Tampilkan postingan dengan label wisata religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata religi. Tampilkan semua postingan

Masjid Unik di Turen, Malang

#

Beberapa masjid di Indonesia memang banyak yang memiliki keunikan, dari Masjid Pintu Seribu di  Tangerang, Masjid Seribu Tiang di Jambi, dan yang lainnya. Nah, sekarang di Malang ada Masjid unik yang berada di lingkungan Pesantren di Turen. Masjid ini biasa dikenal dengan Masjid Turen atau Masjid Tiban.

Masjid ini pernah membuat  heboh Malang pada tahun 2008. Pasalnya konon kabarnya masjid ini dibangun oleh tentara jin dalam waktu semalam. Secara tiba-tiba masjid itu ada di tengah-tengah masyakarat. Kabar ini pun menimbulkan euforia, masyarakat luar lantas berbondong-bondong pergi untuk melihatnya saat itu, bahkan sampai sekarang masjid itu kerap dikunjungi oleh masyarakat yang penasaran dengan keberadaan masjid tersebut.

Namun apakah benar masjid ini dibangun oleh tentara Jin? Memang sedikit sulit untuk diterima oleh akal sehat bahwa masjid ini dibangun tidak oleh tangan manusia mengingat di tengah-tengah arus zaman modernisasi atau eranya teknologi seperti sekarang kita berpikir secara rasional dan menganggap hal semacam ini hanya sebuah “hoax” belaka. Namun terkadang pula kita pun dapat memaklumkan bahwa hal atau pendapat yang berbau irasional seperti ini terkadang masih hidup di tengah-tengah pikiran masyrakat kita.


Nah, terlepas dari segala kehebohan itu, Masjid Turen memiliki segala macam kekayaan arsitektur, mulai dari kaligrafi, gaya desain bagunannya, dan yang lainnya.  Tak pelak masjid ini pantas menjadi salah satu masjid yang anda kunjungi jika berada di Malang, tepatnya di daerah Turen. Berikut ini penjelasan mengenai masjid unik Turen:

Sekilas Sejarah Masjid Turen
Dari beberapa keterangan yang ada disebutkan bahwa masjid ini merupakan bangunan Pondok Pesantren Syalafiyah Bihaaru Bahri’Asali Fadlaairil Rahmat yang didirikan pada tahun 1963 oleh KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Sholeh Al Mahbub Rahmat Alam yang biasa disapa dengan nama Romo Kiai Ahmad

Romo Kiai Ahmad mempunyai maksud mulia mendirikan pondok pesantren ini, yaitu untuk dikunjungi oleh semua orang, baik yang muslim maupun yang non-muslim. Jadi siapa pun boleh masuk ke pondok pesantren ini walau bukan umat islam sekalipun.

Pembangunan pondoknya sendiri hanya menggunakan material apa adanya dan minim budget. Contohnya, waktu itu hanya digunakan baru batu merah saja maka batu merah itulah yang dipasang dengan luluh (adonan) dari tanah liat (lumpur/ledok). Pembangunan masjid ini mulai dari bawah tanah, tepatnya di lantai tiga, ada tiang penyangga dari seluruh bangunan yang terbuat dari tanah liat. Satu tiang yang dibuat tanah liat itu yang menjadi roh atau kekuatan dari seluruh bangunan.

Nah selama proses pembangunan terus berlangsung, pada tahun 1978 mulai ada santri yang datang dan menetap di sana. Semakin banyak santri yang datang, pembangunan dan perluasan pondok pun dilakukan seadanya sampai tahun 1992. Selama beberapa tahun pembangunan sempat terhenti, namun sekitar tahun 1999 pembangunan masjid kembali bergairah. Pengerjaannya mengandalkan tenaga-tenaga para santri yang ada dengan dibantu oleh masyarakat.

Arsitektur dan Fasilitas Masjid
Bangunan ini berarsitektur ala Timur Tengah dengan hiasan-hiasan kaligrafi arab di tembok-temboknya dan setiap sudut bangunan. Bahkan di samping pos keamanan yang berwarna orange tepat berada di pintu masuk, di beberapa bagiannya ada tulisan kaligrafinya.

Ornamen kaligrafi-kaligrafi yang menghiasi  masjid ini sebagian besarnya dikerjakan sendiri oleh para santri dengan penuh kesabaran, ketelitian dan keihklasan. Hal ini penting dibutuhkan untuk menghasilkan karya kaligrafi yang indah, selain sebagai sarana untuk menambah keterampilan tambahan bagi para santri ponpes.

