat di TV. Untuk pembagiaan di tempatnya telah di atur sedemikian rupa untuk menghindari kisruh warga. Jadi telur-telur itu sudah ditakar menurut usia dari warga, yang umurnya muda jauh lebih sedikit dari mereka yang lebih tua. “ yang masih muda dapatnya sekitar 5 telur, yang tua sekitar 10-an lebih” bilang Risma

Yup, hari itu memang spesial begitu juga dengan telurnya. Kenapa? telur maulid diyakini oleh masyarakat setempat tak terkecuali Risma mempunyai rasa yang lebih enak dibandingkan dengan telur biasa. Entah kenapa, Risma pun heran, namun dia berkeyakinan telur ini enak karena telah diberikan doa-doa terlebih dahulu sebelum dibagikan ke warga. “ya mau percaya apa gak, tapi emang rasa telurnya itu lebih enak” katanya.

Tradisi di beberapa kota di Indonesia
Namun apakah tradisi Telur Maulid hanya berlangsung di tempatnya? Eh, usut punya usut plus hasil riset di mbah google, didapatkan hasil bahwa Tradisi Maulid dengan mengunakan telur itu tidak hanya dilakukan di perkampungan muslim di Bali saja namun juga dilakukan di daerah lainnya di Indonesia.

Seperti misalnya di daerah Banyuwangi. Tradisi perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW di Banyuwangi dirayakan dengan telur hias atau biasa disebut tradisi endhog-endhogan (telur) yaitu menghias telur dengan berbagai macam bentuk dan hiasan, ditancapkan di batang pisang, kemudian diarak keliling kota/pawai. Telur ditusuk dengan batang bambu dan dihias dengan kertas atau pernak-pernik lainnya

Tak berbeda dengan Banyuwangi, di Sulawesi Selatan juga ada tradisi telur maulid. Jika di Banyuwangi dikenal dengan endgogan, di Sulsel dikenal dengan istilah Maudu Lompoa. Kegiatan ini merupakan ritual keagamaan dan kebudayaan yang secara rutin di selenggarakan pemerintah kabupaten Takalar dan masyarakat. Nha, di akhir kegiatan, ribuan warga yang memadati kegiatan ini, berebutan telur Maulid.

Makna Telur Maulid
Merunut setiap daerah memiliki tradisi telur Maulidnya. Apakah makna Telur Maulid sama seperti Telur Paskah di mana makna Telur Paskah merupakan merupakan simbol musim semi. Di masa silam, di Persia orang biasa saling menghadiahkan telur pada saat perayaan musim semi, yang bagi mereka juga menandakan dimulainya tahun yang baru.

Dan ternyata tidak, maknanya justru berbeda karena Telur Maulid adalah telur terdiri atas tiga bagian; kulit, putih telur, dan kuning telur. Kulit telur itu berarti iman, putih telur artinya islam, dan kuning telur artinya ikhsan. Selain itu, telur dimaknai sebagai anak-anak ayam (bebek/telor). Tusuk bambu melambangkan adanya kelurusan, kekuatan, keteguhan layaknya pohon bambu yang tumbuh menjulang tinggi.

Demikianlah Maulid diharapkan memberikan makna kepada umat Islam untuk selalu teguh, lurus dan menjulang tinggi meneladani Sang Nabi Muhammad manusia mulia dan luhur. Dulu sebagian masyarakat hanya menggunakan telur bebek. Ini dimaksudkan umat Islam mengikuti dan meneladani Sang Nabi layaknya bebek, berbaris rapi, mengikuti panduan sang pemimpin. Rasa syukur menyambut kelahiran Sang Nabi teladan umat Islam diungkapkan dengan rasa gembira, rasa sumringah melalui simbol-simbol aneka warna kertas dan hiasan telurnya