Tampilkan postingan dengan label wisata sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata sejarah. Tampilkan semua postingan

Pantai Sampur: Objek Wisata Favorit di Jakarta Tempo Dulu

#

Sampur? Mendengar namanya sepertinya cukup asing di telinga zaman sekarang. Namun coba Anda tanyakan kepada para orang tua yang umurnya kini sudah setengah abad lebih di Jakarta. Sampur bagi mereka merupakan nama sebuah objek wisata pantai di utara Jakarta. Dari mereka para orang tua jika pernah kesana mungkin akan banyak bercerita tentang bagaimana menghabiskan waktunya di pantai itu untuk bersenang-senang.

Sampur ada sebelum berdirinya kawasan Ancol seperti sekarang, soal kapan persisnya  pemerintahan Belanda dulu menetapkan Pantai Sampur sebagai objek wisata masih belum diketahui dengan pasti. Namun  seorang arkeolog yang pernah mengabiskan masa kecilnya di Sampur mengisahkan pantai sampur sudah dijadikan sebagai pantai wisata pada abad ke-19 ketika sudah terbentuk kotapraja Batavia dan di sana banyak berdiri rumah bergaya Indies.

 Setelah dijadikan sebagai objek wisata pantai, Sampur menjadi objek wisata yang paling terkenal di Batavia dan jadi pilihan utama di teluk jakarta dan juga tempat melancong orang-orang Eropa. Pantai ini sangat disukai oleh noni-noni dan sinyo-sinyo untuk menghabiskan waktu. Tak ketinggalan masyarakat pribumi pun banyak berkunjung ke pantai ini kala sore hari  karena amat indahnya, di sampingnya Cilincing yang masih jadi kampung nelayan yang bersih. Dari Zandvoort bisa dilihat sunset yang membuat hati terasa damai.

Pantai Sampur memang lebih mirip dermaga. Pantai itu bukan pantai perpasir dan landai seperti Pantai Ancol. Penguasa Belanda memberinya nama pantai zandpoort yang terinpirasi dari nama pantai Zanvoort di Harlem, Belanda. Namun karena lidah pribumi tidak fasih melafalkan kata dari bahasa Belanda itu, terciptalah Zanpoort menjadi Sampur. 

Selepas Indonesia merdeka, pantai ini pun masih berfungsi dan ramai dikunjungi oleh mereka yang ingin bersenang-senang pada tahun 1950-an sampai 1970-an. Sampai akhirnya roda zaman menyentuhnya,   Pantai Sampur pun berubah menjadi area pendukung Pelabuhan Tanjung Priok. Sekitar tahun 1990, pantai itu  berubah fungsi menjadi tempat penimbunan kontainer, jadilah sekarang Pantai Sampur hanyalah tinggal kenangan. (berbagai sumber)

Antara Belanda Kecil dan Batu Bara di Sawahlunto

#

Anda yang tinggal di Sumatera Barat, tepatnya di Sawahlunto mungkin sudah tak asing lagi dengan arsitektural bangunan kota itu. Nah, bagi yang belum pernah ke Sawahlunto, mungkin bisa di lain waku datang kesana dan merasakan sensasi anda berada di sebuah kota yang disebut sebagai belanda kecil.

Mengapa Belanda kecil? Ya, karena banyak yang menyebutkan kota ini  terdapat bangunan-bangunan yang beraristektur seperti bangunan di negeri Belanda, salah satunya adalah Walikotanya sendiri. Seperti yang saya kutip dari situs berita travel, ia bilang hampir seluruh bangunan yang ada di Sawahlunto bergaya barat, seperti bangunan yang ada di Belanda. Suasana Belanda dipertahankan karena hingga pada 1990-an, masih ada ratusan warga keturunan Belanda yang tinggal di kota ini.
sumber foto: www.sawahluntokota.go.id
Belanda Kecil
Benar saja, jika dilihat dari banyaknya gedung di kota arang ini menunjukkan unsur “belanda”, mulai dari Gereja, sekolahan, gedung pemerintahan dibangun dengan arsitektur ala barat, bahkan sampai Museum Kereta Api Sawahlunto.

Museum ini sebelum dijadikan sebagai museum, tadinya merupakan  stasiun kereta yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1918. Museum Kereta Api Sawahlunto ini merupakan satu-satunya museum kereta api yang ada di Sumbar dan museum kereta api ketiga di Indonesia setelah Ambarawa dan Museum Transportasi di Taman Mini Indonesia Indah.

Selain Museum Kereta Api, ada pula Gedung Pusat Kebudayaan yang terletak di Jl. Ahmad Yani No. 4.  Tak kalah tuanya dengan museum itu, gedung ini juga dibangun pada tahun 1910 dengan nama "Gluck Auf" dan memiliki luas 870 meter persegi.

Gedung ini dulunya berfungsi sebagai gedung pertemuan (Societeit), dimana para pejabat pemerintah kolonial pertambangan berkumpul untuk menghibur diri sekaligus berolahraga di salah satu sisi bangunannya yang dijadikan sebagai tempat bermain olahraga boling dan biliar bagi para pejabat Belanda.

Tak hanya kedua bangunan itu, ada lagi bangunan yang bernama Goedang Ransum yang kini telah menjelma tidak lagi sebagai tempat dapur umum, melainkan menjadi sebuah museum. Bangunan ini didirikan pada tahun 1918. Seperti namanya,  Goedang Ransum dibangun sebagai dapur umum, tempatnya memasak para koki untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi pekerja tambang. 

Belum cukuplah sampai di sana, Sawahlunto juga mempunyai Masjid Raya Sawahlunto yang bersejarah lantaran sama seperti bangunan-bangunan di atas yang dibangun pada zaman pemerintahan kolonialis Belanda. Tahun 1894 bangunan ini didirikan  sebagai pusat energi listrik PLTU (power plan) di Kubang Sirakuak untuk menggerakan berbagai mesin mempercepat proses penambangan dan pengangkutan batubara. 

Bangunan ini terus berevolusi perihal fungsi dan peranannya, tempat ini pernah menjadi gudang dan perakitan senjata dimasa revolusi dimana terdapat bungker yang dipergunakan oleh para pejuang kemerdekaan sebagai tempat penyimpanan senjata seperti granat senjata api lainnya. Dan akhirnya  tahun 1952 pada bekas bangunan PLTU yang megah itu, dibangun tempat peribadatan muslim, (sekarang Mesjid Raya Kota Sawahlunto). Sedangkan bekas menara cerobong asap PLTU yang berketinggian lebih dari 75 meter dijadikan menara mesjid.

200 Juta Ton Batubara
Orang-orang Belanda banyak mendirikan bangunan disini  karena daya tarik dari Sawahlunto, yaitu kekayaan alamnya yang berupa kandungan batu-bara yang melimpah ruah. Sawahlunto dalam penelitian yang pernah dilakukan De Greve pada tahun 1867 menyebutkan, kandungan batu bara di kota itu mencapai  200 juta ton batu bara. Kandungan batu bara itu berada di sekitar aliran Batang Ombilin, salah satu sungai yang ada di Sawahlunto.

Setelah hasil penelitian itu diumumkan di Batavia pada tahun 1870,  pemerintah Hindia-Belanda pun mulai membuat perencanan soal pembangunan sarana dan prasarana yang dapat memudahkan eksploitasi batu bara di Sawahlunto. 

Pembangunan dimulai selang beberapa tahun kemudian dan kota ini  mulai memproduksi batu bara pada tahun 1892. Syahdan. Sawah lunto menjelma menjadi kawasan permukiman para pekerja tambang , dan terus berkembang menjadi sebuah kota dengan rata-rata penduduknya berprofesi  sebagai pegawai dan pekerja tambang. 

Di tahun 1889, pemerintah Hindia-Belanda mulai membangun jalur kereta api menuju Kota Padang untuk memudahkan pengangkutan batu bara keluar dari Kota Sawahlunto. Jalur kereta api tersebut mencapai Kota Sawahlunto pada tahun 1894, sehingga sejak angkutan kereta api mulai dioperasikan produksi batu bara di kota ini terus mengalami peningkatan hingga mencapai ratusan ribu ton per tahunnya. Wow!!!(berbagai sumber) 

Kunjungilah 6 Museum Terbaik di Jakarta!

#

Anda mungkin bertanya enam museum terbaik di Jakarta itu adalah versi siapa? hmmm, atau mungkin anda akan bertanya juga, dikatakan sebagai museum terbaik itu dilihat kriterianya seperti apa dan siapa yang berhak menilainya? Bukankah semua museum mempunyai ciri khasnya masing-masing? tak ada yang unggul melebihi museum lainnya karena setiap museum mempunyai keunikannya sendiri, terlebih lagi  jika itu diletakkan dalam konteks benda-benda koleksinya.