Pondok Pesantren dan masjid mencapai 10 lantai, untuk yang tingkat satu sampai tingkat empat digunakan sebagai tempat para santri pondokan, lantai enam digunakan sebagai ruang keluarga, lantai tujuh, lima dan delapan terdapat toko-toko kecil yang  bermacam-macam makanan ringan dan pakaian dan dikelola oleh para santri wanit. Dari satu lantai ke lantai yang lainnya fasilitas tangga telah disediakan , begitu pula dengan lift pun walau belum berfungsi sepenuhnya.

Di dalam ponpes juga tersedia kolam renang yang dilengkapi oleh perahu. Perahu ini dapat dinaiki oleh wisatawan anak-anak setelah meminta izin terlebih dahulu kepada santri yang ada di sekitar tempat itu. Tak hanya itu di dalam kompleks ponpes juga ada berbagai jenis binatang, ruangan aquarium, dan perpustakaan yang berisikan buku-buku tentang islam. Nah, jika merasa letih mengelana dari satu lantai ke lantai lainnya, tinggal istirahat di kursi istirahat yang telah disediakan. Kursi untuk istirahat itu dibuat dari kayu jati dengan bentuknya yang unik, dan dihiasi bagian atasnya dengan kaligrafi.

Lokasi Masjid
Untuk masuk ke masjid yang terletak di Jl. Wahid Hasyim, Gang Anyar Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini tidak dipungut biaya alias gratis. Masjid Turen ini jika ingin ditempuh dari  Malang, masjid berada sekitar 25 Km, dan jika ditempuh dari terminal Gadang dapat menggunakan minibus tujuan Turen. (berbagai sumber)

Keren! Ada Masjid Seribu Tiang di Jambi

#

Jika di Tangerang mempunyai masjid unik yang bernama Masjid SeribuPintu, lain halnya dengan masjid yang ada di Jambi ini. Adalah Masjid Agung Al Falah yang memiliki keunikan yang tidak kalah menariknya karena mempunyai ratussan tiang sebagai penyangga bangunannya. Tak tangung-tanggung jika masjid pada umumnya memiliki beberapa tiang penyangga saja, masjid dengan julukan Masjid Seribu Tiang ini memiliki 233 tiang. Wow! Jumlah yang fantastis, rasanya ada yang kurang jika anda sedang berada di Jambi tapi tidak mengunjungi masjid yang kerap dikunjungi oleh orang-orang penting negara ini.
sumber foto: timurmediatama.blogspot.com
Sejarah Masjid
Tanah masjid ini erat kaitannya dengan asset tanah hyang dimiliki oleh Sultan Thaha secara dulunya tanah yang bernama Tanah Pilih Sesuko Betuah merupakan sebuah istana tanah pilih Sultan Thaha.  Lantaran Sultan membatalkkan perjanjian dengan Belanda pada tahun 1858. Sultan tidak setuju dengan isi perjanjian itu hanya menguntungkan sepihak, dan sangat merugikan pihak Jambi.Belanda pun marah lalu mengancam akan menyerang istana tersebut.

Benar saja, walau Sultan Thaha berhasil lebih dulu menyerang pos Belanda, namun Belanda akhirnya menggempur dan membumihanguskan bangunan istana. Pada perkermbangannya, pada tahun 1906, tanah bekas istana itu didirikan bangunan asrama Belanda. Lalu, pada masa kemerdekaan bangunan asrama belanda dibangun asrama untuk anggota TNI di Jambi dan Masjid  tiang seribu didirikan kemudian.

Masjid ini dibuat dengan konsep bangunan anti gempa dengan kesepatakan para alim ulama dan tokoh Jambi seperti MO Bafaddal, H Hanafi, Nurdin Hamzah dan Gubernur Jambi. Penggunaan Ratusan tiang penyangga pun diterapkan sebagai konsep bangunan anti gempa. Pembangunan masjid ini memakan waktu selama tiga tahun lamanya. Nah ternyata ada yang unik selama proses  pembangunan masjid ini dilakukan, yaitu masjid ini pernah dijadikan lokasi syuting film yang diperankan Ully Artha yang berjudul “Intan Perawan Kubu”. Setelah tiga tahun, masjid ini pun akhirnya diresmikan oleh mendiang Presiden Soeharto pada tanggal 29 September 1980.

Untuk nama masjidnya sendiri yaitu Al-Falah mengandung arti kemenangan yang memiliki banyak makna. Dari sudut pandang islam, Al-Falah bermakna bahwa kehidupan manusia di dunia haruslah memperoleh kemenangan dengan mempertebal keimanan dan ketakwaan.  Bagaimana dengan julukannya sendiri sebagai masjid seribu tiang? Istilah ini sebenarnya muncul karena sebutan para musafir yang berhenti untuk singgah dan beribadah disana. Mereka melihat banayak sekali tiang dan tanpa pintu, tanpa dinding dan terbuka.

Arsitektur dan Interior Masjid
Masjid ini memiliki luas bangunan 6.400 meter persegi dan berdiri di tanah seluas 2.7 hektar. Saking besarnya masjid ini dapat menampung sekitar sepuluh ribu jamaah. Bangunan ini sama sekali tidak memiliki dinding atau tembok pembatas dan terkesan masjid ini mempunyai konsep keterbukaan bagi setiap umat yang ingin beribadah disana.

Dari luar walau bentuknya mirip dengan pendopo, namun kemegahan  masjid begitu terasa di bagian tengahnya dengan Interior masjid yang dihiasi oleh ukiran, kaligrafi dan delapan tiang penyangga dengan warna yang berbeda-beda. Begitu juga dengan deretan 40 tiang bergaris yang bagian bawahnya tiang di bagian tengah masjid dihiasi dengan ukiran kayu. Bagian tubuh tiang terbuat dari tembaga kuningan yang didatangkan dari daerah Jepara, Jawa Tengah. Selain itu, terdapat pula kubah indah berukuran besar dengan warna bervariasi dan kaligrafi yang terbuat dari kaca.
sumber foto:www.duniamasjid.com
 Lokasi Masjid
Masjid Al-Falah atau Masjid Seribu Tiang ini berada di pusat kota Jambi, tepatnya di samping pasar Angso Duo, Jalan Sultan Thaha No.60 Kelurahan Lehok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi. (berbagai sumber)

Tiga Bedug Ukuran Jumbo di Indonesia

#
Tasbih berukuran raksasa ada, Al Quran terbesar pun juga ada, Nah bagaimana soal Bedug, adakah bedug berukuran jumbo di Indonesia. Jawabnya terang ada, Anda ingin melihat bedug-bedug berukuran jumbo di negeri ini gampang caranya! Anda tinggal mendatangi tiga kota dibawah ini  saja. Yang pertama kota Purworejo tepatnya di  Masjid Agung Darul Muttaqin, kedua di Jakarta Islamic Centre (JIC), Jakarta dan yang ketiga di Masjid Agung Kota Tasikmalaya

1.Bedug Masjid Agung Darul Muttaqin
Kota Purworejo mempunyai bedug raksasa yangg bernama Bedug Kyai Bagelan dan konon kabarnya merupakan bedug berukuran paling besar di dunia. Bedug yang merupakan peninggalan masa syiar islam pada abad XIX d ini terbuat dari bongkot (pangkal) pohon jati berumur ratusan tahun yang berasal dari Dusun Pendawa, Kecamatan Purwodadi. 
foto: www.revienspurworejo.com
         Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat,  pohon jati yang digunakan sebagai bahan bakunya itu  mempunyai cabang lima dengan ukuran yang cukup besar hingga bahkan tidak cukup dirangkul tiga orang sekaligus. Maka, tak heran kalau Bedug tersebut juga dikenal sebagai Bedug Pendawa.
           Soal ukurannya yang jumbo, bedug ini memiliki panjang 292 cm dengan garis tengah depan 194 cm, garis tengah belakang 180 cm, keliling bagian depan 601 cm dan keliling bagian belakang 564 cm.kulit beduk terbuat dari kulit banteng. Namun, karena sempat rusak, akhirnya diganti dengan kulit sapi. Beduk ini memerlukan paku sebanyak 120 buah untuk di bagian depan dan 98 buah untuk di bagian belakang.Pada hari raya keagamaan, Beduk Pendowo pun dibunyikan.

2.Bedug Jakarta Islamic Center
Selain bedug di Purworejo, yang kedua bedug raksasa juga dapat dijumpai di Jakarta Islamic Center (JIC) di Jakarta. Bedug yang didatangkan dari Jepara, Jawa Tengah ini memiliki panjang 3 meter dan memiliki diameter 2.10 meter ini.
         Bedugnya sendiri memiliki desain yang unik karen  berdasarkan ornament masjid JIC dan memiliki makna yang berkaitan dengan islam dalam setiap detail desainnya. Salah satu maknanya adalah paku yang berbentuk logo JIC dan jumlah ornament sebanyak 114 buah yang menunjukkan jumlah surat dalam Al-Qur’an. Jumlah ini sama dengan asmaul husna (sifat-sifat Allah yang baik).
          Bedug ini terdiri atas tiga komponen yaitu bedug, rumah bedug dan kentongan yang kesemuanya terbuat dari kayu jati dan nangka. Selain itu plafon rumah bedug yang ditutup dengan 40 lembar kayu jati, menunjukkan umur Rasulullah ketika pertama kali mendapatkan wahyu. Bedug ini berada di kiri mimbar Masjid JIC dan  digunakan setiap pelaksanaan shalat Jumat dan perayaan hari besar Islam.