Ok, pertanyaan anda sah-sah saja terlontarkan, namun baru-baru ini tepatnya beberapa bulan yang lalu diadakan semacam acara penghargaan bagi museum-museum terbaik yang ada di Jakarta. Acara itu  dikenal dengan nama Museum Awards 2012 yang diselenggarakan atas kerjasama Pemprov DKI Jakarta dengan komunitas Jelajah di Jakarta. Penghargaan ini diadakan tak lebih untuk memancing rasa apresiasi masyarakat terhadap keberadaan suatu museum. 

Yup, seperti yang diketahui banyak orang sekarang merasa  tak perduli dengan adanya museum di sebuah kota, semisal Jakarta. Puluhan museum berdiri di kota ini, tapi jari pun terhitung hanya beberapa orang saja yang berkunjung setiap harinya mungkin. Ironitas akan terasa panjang jika dibahas kenapa museum sangat jarang dikunjungi, di saat banyak dari kita mempunyai waktu sekedar menambah pengetahuan dengan menjelajahi ke museum?   ironis memang tinggal ironis, tapi tanpa panjang lebar lagi mari sekarang kita lihat dimana sajakah ke-enam museum terbaik se-Jakarta menurut Museum Awards 2012 itu berada

Museum Harry Darsono 
Museum ini letaknya di belakang Cilandak Town Square dan menang sebagai Museum Terbaik kategori Penataan Koleksi. Museum Harry Darsono dapat dikategorikan sebagai museum fashion yang mana untuk museum yang masuk jenis ini cukup langka keberadaannya di Indonesia. Bahkan dapat dikatakan museum ini merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia.

Museum Harry Darsono ini mengesankan keanggunan, baik dari luar maupun dari dalam bangunan. Dari segi arsitekturnya  mengesankan sebuah bangunan yang sangat kuno, elegan, klasik dan abadi. Begitu pun warna dinding, hiasan eksterior, juga tanaman yang menghiasi, memberikan pesona yang elegan dan antik.

Di museum Harry Dharsono anda dapat melihat karya-karya fenomenalnya dari yang beraneka bentuk karya, terutama yang berhubungan dengan rancang busana, asesoris, dekorasi interior sebagai setting dimana gaun ciptaannya bisa dikenakan dalam suatu yang elegan.  Gaun-gaun Harry selama ini dikenal sebagai rancangan yang berkelas, haute couture atau adibusana, serta kontemporer yang tetap elegan. 

Selain itu Anda dapat melihat berbagai karyanya sejak tahun 1970, bahkan yang sempat  go international. Sebut saja karya adibusananya, koleksi art to wear, kostum panggung kontemporer yang pernah ditampilkan untuk pergelaran karya-karya Shakespeare, seperti Hamlet & Othello yang pernah ditampilkan di Woodbridge, Suffolk, Inggris (1980), serta Julius Caesar di Jakarta (1997), tampil memukau di salah satu sudut ruangan yang bermandikan cahaya kristal.

Terdapat pula gaun-gaun adibusana, seperti baju dan gaun pengantin dengan sulaman emas murni yang pernah dipesan oleh wanita-wanita bangsawan dunia. Anda akan melihat rancangan khusus untuk Lady Diana yang dibuatnya pada 1980 dan rancangan untuk Ratu Rania, Ratu Yordania.

Karya-karya fashion Harry Darsono selain elegan, kadang spektakuler. Hal ini didukung latar belakang pendidikan dan pengalamannya yang luas. Pria kelahiran Surabaya, 19 Maret 1950 ini pernah studi di Ecole Des Beoux di Paris, Prancis, Fashion Marchandising & Clothing Technology di London College of Fashion, Inggris, lalu London Film & TV Academy untuk Stage Production di London, Psychology di Christchurch College, Oxford, Inggris Phd dalam Humanistic Philosophy.

Selama 30 tahun berkarier, karya-karya Harry Darsono berhasil membuat semua orang berdecak kagum, tak hanya di Indonesia tetapi juga seluruh dunia. Selama ini mungkin banyak yang mengira karya-karyanya tersimpan rapi di lemari, tak tersentuh oleh sembarang orang. Nyatanya, tidak demikian. Harry mempersilakan publik menikmati koleksi masterpiece-nya.

“Memasuki museum saya, Anda akan tahu bahwa ada anak manusia yang mengawali semuanya dengan keterpurukan, kebisuan, dan kenakalan. Saya pernah diidentifikasi sebagai anak ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder). Inilah yang membuat saya bersemangat membuat museum. Saya bisa menghimpun anak ADHD untuk berkarya di dalam museum ini,” tuturnya. Sungguh mulia!

Museum Art One Mondecor
Museum Art One Mondecor ini menang sebagai Museum Terbaik kategori Saran dan Fasilitas Pengunjung. Mungkin banyak dari kita masih dengan asing dengan keberdaan museum ini, tapi tahu kah anda ternyata benih-benih museum ini sudah ada puluhan tahun yang lalu tepatnya tahun 1983 di Jakarta.

Di tahun itu Martha Gunawan melalui Mon Decor-nya merintis bisnis seninya yang berangkat dari konsep seni sebagai kesatuan interior. Pesatnya perkembangan  seni  rupa  memberikan  inspirasi  bagi  Mon  Decor  untuk  turut  serta mengembangkan seni rupa Indonesia dan aktif  mencari sekaligus menyaring seniman muda yang berbakat.

Tahun 2009, Mon Décor menambah sebuah ruang pamer yang lebih representatif, luas, dan mudah diakses di City Plaza, Wisma Mulia, Jl. Jend Gatot Subroto No 42 Jakarta dengan luas 1.000 meter persegi. Di lokasi itu kemudian dibangun ruang kontemporer bernama MD Art Space yang diresmikan pada tanggal18 Oktober 2011.

Dengan ruang pamer tetap berukuran 750 m2 dan ruang pamer temporer seluas 350 m2, MD Art Space, siap melayani kebutuhan klien serta seniman. Seluruh ruang galeri tersebut ditujukan sebagai tempat showcase bagi karya-karya pilihan dari berbagai aliran dan teknik Setiap bulannya diselenggarakan pameran temporer yang menjadi program yang berjalan secara kontinyu.

Museum Wayang
Nah, bagi anda yang sering hilir mudik di kawasan kota tua, pasti sudah tidak asing lagi dengan museum yang satu ini. ya, museum wayang namanya yang berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Museum Terbaik Kategori Kreativitas dan Inovasi Layanan.

Gedung Museum Wayang yang dulunya bernama de Oude Hollandse Kerk ini Anda dapat  melihat koleksi-koleksi wayang dari seluruh Nusantara dan berbagai dari  negara. Terdapat berbagai macam koleksi mulai dari koleksi-koleksi wayang  yang terbuat dari kayu dan kulit maupun bahan-bahan lain dari daerah-daerah di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Bali, Lombok, Sumatera yang terdiri atas wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber dan gamelan.

Tidak hanya wayang lokal asli Indonesia saja melainkan anda bisa juga melihat wayang-wayang berasal dari luar negeri antara lain Malaysia, Suriname, Kelantan, Perancis, Kamboja, India, Pakistan, Vietnam, Inggris, Amerika dan Thailand. Jumlah koleksinya kurang lebih 5.147 buah yang diperoleh dari pembelian, hibah, sumbangan atau titipan.

Menilisik sedikit historisitas Museum Wayang ini, awalnya gedung ini sebelum dijadikan museum adalah sebuah gereja lama Belanda yang dibangun pada abad ke-17. Seiring berjalannya waktu bangunan gereja itu pernah hancur akibat gempa.  Namun, kemudian gedung itu dibangun kembali oleh Bataviasche Genootshap van Kunsten en Wetenschappen, yaitu lembaga yang menangani pengetahuan dan kebudayaan Indonesia. Oleh lembaga itu, gedung tersebut diserahkan kepada Stichting Oud Batavia pada 22 Desember 1939 dan dijadikan museum dengan nama Oude Bataviasce Museum.

Nah, di tahun 1957 gedung ini diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia. Selanjutnya kembali diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 1962. Oleh Depdikbud, pada tahun 1968 kembali diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta untuk dijadikan Museum Wayang. Museum Wayang sendiri akhirnya diresmikan pada 13 Agustus 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu, Ali Sadikin.