3.Bedug Masjid Agung Kota
Bedug besar ketiga ada di kota Tasikmalaya, Jawa Barat tepatnya di bagian depan Masjid Agung Kota Tasikmalaya. Adalah Beduk Kia Ijo namanya, yang  mempunyai diameter 2,02 meter, panjang empat meter, dan tinggi dua meter. Berat bedug ini sekitar satu ton dan pernah tercatat di Museum Rekor Indonesia (Muri).
         Bedug ini merupakan sumbangan dari perusahaan swasta. Sejak 2006, beduk ini sering mengikuti pawai beduk. Setiap bulan Puasa, Kiai Ijo selalu dibawa untuk parade beduk keliling seluruh Indonesia. Bedug Kiai Ijo tidak pernah dipakai dalam kegiatan sehari-hari, dan cenderung menjadi hiasan masjid karena masjid ini sudah memiliki beduk lain yang berukuran lebih kecil. Beduk kecil itulah yang biasa dipakai untuk kegiatan sehari-hari.
        Berbeda dengan bedug di JIC yang berbahan baku kayu jati dan nangka, bedug di masjid ini terbuat dari kayu bingkerey, jenis kayu yang sangat kuat dankeras. Nah, untuk kulit bedugnya berasal dari kulit kerbau yang didatangkan secara khusus dari Banten.
         Untuk menabuh Kiai Ijo, bisa dilakukan oleh empat orang sekaligus dan perlu kekuatan yang penuh. "Beduk ini kalau ditabuh dapat mengeluarkan bunyi yangsangat mantap, bernada rendah sekali tetapi terdengar sangat agung. (berbagai sumber)

Tasbih-tasbih "raksasa" di Indonesia

#
Dilihat dari ukuran saja sudah pasti kita akan terpukau. Bagaimana tidak tasbih yang sering digunakan umat islam untuk memanjatkan doa-doa kebesaran Sang Ilahi ini ukurannya sangat besar dan panjang, tidak seperti ukuran tasbih-tasbih pada umumnya.
          Tak jarang di beberapa masjid dan di komunitas masyarakat di Indonesia menyimpan tasbih-tasbihnya dengan ukuran panjang dan beratnya yang luar biasa, dan tak jarang pula usia dari tasbih tersebut sudah mencapai ratusan tahun.  
Ilustrasi
Sebut saja tasbih yang ada di Polewali Mandar, Sulawesi Barat yang dimiliki oleh Muslimin, seoarang warga warga Binuang. Tasbih yang panjangnya 38 meter dan ini berisi  lebih dari tiga ribu butir biji tanaman manjakani yang kabarnya usinya sudah lebih dari 350 tahun.
Kenapa sampai ke daerah ini?  konon kabarnya tasbih ini dibawa dari tanah Arab oleh seorang penyebar Islam di tanah Mandar, Ustadz Abdul Kadir. Tasbih raksasa ini lalu diwariskan turun-temurun dan kini dimiliki Muslimin. Tasbih raksasa ini kini dipakai untuk berzikir setelah shalat saat bulan ramadan.
Dengan ukurannya yang panjang, puluhan warga menggunakan tasbih tersebut berzikir dengan cara membuat formasi melingkar, diawali dengan duduk, zikir juga dilakukan dengan cara berdiri.
Seiring dengan terus berkumandangnya zikir 'La Ilaha Illallahi', tasbih besar itu dijuga digerakkan berputar searah jarum jam oleh puluhan warga yang masing – masingnya sudah memegang bagian dari tasbih.
Namun sayang sebagian dari 3.300 biji tasbih yang semula seluruhnya terbuat dari biji manjakani ini banyak dicuri orang lantaran khasiat buah itu sebagai obat. Namun agar jumlahnya tetap 3.300, sebagian biji tasbih terpaksa diganti dengan biji dari kayu khusus yang didatangkan dari Mesir.(IAN)
          Selain di di Sulawesi, tasbih raksasa juga berada di masjid seribu pintu yang terletak di Kampung Bayur, Jatiuwung, Tangerang. Di salah satu ruang bawah tanah masjid ini ada yang disebut ruang tasbih. Ruangan yang  memakai lantai keramik putih, di sana lah terdapat sebuah tasbih besar dari kayu. Garis tengah masing-masing butir tasbihnya sekitar 10 sentimeter
Nah, lain lagi dengan tasbih yang sekarang berada di masjid Masjid Al Taubah kompleks Lapas Lowokromo, Malang. Tasbih yang yang berada di masjid ini adalah tasbih hasil karya seorang narapidana yang berhasil mendapatkan penghargaan dari  Museum Rekor Indonesia atau MURI pada November 2010 karena berat dan panjang ukurannya.
Tasbih yang dibuatnya selama dua bulan ini memiliki bobot seberat 4,1 ton dengan biji tasbih 102 butir dan tiap biji berdiameter 30-40 centimeter (cm) dan diwarna-warni mencolok.
Bahan biji tasbihnya yang berbentuk bulat ini terbuat dari bahan semen, sisa limbah keset, 8 kilogram (kg) kalsium, dan 8 kg lem yang dicampur menjadi satu. Bahan itu kemudian dibentuk menjadi biji tasbih yang kemudian dikaitkan ke tali menjadi sebuah tasbih raksasa. (berbagai sumber)

Masjid Pintu Seribu Tangerang

#
Anda tahu bangunan Lawang Sewu yang berada di kota Semarang bukan?Yang konon katanya kenapa diberikan julukan lawang sewu karena jumlah pintunya mencapai seribu. Atau mungkin mengenal dengan Masjid Seribu Tiang di Jambi.Nah, di Tangerang tepatnya di Kampung Bayur, Priuk, Tangerang juga ada bangunan yang mempunyai seribu pintu, namanya Masjid Seribu Pintu

Cukup menarik juga karena jarang sekali ada sebuah masjid di Indonesia yang mempunyai pintu sebanyak seribu buah dan mungkin hanya masjid ini saja yang mempunyai pintu sebanyak itu. Berikut ini ada ulasan singkat masjid seribu pintu yang di dalamnya juga ada sebuah Al-Aquran berukuran besar.

Sejarah
Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 1 hektar  ini didirikan sekitar tahun 1978.  Pendirinya adalah seorang warga keturunan Arab yang warga sekitar menyebutnya dengan sebutan  Al-Faqir. Al Faqir ini adalah salah satu santri dari Syekh Hami Abas Rawa Bokor yang memulai pembangunan masjid itu dengan membuat Majelis Ta’lim terlebih dahulu di daerah tersebut. Ia pun membangun masjid ini dengan merogoh koncek kantongnya dari sendiri.
       Warga sekitar pun untuk menghormatinya lantas memberikannya gelar Mahdi Hasan Al-Qudratillah Al Muqoddam. Al-Faqir ini kabarnya tidak membangun majis di Tangerang saja melainkan  juga membangun masjid serupa di Karawang, Madiun, dan beberapa kota lain di Indonesia.

Arsitektur Luar dan Dalam Masjid
Tidak seperti saat kita membangun sebuah bangunan yang harus didahului dengan membuat rancang bangunnya atau blueprintnya terlebih dahulu. Masjid seribu pintu ini pembangunan justru tidak memakai gambar rancang.
Jadi tidak desain dasar yang bisa menampilkan corak arsitektur tertentu. Bisa dikatakan masjid ini campur aduk desain arsitekturnya bila dilihat dari adanya pintu-pintu gerbang yang sangat ornamental mengikuti ciri arsitektur zaman Baroque, tetapi ada juga yang bahkan sangat mirip dengan arsitektur Maya dan Aztec. Masjid ini memang memiliki banyak sekali pintu, namun tidak memiliki kubah besar sebagaimana masjid pada umumnya.
Di beberapa pintu masjid tampak ornamen dengan angka 999. Angka 999 itu merupakan penggabungan jumlah asma Allah yang berjumlah 99 dan 9 wali songo. Di antara pintu-pintu masjid terdapat banyak lorong sempit dan gelap yang menyerupai labirin. Di ujung lorong ada beberapa ruang  bersekat-sekat hingga membentuk ruangan seperti mushola dan setiap ruangan (mushola) yang luasnya  adalah sekitar 4 meter diberikan nama. Ada mushola Fathulqorib, Tanbihul-Alqofilin, Durojatun Annasikin, Safinatu-Jannah, Fatimah hingga mushola Ratu Ayu.
Setiap lorong di masjid ini sudah dilengkapi dengan penunjuk jalan. Dan, salah satu ruang dari sekian banyak lorong itu menuju ruang bawah tanah yang disebut ruang tasbih. Ruang ini biasa digunakan oleh Al Faqir dan jamaah lainnya untuk ber-istiqomah.

Tasbih Berukuran Besar
Selain memiliki seribu pintu, di dalam  ruang bawah tanah masjid ini ada tasbih raksasa yang terbuat dari kayu terpajang di salah satu sudut ruang berteralis besi. Ukuran masing-masing butir tasbihnya berdiameter 10 cm atau sekitar kepalan orang dewasa dan di 99 butir tasbih tersebut tertulis asma'ul Husna. 