Museum Kathedral Jakarta
Berada tak jauh dari Masjid Istiqlal, Museum yang satu bangunan dengan Gereja Katedral ini berhasil menyebet penghargaan Museum Terbaik kategori Bangunan Cagar Budaya. Museum Katedral terletak di balkon utama gereja yang biasanya digunakan jemaat untuk misa. Sebelum dijadikan museumlantai balkon tersebut digunakan untuk koor gereja, namun saat ini dimanfaatkan untuk ruangan memajang koleksi Museum Katedral Jakarta.

Salah satu koleksi yang menarik untuk dlihat adalah pakaian rohaniawan Katolik yang tersimpan dengan baik di dalam beberapa kotak kaca. Di dalam kotak kaca tersebut kita dapat melihat jubah, topi dan kasula berbagai warna. Kasula merupakan lapisan terluar busana yang biasa digunakan rohaniawan katolik. Kasula berwarna putih biasa dikenakan untuk ibadah sehari-hari, dan kasula yang berwarna merah dan ungu biasa digunakan untuk acara duka cita, seperti paskah dan misa tutup peti.

Tak hanya itu di museum ini ada pula Tongkat Paus Paulus VI dan Piala Paus Yohanes Palulus II yang sengaja ditinggal untuk kenang-kenangan saat mereka mengunjungi Indonesia juga cukup menarik untuk dilihat. Selain itu, jika anda penasaran ingin melihat salah satu lukisannya Kusni Kasdut (penjahat kelas kakap yang dihukum mati pada tahun 1980, museum ini juga menyimpan lukisan bergambar gereja yang diukis oleh) yang ia buat dari pelepah pisang, cukup menarik bukan?

Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah
Museum ini sudah tak asing lagi didengar oleh kita, terutama yang ber KTP Jakarta. Jadi pantaslah jika Museum ini menang sebagai Museum Terpopuler. Museum yang diresmikan pada tanggal 30 Maret 1974 oleh Ali Sadikin (mantan Gubernur DKI Jakarta) ini mempunyai benda koleksi yang ada mencapai jumlah 23.500 yang Terdiri atas ragam bahan material baik yang sejenis maupun campuran, meliputi logam, batu, kayu, kaca, kristal, gerabah, keramik, porselen, kain, kulit, kertas dan tulang. 

Selain itu di museum ini juga terdapat sketsel, patung Hermes, pedang eksekusi, lemari arsip, lukisan Gubernur Jenderal VOC Hindia Belanda tahun 1602-1942, meja bulat berdiameter 2,25 meter tanpa sambungan, peralatan masyarakat prasejarah, prasasti dan senjata. Umur koleksi di sana ada yang mencapai lebih 1.500 tahun khususnya koleksi peralatan hidup masyarakat prasejarah seperti kapak batu, beliung persegi, kendi gerabah. Bagi anda yang pernah tahu meriam legendaris dengan lambang kesuburan yang berada di belakang meriam. Ya disinilah anda bisa menemui sebuah Meriam si Jagur, meriam yang konon katanya dianggap mempunyai kekuatan magis.

Koleksi benda-benda museum yang berada di kawasan kota lama ini dipamerkan di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Sultan Agung, Ruang Fatahillah, dan Ruang M.H. Tamrin. Bagi pengunjung yang ingin menikmati koleksi museum akan dimudahkan oleh tata pamer Museum Sejarah Jakarta. Tata pamer tersebut dirancang berdasarkan kronologi sejarah, yaitu dengan  cara menampilkan sejarah Jakarta dalam bentuk display. Koleksi-koleksi itu pun ditunjang secara grafis oleh foto-foto, gambar-gambar dan sketsa, peta, dan label penjelasan agar mudah dipahami berdasarkan latar belakang sejarahnya

Museum Bank Indonesia
Nah, kalau Museum ini adalah pemenang untuk Museum Terbaik 2012. Kali pertama berkunjung pada akhir pekan  yang lalu setelah melihat ada ultah dewa di sepanjang jalan Hayam Wuruk, kesan pertama yang ditangkap setelah masuk ke dalamnya adalah museum ini memang berbeda dengan museum-museum yang ada di Jakarta.

Baik penyajian atau pun penataan benda koleksinya cukup apik, ditambah lagi dengan adanya seperangkat alat-alat komunikasi modern yang membantu kita untuk menelusuri informasi seputar sejarah perbankan di Indonesia ataupun Bak Indonesia itu sendiri.  Peluh pun dapat tertahan tanpa harus menetas dari tubuh, tak seperti cuaca di luar gedung museum saat itu karena pendingin ruangan di museum ini bekerja dengan baik dan dapat menyejukkan anda.

Tak ketinggalan  ada satu yang menarik, di museum ini anda dapat masuk ke dalam rungan yang dulunya digunakan untuk menyimpan uang. Bisa dibayangkan bagaimana bentuk pintu masuknya bukan? besi yang sangat tebal entah berapa ketebalannya. Nah, di dalam ruangan ini anda dapat melihat koleksi-koleksi uang dalam negeri maupun uang dari berbagai negara. Berada dalam kaca tebal, anda dapat melihatnya dengan memakai  kaca pembesar yang telah disediakan oleh pihak museum. 

Sedikit mengenai sejarahnya, museum ini awalnya merupakan sebuah rumah sakit Binnen Hospitaal, lalu kemudian digunakan menjadi sebuah bank yaitu De Javashe Bank (DJB) pada tahun 1828. Lalu setelah kemerdekaan yaitu pada tahun 1953, bank ini di-nasionalisasikan menjadi bank sentral Indonesia atau Bank Indonesia. 

Tapi tidak lama, yaitu tahun 1962, Bank Indonesia pindah ke gedung yang baru. Gedung ini dibiarkan kosong, namun dewan gubernur BI menghargai nilai sejarah yang tinggi atas gedung tersebut, sehingga memanfaatkan dan melestarikannya menjadi Museum Bank Indonesia. Museum ini diresmikan pada 15 Desember 2006 oleh Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah. (berbagai sumber)

Ups!, ada Situs Megalitik Namanya Batu Berak

#

Coba anda perhatikan nama dari situs bersejarah yang satu ini? sedikit aneh bukan namanya seperti mengindikasikan sesuatu yang sedikit jorok dan berbau.  Maaf, berak seperti yang diketahui bahwa berak itu merupakan kata lain dari buang air besar atau buang hajat dan ini merupakan aktivitas keseharian kita dikala di kamar mandi.

Nah, untuk sebuah situs sejarah nama ini memang sedikit menggelikan, pikiran pun bertanya ada apa gerangan dengan situs yang dinamakan sebagai batu berak. Apakah batu itu dapat “berak”? pertanyaan konyol yang jelas tidak mungkin, karena batu itu bukanlah seperti manusia. Lantas kenapa dinamakan sebagai Batu Berak? Selancar kesana kemari, tak ada jawaban yang bisa menjelaskan perihal asal usul namanya itu.  Cukuplah perihal asal usulnya itu masuk dalam kategori masih misteri alias jawabannya belum ditemukan sekarang ini.

Situs Batu Berak: Tempat Pemujaan
Terlepas dari namanya itu, situs ini kali pertamanya ditemukan pada tahun 1951 oleh BRN (Badan Rekonstruksi Nasional). Setelah situs ini ditemukan, barulah selang beberapa tahun kemudian dimulai penelitian. Penelitian pertama dimulai pada tahun 1980 oleh Penelitian pertama dimulai pada tahun 1980 oleh Prof.Dr.Aris Soekandar seorang arkeolog dari Jakarta. 

Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa situs megalitik Batu Berak ini dahulu dipakai sebagi tempat pemujaan, bukan tempat pemakaman pada zaman animisme. Situs ini telah melalui pemugaran selama empat tahap, yang dimulai pada tahun 1984 hingga 1989. Pada tahun 1989, komplek situs megalitik batu berak ini mulai dibuka untuk umum baik untuk wisata maupun untuk keperluan penelitian.

Terdapat beberapa jenis batu didalam komplek situs megalitik batu berak ini, antara lain Batu tegak yang berjumlah 40 buah, berbahan batu andesed, dan  berfungsi sebagai tempat mengikat hewan kurban pada waktu upacaran keagamaan pada masa animisme.  Dolmen atau meja berjumlah 38 buah, berbahan batu moneled, dan berfungsi sebagai tempat menaruh sesajen pada waktu upacara keagamaan masa animisme, Batu datar, dan Batu Umpak.

Saat-saat tertentu seperti pas waktu liburan atau akhir pekan situs ini tidak jarang didatangi para warga lokal maupun luar desa karena memberikan suatu daya tarik tersendiri, dimana penempatan batu yang unik yang sedikit bersifat mistis tetapi mempunyai nilai seni yang tinggi, membuat situs ini menjadi tempat yang ramai diijamah warga.