Lokasi Masjid
Lokasi masjid ini berada di   RT 01 RW 03, Kampung Bayur, Priuk Jaya, Jatiuwung, Kabupaten Tangerang, Banten. Untuk mencapainya caranya cukup mudah dijangkau dengan mobil dan hanya beberapa menit dari pusat Kota Tangerang. (berbagai sumber)

Masjid Berasitektur Art Deco di Garut

#
Sekilas mungkin orang tidak akan menyangka apa yang dilihatnya saat di kampung Cipari, Kecamatan Garut adalah sebuah Masjid. Ya, Masjid Cipari atau Masjiid A-Syuroini memang berbeda dengan kebanyakan masjid lainnya di Indonesia. Pasalnya, bentuk bangunannya mirip dengan sebuah gereja. Selain itu masjid tertua di Garut ini pun mengadopsi gaya Art Deco yang tak lazim diadopsi oleh sebuah masjid.
Mungkin dari seluruh wilayah di Indonesia ini hanya Masjid Cipari dan Masjid Somobito di Mojowamo Mojokerto, Jawa Timur yang memiliki bentuk mirip gereja. Hanyalah kubah dan menaranya yang menjadi ciri yang nampak dari  bangunan tersebut merupakan masjid.

Menurut catatan sejarahnya , Masjid Cipari ini bukan hanya masjid yang digunakan untuk ritual ibadah saja, namun pernah menjadi markas perjuangan dan pusat pergerakan para ulama pejuang. Masjid inilah yang dipakai para ulama untuk melakukan musyawarah para pejuang kemerdekaan, bahkan  menjadi benteng pertahanan dari serangan luar.

Sejarah Perkembangan Masjid Cipari
Tahun 1895 pertama kali masjid ini dibangun di lingkungan pesantren Cipari. Namun  saat itu wujud masjid Cipari tidak seperti sekarang dan kondisinya masih sangat sederhana. Kemudian sepeninggal sang pendiri pesantren  KH Harmaen, pembangunan masjid kembali di lakukan di bawah pimpinan anaknya yaitu KH Yusuf Tauziri pada tahun 1933.  Pembangunan masjid itu juga di lakukan seiring dengan kemajuan pesat pesantren da bertambahnya jumlah pesantren.
Nah, selain itu perluasan masjid ini juga mempunyai kaitan erat dengan  situasi pergerakan nasional  karena KH Yusuf Tauziri merupakan seorang ketua PSII cabang Wanaraja. Selain itu kemajuan pesantren  juga ditunjang oleh dihapuskannya ordonansi sekolah luar oleh pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 13 Februari 1932 akibat penentangan berbagai organisasi nasional dan Islam, seperti Budi Utomo, Muhamadiyah, PNI, PSII, dan yang lainnya. Masjid ini pun pernah dipakai untuk Muktamar Sarekat Islam se-Indonesia pada tahun 1933-1934.
Memasuki era perang kemerdekaan,  pesantren Cipari memainkan peranannya. Para santri di sana  dididik sebagai pejuang, selain belajar ilmu agama karena pesantren ini menjadi salah satu satu pesantren dari organisasi perjuangan Syarikat Islam.
Masjid ini pun kerap digunakan sebagai tempat untuk latihan perang, pertahanan, bahkan dapur umum para pejuang kemerdekaan. Saat  Agresi belanda ke-2, dibawah komando KH. Abdul Qudus dan KH. Yusuf Tauzirie, masyarakat di wilayah Garut timur dipersatukan dalam laskar Hizbullah, yang diantara angggotanya kemudian menjadi bagian dari tentara Siliwangi.
Nah, pada waktu pemberontakan DI/TII masjid ini sempat dijadikan tempat pengungsian, perawatan pejuang yang terluka ketika kembali dari hijrah ke Yogyakarta, tempat perlindungan para pejuang dan keluarganya.
Masjid ini pernah menjadi target serangan DI/TII, kurang lebih 22 kali mesjid ini diserang oleh DI-TII. Namun, saking tebal dindingnya yang lebih dari 40 sentimeter, masjid ini bisa bertahan dan kini masih tegak berdiri dengan kokoh. Lubang-lubang bekas peluru yang terdapat di jendela menara masjid menjadi saksi bisu serangan tersebut.