Lokasi Situs Batu Berak
Situs megalitik Batu berak berada di salah satu desa di Kecamatan Kebon Tebu, Kabupaten Lampung Barat. Selain situs ini, beberapa situs megalitik lainnya juga terdapat di Kecamatan Kebon Tebu ini antara lain, Batu Jagur, Batu Tameng bertempatkan di Pekon Purajaya, Batu Jaya bertempatkan di Muara Jaya 2, Telaga Mukmin bertempatkan di Pekon Puramekar, Cakung Dua atau Batu Bergores bertempatkan di Bungin, dan Air Ringkih bertempatkan di Gunung Terang. (berbagai sumber)

Mencari yang Lama di Pasar Buku Langka

#
Anda yang minatnya tinggi terhadap  buku-buku berat sekaligus berkelas apalagi sarat dengan nilai historisnya. Tak ada salahnya jika pacu kendaraan anda untuk singgah dan memanjakan diri dengan tumpukan buku-buku kuno yang ada di Pasar Buku Langka di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.
            Yup, lokasinya mudah ditemukan karena berada persis disamping Anjungan Papua. Tinggal ikuti petunjuk arah dimana Anjungan Papua berada, sampailah anda di lokasi. Disana telah tertera tulisan pasar buku langka, nah pakirkan kendaraan anda di depan atau di samping lokasi, jalanlah sebentar. Deretan ruko-ruko berjumlah delapan buah yang penuh dijejali dengan buku-buku pun akan menyambut anda.
foto: www.isnuansa.com
            Menyoal buku tua disana apa saja buku-buku  tua ditempat ini? tapi sebelumnya,  tahukah anda terlebih lagi apabila anda pernah ke gebyar buku tahunan yang saban kali  diadakan di Gelora Bung Karno beberapa waktu lalu menjelang hari lahir kota Jakarta. Nah, disana ada sensasi spanduk yang terpampang di salah satu stand buku yang ada, serat centini seharga 5 milyar. Wow, siapa yang tidak tercengang melihat harga milyaran seperti itu. Dan hanya stand buku langka Taman Mini saja yang berani memasang harga milyaran itu untuk sebuah karya tulis, sebuah apresiasi
            Ok, kembali kepada yang kuno-kuno, di tempat ini  pernah memperjualbelikan sebuah buku yang berjudul Oud Surabaia yang  diterbitkan pada tahun 1931 leh Gemeente Surabaia yang disusun oleh G.H. Von Faber. Cukup tebal bukunya yaitu 424 halaman dan  berukuran 24.5 x 32.5 cm.
Buku ini menceritakan keadaan Surabaya mulai abad 15 sampai 20, dilengkapai dengan ratusan gambar hitam putih ditambah 3 buah peta keadaan Surabaya th. 1825, 1866 dan 1905. Selain itu ada pula buku Oud en Nieuwe Oost Indnen karya Valentijn terbitan tahun 1720 dan kedua, karya Rumphius G.E. Amboinsch Kruik-Book 1747.
Selain itu ada juga buku karya sejarawan Indonesia Prof. DR. Sartono Kartodirdjo yang berjudul Pemberontakan Petani Banten 1888. Buku wajib para mahasiswa sejarah ini mengupas masalah perlawanan kaum muslim terhadap tingkah laku para punggawa kolonialis Belanda pada th. 1888 di Cilegon, termasuk penelitian lengkap mengenai penyebab terjadinya pemberontakan.
            Nah, bagi anda penggemar berat Presiden Pertama RI Soekarno, di tempat inilah anda bisa mencari buku-buku buah karyanya. Sebut saja adari buku di Bawah Bendera Revolusi yang harganya penah melonjak sampai jutaan tapi sekarang hanya ratusan ribu saja, Sarinah sampai buku yang berjudul "Kepada Bangsaku", diterbitkan oleh Panitia Pembina Djiwa Revolusi. Buku ini berisi karya2 Bung Karno dar tahun 1926 sampai 1957, diterbitkan th. 1963, setebal 449 halaman. Selain itu Ada pula buku-buku yang ketika era Soeharto di larang atau tidak boleh diedarkan di masyarakat, macamnya buku karangan Revoluis Rusia, Lenin atau pun buku yang lainnya.
            Dan tentu saja masih banyak sekali buku-buku tua yang diperjualbelikan disana, tapi patut juga diingat apabila anda ingin belanja  di pasar buku langka. Sebelunm kesana, mampirlah sejenak  ke ATM terdekat untuk mengambil sejumlah cash karena harga jual buku-buku lanhgka dan tua itu terbilang tidak murah. Ya memang tergantung jenis bukunya, tapi tetaplah tangan anda harus merogoh kantong celana atau baju anda bukan. (berbagai sumber)

Benteng Portugis di Indonesia

#
Kenapa banyak sekali benteng-benteng peninggalan bangsa portugis di wilayah timur Indonesia, dan jarang sekali kita temukan di barat Indonesia? Ya, mungkin jawabnya karena dulu di wilayah timur Indonesia kaya akan rempah-rempah yang sangat diperlukan oleh bangsa portugis, entah untuk dikonsumsi sendiri atau di perdagangkan kembali
          Saking banyaknya rempah-rempah mereka lantas tergiur untuk membawanya. Namun perjalanan dari nusantara ini ke negaranya memakan waktu yang sangat lama terlebih lagi kapal yang mereka naiki jelas-jelas berbeda dengan kapal zaman sekarang. Alih-alih butuh tempat sementara untuk menetap dan mengatur segala sesuatu termasuk urusan administratifnya, mereka pun membuat benteng disamping sebagai tempat untuk menyimpan rempah-rempahnya.
Ukuran benteng yang mereka buat pun tidak  kepalang kecil melainkan berukuran besar yang terbuat dari material yang kokoh, cukup untuk menampung orang-orangnya dari mereka yang hanya sekedar kuli angkut sampai perwira atasan. Benteng pun kerap dilengkapi dengan sistem pertahanan dari senjata sampai meriam-meriam untuk mempertahankan diri apabila diserang oleh rival dagang atau pun masyarakat lokal. Nah, dimana saja kah daerah-daerah di Nusantara ini yang banyak benteng portugisnya:
             Pertama ada di Benteng Portugis yang bernama Benteng Tohula yang tepat berada di tengah kota Tidore. Benteng Portugis Tohula berasal dari nama pelabuhan Tohula hasil karya arsitektur Spanyol yang letaknya tepat didepan benteng.  Dari benteng ini memang akan bisa melihat dengan jelas wilayah pantai sehingga pergerakan kapal musuh bisa terpantau sejak dini.
Benteng Tohula
Selain Benteng Tohula, di Tidore ada pula  Benteng Benteng Tore yang juga merupakan sisa peninggalan Portugis dan Belanda.Kedua benteng ini letaknya berdekatan, sama-sama di pusat kota serta dekat dengan Kedaton Kie, Singgasana Sultan Tidore.
Beralih ke Maluku tepatnya di Pulau Neira, disana  Benteng Belgica. Benteng ini pada awalnya adalah sebuah benteng yang dibangun oleh Portugis pada sekitar abad-1. Lama setelah itu, di lokasi benteng Portugis tersebut kemudian dibangun kembali sebuah benteng oleh VOC atas perintah Gubernur Jendral Pieter Both pada tanggal 4 September 1611. Benteng tersebut kemudian diberi nama Fort Belgica, sehingga pada saat itu, terdapat dua buah benteng di Pulau Neira yaitu; Benteng Belgica dan Benteng Nassau. Benteng ini dibangun dengan tujuan untuk menghadapi perlawanan masyarakat Banda yang menentang monopoli perdagangan pala oleh VOC.
Kemudian ada pula Benteng Tolukko merupakan salah satu benteng peninggalan Portugis yang berada di wilayah Maluku Utara khususnya di Ternate. Portugis ini mulai masuk dan menduduki wilayah Ternate sejak tahun 1512 dan benteng dibangun dengan tujuan sebagai tempat pengamanan misi dagang mereka serta kepentingan pengintaian musuh, bangunan ini mulai di bangun oleh Portugis pada tahun 1540.
Awal mula pembentukan benteng ini diberi nama Benteng Santa Lusia yang dibangun oleh Fransissco Serrao, salah satu yang menarik di Benteng Tolukko adalah ada suatu ruangan bawah tanah yang langsung tembus ke wilayah laut di sekitar benteng namun ruangan ini sekarang telah ditutup dengan alasan tertentu, hal ini juga di buat sebagai salah satu upaya portugis untuk menghindar dari musuh.
Benteng Tolukko
Pada tahun 1533 terjadi sebuah pemberontakan oleh rakyat Maluku, ini menghasilkan perebutan Benteng Tolukko, dan yang akhirnya Benteng Tolukko di duduki oleh pihak Indonesia. Tak lama Indonesia mendududuki benteng, bangsa Belanda mulai masuk dan akhirnya benteng ini pun direbut oleh pihak Belanda, tepatnya pada tahun 1602, tahun 1610 beberapa bagian benteng dilakukan renovasi oleh Belanda.
Penyebutan Benteng Tolukko dilakukan karena adanya sultan Ternate, yaitu Sultan Mandar Syah yang memeberikan penghormatan kepada Tolukko, sehingga makalah benteng ini disebut benteng tolukko.
Di Kota Ternate juga ada Benteng peninggalan Portugis yang bernama Benteng Gamlamo di daerah Kastela yang dibangun pada tahun 1522. Begitu pula dengan Benteng Kota Janji yang terletak di Selatan pusat kota Ternate. Berdekatan dengan Benteng Kota Janji ada Benteng Kalamata yang berdiri dekat dengan garis pantai dan dibangun pada tahun 1540.  (berbagai sumber)

Wisata di Rutan, siapa Takut?

#
Pasti mendengar kata penjara, pikiran anda langsung tertuju pada sesuatu yang angker dan seram. Penjara tempat berkumpulnya para kriminal dengan berbagai macam jenisnya dari mulai perampok, pemerkosa, pembunuh sampai dengan mereka yang suka nilep uang rakyat alias koruptor.
           Akan tetapi apakah penjara bisa diidentikan selamanya dengan hal semacam itu, hmmmm tidak juga, Pasalnya langkah yang akan diambil pihak Rutan Tanjungpinang untuk mengubah rutan menjadi semacam tempat objek wisata merupakan suatu pengecualian yang jarang terjadi di Indonesia ini.
            Mungkin terinispirasi dengan penjara yang ada di Kroasia yang bernama Penjara Lepoglava. Penjara yang berada di wilayah utara kota Varazdin ini ini menawarkan ruangan selnya sebagai salah tujuan wisata bagi turis yang datang ke negara tersebut, atau mungkin terinspirasi dari kesadaran kolektif bahwa Rutan Tanjungpinang  merupakan rutan tua nan bersejarah yang patut dilestarikan.
Namun terlepas dari mana terispirasinya, Rutan yang berada di jalan arah RSUD gang Pemasyarakatan No 08 di Tanjungpinang Barat ini kata kepala rutannya nantinya akan dijadikan objek wisata bersejarah dan terbuka, baik untuk wisatawan lokal dan asing di hari minggu. Tujuannya cukup mulia yaitu ingin menghilangkan sifat keangkeran dari sebuah rutan dan membalikkan keadaan menjadi sesuatu yang ekonomisnya sifatnya, sekaligus memberikan pembelajaran sejarah kepada para pengunjungnya.
Nantinya akses bagi wisatawan akan dibuka khusus pada hari minggu di luar jam besuk bagi tahanan atau warga binaan pemasyarakatan (narapidana).  Nah, upaya serius pengurus Rutan ini pun sudah dibawanya kepada Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Depkumham) Provinsi Kepri dan telah direspon dengan baik.
Melongok dimensi historis bangunannya, Rutan ini cukuplah menjadi saksi sejarah dari laju perkembangan kota Tanjung pinang. Dibangun lebih dari satu abad yang lalu di tahun  1867, kokohnya bangunan masih terlihat, begitu juga dengan detail arsitek khas Belanda dan Portugis. Jendela, teralis, pintu gerbang, hiasan tembok dan relung relung ruangan tampak kuno sebagaimana paviliun peninggalan Belanda biasa ditemukan di Jawa
Ada juga sumur tujuh tingkat khusus mandi warga binaan. Sumur ini, merupakan bangunan lama yang dikenal cukup membuat bulu kuduk berdiri namun entah mengapa airnya selalu ada dan tidak pernah berkurang. Di Rutan sendiri ada dua lokasi faviliun, masing-masing bernama paviliun Penyengat dan Pavilium BintanSelain itu juga adaa kamar strap sel khusus untuk satu tahanan. Kamar yang dimaksud, merupakan salah satu bangunan tua yang sampai saat ini masih asli dan tidak ada perubahan sedikitpun. Rutan kuno ini sendiri berada di atas tanah 6.400 meter persegi dengan luas bangunan 2.100 meter persegi. Terdiri dari 13 kamar dan 7sel terbagi dalam dua blok hunian yaitu Blok Bintan dan Blok Penyengat. 
Dulunya tempat ini tidak hanya digunakan sebagai tempat memenjarakan orang saja melainkan tempat pembantaian orang-orang yang dianggap bersalah oleh Belanda, wow!!, bahkan pernah menjadi tempat menggantung orang. Mungkin, sudah tak terhitung lagi berapa kepala orang Indonesiayang pernah digantung disini.
Namun seiring perkembangan zaman, Rutan ini bertranformasi menjadi Rumah Tahanan Negara Kelas I Tanjungpinang hingga kini. Kini, Rutan ini merupakan Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) bidang Pemasyarakatan yang menjalankan fungsi penahanan untuk kepentingan penyidikan dan pemeriksaan pada sidang pengadilan. (berbagai sumber)

Plesiran Tempo Dulu di Jembatan Tua

#
Pernahkah anda melintasi jembatan merah yang berada di Surabaya? Kita melewatinya dan tanpa dinyana usia jembatan itu sudah pasti lebih tua dibanding dengan usia kita sendiri. Dibangun pada abad ke-18, pahit getirnya jembatan itu melewati babakan zaman dari masa penjajahan sampai republik ini merdeka pasti telah dirasakannya. Tetap berdiri  dan tak lekang di makan sang waktu yang memang tak bisa berhenti.

            Lantas bagaimana dengan jembatan-jembatan tua lainnya di Indonesia ini, mengecek laman internet di sana sini, eh ternyata banyak juga jembatan tua yang cocok dikunjungi dalam plesiran sejarah,  seperti Jembatan yang berada di propinsi Jambi ini. Adalah Jembatan  Sarolangundengan model khas eropanya. Jembatan ini juga dikenal dengan sebutan Jembatan Beatrixyang dibangun pada awal abad ke-20 ,sekitar tahun 1923 oleh pemerintah kolonial Belanda dengan menggunakan tenaga kerja asli pribumi melalui kerja rodi.

Jembatan "Beatrix"
       Fungsi jembatan itu dibangun adalah untuk menghubungkan langsung antara dua desa yang berseberangan yaitu  Desa Sri Pelayang dengan Kelurahan Pasar Sarolangun dengan panjang sekitar 100 meter. Dilihat dari fisiknya, konstruksi jembatan itu ditopang oleh  tiga tiang penyangga dengan empat ruas jembatan yang menyatu. 

        Nah soal nama jembatannya sendiri yaitu “Beatrix”  kemungkinan diambil dari nama salah satu ratu belanda yang lahir tahun 1938. Hal ini diperkuat dengan adanya prasasti saat peresmian jembatan itu pada tahun 1939, dimana ada tugu batu sejenis marmer  yang bertuliskan “Beatrix Brug”, pangkal jembatan dari arah pasar bawah Sarolangun.
       Penamaan jembatan tersebut mungkin merupakan hadiah atas lahirnya putri Beatrix Wilhelmina Armgard, yang tidak lain adalah anak dari  Putri Mahkota Juliana dari Belanda dan Pangeran Bernhard, yang lahir tahun 1938, setahun sebelum jembatan itu diresmikan.

Itu Jembatan Beatrix di Jambi, anda yang pernah atau tinggal di Surabaya pasti mengenal dengan jembatan yang satu ini, Yup adalah Jembatan Petekan yang merupakan sebuah jembatan tua peninggalan zaman Belanda yang terletak di bagian utara  Surabaya.

Jembatan Petekan
Jembatan ini bukan jembatan biasa karena dulunya adalah jembatan layang yang akan terbuka apabila ada kapal di bawahnya melintas. Jembatan itu dibangun sedemikian rupa sebagai jembatan gantung yang bisa dinaik-turunkan karena saat itu Sungai Kalimas menjadi jalur transportasi utama perahu dan kapal tradisional yang membawa barang ke kawasan perdagangan di Kembang Jepun.