Masjid Cipari yang Art Deco
Melihat bentuk bangunan dari Masjid Cipari ini memang sangat mirip layaknya sebuah gereja.  Bentuk bangunannya  memanjang dengan pintu utama yang terletak  di tengah-tengah  muka bangunan dus keberadaan menaranya yang terletak di ujung bangunan  di atas pintu utama. Dari bentuk dan posisi menara dan pintu utama tersebut, bangunan ini memang menyerupai sebuah bentuk bangunan gereja.
Mengenai langgam Art Deco, belum ada catatan sejarah yang mengatakan mengapa masjid in mengadopsi langgam Art Deco untuk bangunannya. Langgam Art Deco pada masjid ini tampak dari pengolahan fasad bangunannya yang  berbentuk geometris. Arsitektur Art Deco yang dilahikan oleh sekelompok arsitek Amsterdam School dari Belanda ini memang memiliki memiliki ciri elemen dekoratif geometris yang tegas dan keras
Pola-pola dekorasi geometris masjid yang berulang di atas material batu kali memperlihatkan dengan jelas langgam ini. Selain itu, garis horizontal yang halus pada sisi samping kanan maupun kiri juga mencirikan langgam yang sama. Bentuk menara dan atapnya yang menyerupai kubah dengan beberapa element dekorasi pada bagian samping maupun puncaknya juga mengingatkan pada langgam ini.
Menara masjid berketinggian lebih kurang 20 meter ini menarik perhatian bahkan seperti menjadi eye catcher pada bangunan masjid. Mungkin sekadar simbol untuk menandai bahwa bagunan ini bukan gereja melainkan masjid, maka diletakkanlah bulan sabit di ujung menara. Terdapat beberapa lantai pada interiornya, dengan lantai teratas merupakan ruangan sempit berlantai pelat baja yang dikelilingi semacam balkon kecil yang juga daripelat baja.
Dalam ruangan bangunannya terdapat ruang mihrab berupa penampil yang menempel di dinding arah kiblat. Sementara, ruang shalatnya pun lebih mirip ruang kelas yang dapat dimasuki dari pintu di sebelah utara dan selatan atau dari pintu timur yang terletak di antara ruang naik tangga. 
Lokasi Masjid
Batas-batas mesjid sekarang, di sebelah utara adalah Kampung Pinggirsari dan Kampung Tegalkiang Kecamatan Sukawening, selatan adalah Kampung Babakan Cipari dan Kampung Ci Kecamatan Pangatikan, barat adalah Pasar Karangsari Kampung Cimaragas dan pesawahan Kecamatan Pangatikan, dan sebelah timur adalah sawah dan makam Kecamatan Sukawening 

Cara mencapainya
Masjid Cipari Wanaraja dapat dicapai dari Terminal Cileunyi Bandung ke Terminal Ciawitali Garut Kota dengan waktu tempuh ± 1,5 jam. Kemudian menuju lokasi dengan menggunakan angkutan kota satu kali jurusan Wanaraja sekitar 50 menit dengan jarak ± 4 Km dari Kecamatan Wanaraja dan ± 12 Km dari ibukota kabupaten. Selanjutnya dapat dicapai dengan naik ojeg dengan jarak ± 1 km sekitar 5-10  menit. Mesjid Cipari Wanaraja berada di dalam Kampung Babakan Cipari, Desa Cipari, Kecamatan Pangatikan, pada posisi koordinat: 7º 09’ 171” LS 107º 59’ 764’’ BT. (berbagai sumber)

Melihat-lihat Tiga Masjid Cheng Ho di Indonesia

#
Tanpa panjang lebar lagi memperinci siapa Cheng Hoo itu sebenarnya, bagaimana sejarah perjalanannya dan hubungannya dengan Indonesia. Nah, di Indonesia ini setidaknya ada  tiga masjid yang menggunakan nama tokoh yang pernah masuk 14 daftar urutan orang terpenting dalam milenium terakhir menurut majalah Life ini.

1.Masjid Cheng Hoo di Jakabaring Palembang
Sebenarnya masjid ini bernama Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo. Memang masjid ini tidak didirikan atau bekas peninggalan Cheng Hoo,  melainkan didirikan atas prakarsa para sespuh, penasehat, pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumsel, dan serta tokoh masyarakat Tionghoa di sekitar Palembang.

Pembangunan masjid percampuran unsur Cina, melayu, dan nusantara diawali dengan peletakkan batu pertama 2003. Modal awal pembangunan masjid itu sekitar Rp 150 juta dari hasil kumpul-kumpul dengan kawan-kawan di PITI. Tanah tempat masjid berdiri merupakan hibah dari pemerintah daerah dan baru diresmikan pada 2006.
Masjid Cheng Hoo Palembang, sumber: www.bujangmasjid.blogspot.com
Masjid berlantai dua ini dapat menampung kurang lebih 600 jemaah. lantai pertama digunakan untuk jemaah laki-laki, sedangkan lantai kedua untuk jemaan wanita. Menara di kedua sisi masjid meniru klenteng-klenteng di Cina dengan cat merah dan hijau giok.