 Sebelum jembatan itu dinamakan sebagai Jembatan Petekan,  oleh pihak Belanda jembatan itu dinamakan Jembatan Ophaalbrug dan di bangun oleh NV Braat and Co sekitar awal abad ke-20. Nah, entah kenapa kemudian nama jembatan itu berubah menjadi Jembatan Peteka. Petekan sendiri diambil dari kata dalam bahasa Jawa, Petek, yang artinya di pencet atau di tekan.

Selain Jembatan Petekan, masih di kota yang sama  ada juga Jembatan Gubeng yang tak kalah kesohornya yang telah mencapai umur 112 tahun. Jembatan yang menyeberangi sungai Kalimas depan Stasiun Gubeng ini menghubungkan daerah Gubeng dengan Jalan Pemuda (Simpang). Awalnya material konstruksi jembatan yang awalnya bernama Goebeng Brug ini bukan terbuat dari beton melainkan bambu dan kayu . Akan tetapi, lantas dibongkar dan dibangun lagi dengan menggunakan struktur besi sekitar tahun 1924.

Kita tinggalkan Surabaya, sekarang mari kita ke Jakarta ke kawasan  kawasan Pekojan, Jakarta Barat tepatnya di wilayah Tubagus Angke ada sebuah jembatan yang tidak dapat dilalui kendaraan roda empat. Disanalah Jembatan Kambing berada. Asal muasal namanya sendiri tidak bisa dilepaskan dari banyaknya kambing-kambing yang melintasi melewati jembatan itu. Lantas apa hubungannya dengan hewan yang satu ini?

Nah, daerah Pekojan sendiri  sampai dengan 1950-an mayoritas penduduknya adalah keturunan Arab yang sebagian besar berasal dari Hadramaut (salah satu wilayah di selatan Yaman). Besarnya jumlah komunitas keturunan Arab ini menyebabkan banyak pula pedagang kambing yang jualan di tepi Kali Angke itu. Dan para pedagang kambing ini sebagian besar juga keturunan Arab.

Namanya juga pedagang  kambing,  kambing-kambing yang didatangkan dari berbagai tempat, sebelum disembelih di pejagalan lebih dulu melewati jembatan Kali Angke yang memisahkan Pekojan dan Jl Tubagus Angke. Nah, dari kebiasaan hilir mudiknya kambing-kambing di jembatan itu maka dinamakan Jembatan Kambing.

Selain jembatan itu, di Jakarta juga ada jembatan yang bernama Jembatan Pasar Ayam yang terletak di  Kali Besar. di dekat Hotel Omni Batavia di Jalan Kali Besar Barat. Lagi-lagi memakai nama binatang untuk nama jembatan seperti nama jembatan diatas. Jembatan Ayam ini dibangun pada tahun 1628 dan dulunya diberi nama Engelse Brug” atau “Jembatan Inggris”.

Jembatan Pasar Ayam
Jembatan itu yang menempati lokasi yang menurut peta masa Gubernur Jenderal Van der Parra, merupakan pasar ayam dan sayuran, yaitu yang terletak di sebelah utara gereja lama Portugis (Binnenkerk). Lahan bekas pasar ayam itu kemudian dijadikan lokasi tempat perbaikan kapal. Karena Boom Besar dalam jangka panjang juga akan dibangun, maka pembesar kumpeni merencanakan lokasi untuk gudang-gudang di tepi Kali Besar itu. Karena itulah dibangun jembatan angkat, sehingga perahu-perahu yang mengangkut berbagai kebutuhan sehari-hari tetap dapat melewati Kali Besar.

Di kota kembang  Bandung, tepatnya di Jatinangor ada sebuah Jembatan yang bernama Jembatan Cincin. Jembatan Cincin dibangun oleh perusahaan kereta api Belanda yang bernama Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf pada tahun 1918. Jembatan Cincin ini pada awalnya dibangun sebagai penunjang lancarnya kegiatan perkebunan karet. Dus, Jembatan ini pun berguna untuk membawa hasil perkebunan.

Pada masa itu Jembatan Jatinangor menjadi salah satu roda penggerak perkebunan karet terbesar di Jawa Barat. Jembatan ini menjadi salah satu roda penggerak perkebunan karet terbesar di Jawa Barat. Dan sekarang ini jembatan cincin telah beralih fungsi sebagai jembatan penyeberangan penduduk setempat dan para mahasiswa yang tinggal di sana (kost) karena lokasinya yang berdekatan dengan kampus Universitas Padjadjaran di Jatinangor.

        Kita tinggalkan tanah Jawa menuju ke Sumatera, tepatnya di Payakumbuh di sana ada sebuah jembatan yang bernama Jembatan Ratapan Ibu. Kenapa namanya Ratapan Ibu? Ini masih menjadi misteri, namun Jembatan Ratapan Ibu adalah sebuah Jembatan tua yang dibangun pada tahun 1818

Jembatan ini memiliki panjang 40 meter dengan arsitektur kuno berupa susunan batu merah setengah lingkaran yang direkat dengan kapur dan semen tanpa menggunakan tulang besi. Jembatan ini melintasi Sungai Batang Agam, menghubungkan Pasar Payakumbuh dan nagari Aie Tabik. (berbagai sumber)

Jembatan Merah dan Pertumpahan Darah

#
Ada satu kesamaan kenapa jembatan-jembatan di bawah ini dikatakan sebagai jembatan merah, ya jembatan merah ini ternyata tidak hanya ada di kota pahlawan saja tetapi juga berada di wilayah lain Indonesia, misalnya di Bogor, Balikpapan, dan Kerinci walaupun tidak merah warnanya tapi masyrakat sekitar menyebutnya sebagai jembatan merah
            Merahnya sebutan bagi jembatan-jembatan itu karena sejarahnya yang kelam. Pasalnya, di jembatan itu dulunya pernah terjadi peristiwa pertumpahan darah antara pejuang Indonesia melawan penjajah di zaman revolusi fisik. Nah, dari saking banyaknya darah  para pejuang dan lawannya yang tumpah di jembatan itu, maka jembatan itu pun dinamakan Jembatan Merah.
            Yang pertama seperti yang kita ketahui adalah Jembatan Merah di Surabaya. Jembatan yang melintasi sungai Kalimas ini sungguh melegenda dan sepertinya tak ada satu pun orang Surabaya yang tidak mengenal jembatan ini.  Dibangun beratus-ratus tahun yang lalu, awalnya jembatan adalah jembatan kayu dan dibuat karena kesepakatan Pakubowono II dari Mataram dengan VOC tahun  11 November 1743. Dalam perjanjian disebutkan bahwa beberapa daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan ke VOC, termasuk Surabaya yang berada di bawah kolonialisme Belanda.
sumber foto: www.akumassa.org
Sejak saat itu daerah Jembatan Merah menjadi kawasan komersial dan menjadi jalan vital yang menghubungkan Kalimas dan Gedung Residensi Surabaya. Dengan kata lain, Jembatan Merah merupakan fasilitator yang sangat penting pada era itu.  Tak heran jika gedung keresidenan Surabaya saat itu dibangun tepat di ujung barat jembatan, agar pemerintah bisa langsung mengawasi kebersihan, keamanan dan ketertiban di sekitarnya.
Dalam perkembangannya, Jembatan Merah ini berubah secara fisik sekitar tahun 1890-an, ketika pagar pembatas diubah dari kayu menjadi besi. Saat ini, kondisi jembatan yang menghubungkan jalan Rajawali dan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya ini hampir sama seperti jembatan lainnya, dengan warna merah tertentu.
Nah, kenapa dimakan jembatan merah? Ya karena dilokasi tersebut pernah terjadi pertumpahan darah antara pejuang dengan penjajah.  Di tempat ini juga Brigadir A.W.S Mallaby, pemimpin angkatan bersenjata Inggris yang telah menguasai Gedung Internationale Crediet en Verening Rotterdam atau Internatio tewas terbunuh di tangan arek-arek Suroboyo. Jembatan Merah ini pun menjadi saksi bisu betapa gigih dan beraninya arek-arek Suroboyo dalam perang 10 November Surabaya melawan tentara Sekutu dan NICA-Belanda yang hendak menguasai kembali Surabaya.
Kedua ada Jembatan Merah di Balikpapan, masih di zaman perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1945-1947, Jembatan Merah ini juga menjadi saksi bisu  pertempuran para pejuang Balikpapan.
Saat itu para pejuang Balikpapan menggunakan taktik gerilya untuk melawan Belanda yang mencoba menguasai kembali Balikpapan. Nah, di jembatan ini kerap kali pecah pertempuran antara pejuang dan tentara Belanda. Tak pelak, jatuh korban dari pihak pejuang yang gugur dalam pertempuran dengan tentara Belanda di jembatan ini.
Setiap usai pertempuran, jembatan ini selalu penuh dangan bercak darah dari tentara Belanda dan pejuang yang terluka. Karena itu oleh para pejuang jembatan ini dikenal dengan nama Jembatan Merah. Jembatan Merah tersebut kini masih ada. Dan setiap harinya dilewati kendaraan yang melintas dari dan ke kebon sayur
Ketiga, Jembatan merah di Desa Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci ini. Akan tetapi walaupun jembatan itu dibilang sebagai jembatan merah, namun warna jembatan ini bukanlah  merah melainkan kuning.
Penamaan jembatannya sendiri sebagai jembatan merah karena dulunya, seperti kedua jembatan merah di atas jembatan ini dahulunya juga merupakan tempat pertumpahan darah dari pahlawan Kerinci dengan para penjajah.
Di jembatan itu banyak terjadi pertempuran karena pada Agresi Militer II tahun 1949, Belanda masuk ke desa Pulau Tengah dan membuat camp sekitar 50 meter berjarak dari jembatan. Nah, dengan adanya camp tentara Belanda di dekat jembatan tersebut membuat para petinggi Belanda menjadikan jembatan itu sebagai tempat untuk mengeksekusi penduduk Indonesia yang pro dengan republik.
Tentara Belanda tidak memberikan sedikit keringanan bagi warga Kerinci saat itu, setiap warga yang mau membayar “Tebus Nyawo”, maka tidak akan dibunuh. Selain sebagai tempat menghabisi nyawa rakyat Indonesia, jembatan ini juga dimanfaatkan oleh warga dan tentara perlawanan untuk mengintai para penjajah pada malam hari. Tak sedikit tentara belanda yang berhasil dibunuh oleh warga di bawah jembatan itu.
          Hampir setiap harinya terjadi pertumpahan darah di jembatan tersebut, sehingga setelah kemerdekaan pada tahun 1950-an, saat jembatan tersebut dibuat dengan besi, jembatan ini pun dinamakan jembatan merah. (berbagai sumber)

Mari Wisata Sejarah ke Hotel-Hotel Tua Indonesia

#
Hampir di setiap kota-kota besar di Indonesia berdiri hotel-hotel tua yang umurnya melebihi usia republik ini ada. Yup, dibangun sewaktu kolonialis Belanda masih berkuasa penuh di Nusantara, dibawah ini ada beberapa hotel yang sangat tua di Indonesia yang mungkin bisa Anda kunjungi apabila ingin melihat bentuk rupa peninggalan sejarahnya yang masih tersisa.

1.Hotel Pelangi dan Hotel Splendid Inn
Di kota Malang ada hotel tua yang bernama Hotel Pelangi yang letaknya di Jl. Merdeka Selatan No. 3. Kalau dihitung-hitung dari semenjak hotel ini berdiri, sekarang umurnya kurang lebih sudah 96 tahun lantarannya hotel ini suda ada di Malang dari tahun  1916.

Hotel Pelangi
Nama hotel ini awalnya bukanlah Hotel Pelangi melainkan bernama Hotel Palace entah kenapa bisa berubah nama. Nah, yang menarik dari hotel yang punya 50 kamar ini terletak dari arsitekturnya yang mempunyai ciri khas  yaitu  adanya Menara Kembar yang dahulunya digunakan sebagai menara pengawas. 

Untungnya dibuat kokoh karena sampai saat ini di dalamnya masih terjaga keasliannya, bentuk lantai, plafon dan tegel-tegel dinding bergambar pemandangan negeri kincir angin yang eksotis. 
        
       Masih di Malang,  lanjut lagi ke hotel yang bernama Hotel Splendid Inn. Arsitektur dari gedung yang dibangun pada 1924-1930 ini bergaya Nieuwe Bouwen (berbentuk kubus dan atap lurus) membuat bangunan ini masih kokoh berdiri sampai sekarang. Banyak turis asing dari Belanda yang bernostalgia di tempat ini. Fasilitas yang ada pun relatif sama dengan hotel-hotel berbintang, sehingga sesuai dengan anda yang ingin beristirahat dalam nuansa tempo dulu. 

Hotel Splended Inn
Selain kedua hotel di atas, kota ini juga mempunyai hotel yang tak kalah bersejarahnya yaitu Hotel Graha Cakra yang berada di Jl. Cerme 16. Hotel berbintang tiga ini dahulu adalah bekas gedung Radio Republik Indonesia (RRI) Malang yang pernah rata dengan tanah karena hancur saat pecah Perang Clash ke-1pada 1947. Untuk gaya arsitektur dari hotel ini masih menerapkan gaya yang sama dengan Hotel Splendid Inn yaitu gaya Nieuwe Bouwen yang populer pada 1935 karya arsitek Belanda, Ir. Mulder
Gaya Nieuwe Bouwen yang diterapkan dalam dua hotel itu sebenarnya istilah untuk gaya bangunan sesudah tahun 1920-an yang merupakan penganut dari aliran International Style, sebagaimana yang diungkapkan Akihary (1988) dalam bukunya Architectuur en Stedebouw in Indonesie 1870-1940.Gaya arsitektur ini dibarengi oleh pengaruh gaya arsitektur modern yang sedang trend pada masa itu antara lain,  Amsterdam School, Bauhaus dan De Stilj yang berkembang di Indonesia karena semakin banyak arsitek Belanda beraliran arsitektur modern berpraktek di Indonesia.

2. Hotel Oranje
Dari Malang sekarang kita ke Surabaya disana ada Hotel Oranje atau Hotel Majapahit yang melegenda, mungkin dari anda sudah tahu sebelumnya terlebih lagi apabila anda adalah wong suroboyo. Alkisah, hotel ini didirikan oleh seoarang pedagang yang bernama Lucas Martin Sarkies dari Armenia. 

Hotel ini diarsiteki oleh James Afprey, seorang berkebangsaan Inggris yang membangun hotel ini  pada tahun 1910 dengan menerapkan gaya arsitektur Art Nouveau. Keluarga Sarkies ini memang dikenal berkecimpung di bisnis perhotelan karena sebelum mendirikan hotel ini, keluarga Sarkies sudah mendirikan banyak hotel di  Asia, seperti Hotel Niagara di Lawang, Hotel Eastern and Oriental di Penang (Malaysia), Hotel Strand in Rangoon (Burma) dan Hotel Raffles di Singapura.

Nah, tahun 1911 adalah tahun bersejarah untuk hotel  karena untuk yang kali pertamanya hotel ini dibuka dengan menggunakan nama “Hotel Oranje”. Dalam perkembangannya, di tahun 1931 ada penambahan bangunan di hotel ini yaitu di bagian depan pintu masuk lama, sebagian ruang masuk dibangun dalam gaya Art Deco oleh arsitek Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker.

Hotel Oranje
Bagi anda yang pernah menyaksikan salah satu film perang produksi anak negeri dimana salah satu scennya ada orang yang merobek bendera di atap gedung hotel, nah kejadian itu lah yang terjadi di hotel ini.  

Tepatnya pada  tanggal 19 september 1945  terjadi “Insiden Bendera” saat Kolonialis Belanda menaikkan bendera kebangsaannya di menara hotel ini.  Kontan, para nasionalis Indonesia naik pitam dan memanjat ke menara lalu menyobek-nyobek bagian biru dari bendera Belanda yang kemudian berubah menjadi bendera Indonesia.

Nama Hotel Oranje digunakan sampai tahun 1950-an. Waktu itu hotelnya dinasionalisasikan dan nama diganti menjadi Hotel Majapahit. Anda di sana, sempatkanlah untuk melihat kamar bersejarah yaitu kamar yang pernah digunakan oleh aktor Charlie Chaplin. Komedian yang tenar di tahun 30-an ini pernah sempat menginap di hotel ini pada tahun 1936. Kamar tersebut diberi nama Kamar Merdeka dengan nomor kamar 33. 

3. Hotel Surabaya
Itu di kota pahlawan, Bandung tak mau kalah soal hotel bersejarahnya karena di sana ada Hotel yang bernama Hotel Surabaya yang sedikit lebih tua dari Hotel Oranje.  Hotel ini dibangun oleh pengusaha China yang kaya raya asal Surabaya. Adanya hotel ini lantaran untuk menyambut dibangunnya jalur kereta api Jakarta-Bandung yang ditandai dengan berdirinya stasiun Bandung pada tahun 1884.

Untuk bagian hotelnya sendiri  terdiri atas tiga bagian, bagian pertama berada di belakang dan dibangun bergaya neoclassic pada tahun 1886 dengan konsep modern karena banyak menggunakan elemen suluran, tanaman dan kacanya sudah menggunakan colour glass. Sedangkan bagian towernya sendiri dibangun beberapa tahun setelahnya yaitu pada tahun 1900 sampai 1910 dengan menggunakan gaya art nouvo

4.Hotel Sriwijaya
Bagaimana dengan di Ibukota sendiri, jelas Jakarta tak mau ketinggalan karena disini ada Hotel Sriwijaya. Letak hotel ini ada di pojokan Jalan Veteran dan Jalan Veteran I, Jakarta Pusat. Dari Stasiun Juanda, hotel ini berada di sisi kanan tak jauh dari Masjid Istiqlal. Tembok hotel ini memanjang hingga ke Jalan Veteran I mendekati kedai es krim Ragusa. 

Hotel Sriwijaya
 Conrad Alexander Willem Cavadino atau CAW Cavadino  yang memulai usaha restoran dan kue di tahun 1863. Tempat usaha ini dibangun persis di pojokan Rijswijk (Jalan Veteran) dan Citadelweg (Jalan Veteran I). Di tahun 1872 Restoran Cavadino berubah menjadi Hotel Cavadino sementara usaha ritelnya dilakukan di sebuah tempat usaha bernama Toko Cavadino yang berada di depan bangunan hotel.

Dari sebuah iklan di tahun 1894, Toko Cavadino disebut sebagai toko yang menyediakan permen, cokelat,  cerutu Havana, Belanda dan Manila hingga bir, anggur, dan minuman beralkohol lainnya. Bahkan, begitu terkenalnya usaha ini sampai-sampai jembatan di depan hotel ini dinamakan Jembatan Cavadino (Cavadino Bridge). Jembatan itu kini berada di samping Hotel Sriwijaya, sejajar dengan pintu masuk ke hotel tersebut.

Dari foto lama yang terpampang di dalam hotel ini dan juga dari foto koleksi KITLV, Leiden, yang ditampilkan oleh Scott Merrillees dalam buku yang berjudul Batavia in Nineteenth Century Photographs letak bangunan hotel dan toko kue terpisah. Posisi bangunan Hotel Cavadino, yang kini jadi Hotel Sriwijaya, terlihat berada di pojokan jalan yang masih sangat sepi dengan dua jalur trem di depannya. Sedangkan Toko Cavadino kini menjadi restoran dan masih menjadi bagian dari Hotel Sriwijaya.

Usaha toko dan hotel berjalan terus hingga akhir abad-19. Merrillees mencatat, sebenarnya CAW Cavadino tak lagi sebagai warga Batavia sejak tahun 1870 meskipun demikian, usahanya tetap menggunakan nama Cavadino & Co. Hotel Cavadino dan bertahan sampai tahun 1898. Namun sejak 1899 hotel itu berubah nama menjadi Hotel du Lion d’Or. Di tahun 1941 hotel itu sudah berubah nama lagi menjadi Park Hotel. Dan diperkirakan sekitar pertengahan tahun 1950-an nama hotel itu berubah menjadi Hotel Sriwijaya.

5. Hotel Inna Dibya Puri dan Hotel Candi Baru
Sekarang kita tinggalkan Jakarta dan pindah ke Semarang, disana telah hadir sebuah hotel yang bernama Hotel Inna Dibya Puri. Soal usianya, hotel ini tak kalah tua dengan hotel-hotel lainnya lantaran Hotel di Semarang ini dibangun tahun 1847. Hotel ini menawarkan sensasi keindahan arsitektur hotel yang pada zaman Penjajahan Belanda bernama Du Paviliun itu. Dan konon di tahun 1945, hotel ini pernah menjadi markas pejuang. Akibat pertempuran lima hari di Semarang, beberapa bagian bangunan, seperti dinding dan jendela mengalami kerusakan.

Hotel Candi Baru
Masih di sekitaran kota Atlas ada Hotel Candi Baru yang dulunya nama hotel ini adalah Hotel Bellevue. Hotel bergaya art deco ini dibangun pada 1919 dimiliki oleh Van Demen Wars. Kemudian sejak 1961  nama hotel berubah jadi Hotel Candi Baru.

6. Hotel Salak dan Hotel Pasar Baroe
Puas melihat hotel-hotel tua di kota Atlas, sekarang mari kita tengok hotel apa saja yang ada di kota hujan Bogor. Yang pertama di sana ada Hotel Salak yang usinya sudah sangat tua ratusan tahun yang lewat, hotel ini awalnya bernama Bellevue Dibbets Hotel yang dimiliki oleh Gubernur Hindia Belanda saat itu. Selain untuk tempat menginap dan beristirahat, hotel ini juga diperuntukkan untuk acara pertemuan bisnis dan admistrasi pemerintahan Belanda.

Seiring berjalannya waktu, mungkin Jepang memerlukan tempat yang besar untuk menampung para tentara berikut alat persenjataannya, di zaman penjajahan Jepang fungsi hotel ini berubah fungsi menjadi markas militer Jepang. Nah, baru setelah Jepang angkat kaki dari negeri ini, kepemilikian hotel diserahkan ke pemerintah Indonesia dan namanya pun berubah menjadi Hotel Salak.

Hotel ini teramat special sebagai destinasi penginapan karena event atau meeting berskala internasional pernah dilakukan di Hotel yang letaknya di kaki Gunung Salak ini, misalnya pada tahun 1955 di hotel ini dilangsungkan Pertemuan Persiapan Konferensi Asia Afrika, selain itu pada tahun 1994 ajang pertemuan APEC pun pernah dilakukan di hotel ini.

 Selain Hotel Salak, di Bogor juga ada Hotel Pasar Baroe, dilihat dari namanyanya saja mengingatkan kita kepada salah satu tempat yang ada di Jakarta, namun diantara keduanya tidak ada hubungannya hanya sekedar namanya saja yang sama. Hotel ini tanpa dinyana setua dengan Hotel Salak di atas lantaran dibangun pada tahun 1873.

Hotel Pasar Baroe
Hotel berlantai dua yang berdiri di atas lahan seluas 1.200 meter2 ini memiliki keunikan arsitektur berupa perpaduan gaya Eropa dengan Tionghoa. Hotel ini pernah menjadi primadona bagi para pelancong kala itu, namun mereka yang mampir mayoritasnya adalah warga timur asing seperti Tionghoa, Arab dan Belanda.  Sekedar catatan pada masa itu di Bogor sendiri terdapata 4 hotel yang bisa menjadi tempat persinggahan para pelancong selain Hotel Bellevue, Hotel Salak, dan Hotel du Chemin (sekarang menjadi kantor polisi Mapolres Bogor).

7. Hotel Ambarrukmo Palace
Lantas bagaimana dengan hotel bersejarah di kota pelajar, Yogyakarta? kota ini juga mempunyai hotel yang bernama Hotel Ambarrukmo Palace. Hotel ini sebenarnya berada di dalam kawasan Pesanggarahan Ambarrukmo yang dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono V.

Tahun 1895-1897, bangunan dierenovasi  oleh Sultan Hamengkubuwomo VII, sebelum turun tahta tempat ini dijadikan untuk menjamu tamu, akan tetapi setelah turun tahta, tempat ini pun berubah menjadi kediaman Sultan. Nah, dalam perkembangannya setelah Indonesia merdeka, Soekarno presiden pertama RI menggagas pembangunan hotel-hotel berstandar internasional pertama di nusantara, dan salah satunya adalah hotel ini yang diresmikan pada tahun 1966

Saat peresmiannya di tahun 1966, tak pelak hotel tersebut menjadi hotel mewah pertama di Yogyakarta. Hotel tersebut terdiri dari dua sayap yaitu sayap pertama dibangun tahun 1965 dan sayap kedua dibangun tahun 1974. Namun siapa sangka ternyata hotel ini sempat terbengkalai, samapi akhirnya di tahun 2011, jaringan hotel Santika Indonesia mengambil alih dan menghidupkan kembali Hotel Ambarrukmo.

Lantaran pengambilalihan itu lalu nama hotel pun berubah nama menjadi Ambarrukmo Palace Hotel. Area keraton juga direvitalisasi dan disi berbagai kegiatan kesenian. Di dalam hotel ini terdapat mural ukiran batu karya Harijadi di tahun 1962 yang menggambarkan kehidupan rakyat di sekitar Gunung Merapi. Lalu mozaik dinding dari keramik yang diperkirakan dibuat oleh seniman Indonesia Batara Lubis di tahun 1976. (berbagai sumber)