 2. Masjid Cheng Hoo Surabaya
Masjid Cheng Hoo ini berlokasi di Jalan Gading, Ketabang, Genteng, Surabaya atau 1.000 m utara Gedung Balaikota Surabaya. Sama seperti pembagunan masjid Cheng Hoo di Palembang, masjid pun ini didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat, pengurus PITI, dan pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia Jawa Timur serta tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya. 

        Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya ini mampu menampung sekitar 200 jamaah. Bangunannya berdiri di atas tanah seluas 21 x 11 meter persegi dengan luas bangunan utama 11 x 9 meter persegi. Maknanya, angka 11 untuk ukuran Ka'bah saat baru dibangun, angka sembilan melambangkan Wali Songo dan angka 8 melambangkan Pat Kwa (keberuntungan/kejayaan dalam bahasa Tionghoa). Masjid Muhammad Cheng Ho juga memiliki delapan sisi di bagian atas bangunan utama. Ketiga ukuran atau angka itu ada maksudnya. 

MAsjid Cheng Hoo Surabaya, sumber: www.surabayakota.com
Masjid yang menyerupai klenteng ini di dominasi warna merah, hijau, dan kuning. Ornamennya kental nuansa Tiongkok lama. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda, terdapat juga relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk sebagai pelengkap bangunan masjid.





3. Masjid Cheng Hoo Pandaan, Pasuruan
Berbeda dengan Masjid Cheng Ho Surabaya dan Palembang yang didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat, pengurus PITI (Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) serta tokoh masyarakat Tionghoa, maka masjid Cheng Ho Pandaan ini dibangun dengan biaya dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

Masjid Cheng Ho Panda’an terletak di pinggir jalan raya Malang-Surabaya-Trawas-Tretes, Propinsi Jawa Timur. Lokasinya yang terletak di daerah yang memiliki pemandangan alam memukau menjadikan Masjid ini tempat istirahat sejenak yang menyenangkan bagi mereka yang melalui ruas jalan tersebut

Masjid Cheng Hoo Pasuruan, sumber:www.bujangmasjid.blogspot.com
Masjid Cheng Ho Pandaan gaya arsitekturnya mengadopsi Masjid Cheng Hoo Surabaya yang telah lebih dulu menjadi ikon pariwisata. Lantai dasar Masjid Cheng Hoo Pandaan digunakan untuk ruang pertemuan yang disewakan, namun bagi jamaah yang ingin tidur sejenak dipersilahkan di ruang tersebut. 

Lantai dua khusus sholat dan tidak boleh digunakan untuk tiduran. Ukuran keseluruhan masjid dua lantai ini adalah 50 x 50m. (berbagai sumber)

Yuk, Lihat Al Quran Terbesar di Indonesia

#
Siapa yang tidak tahu dengan pempek Palembang, ya pasti semuanya sudah familiar dengan makanan yang satu ini. Ada yang berbentuk bundar, lonjong atau yang lainnya, nikmat rasanya apabila disajikan dengan bumbu yang sedikit pedas dan pempeknya yang lumayan panas. Jika anda berada di kota ini, rasanya berdosa apabila tidak melahapnya.
Namun bagaimana jika anda ingin melihat Al Quran yang bentuknya jauh dari ukuran normal Al Quran pada umumnya yang ukuran perlembarnya mencapai 2 x 1,2 meter dan memiliki tinggi 9 meter berukuran 177 x 144 x 2,5 cm? Nah, di Palembang jualah Al Quran itu berada.
            Adalah Al Quran Al-Akbarnamanya, yang di klaim sebagai Al Quran pahat terbesar di dunia. Tak tanggung-tanggung besarnya Al quran sebesar biaya pembuatannya yang menelan biaya sampai Rp 2 miliar ini.  Al quran ini memang berbeda karena berbahan 315 lembar kayu Tembesu dan berjumlah 630 halaman, lengkap dengan 30 juz ayat suci Al Quran
foto: www.wowkeren.com
Tujuan dibuatnya Al Quran ini pun mulia  karena untuk  untuk meningkatkan minat baca Al Quran sekaligus melestarikan seni ukir Palembang. Rencananya, Al Quran ini nantinya akan diletakkan di Museum Mushaf Alquran Al-Akbar yang masih dalam tahap pembangunan.
Sebenarnya Ide pembuatannya sudah ada sejak Ramadan tahun 2002 akan tetapi baru selesai pada tahun 2007. Setelah selesai, Al Quran ini pertama kali diletakkan di Masjid Agung Palembang, kemudian dipindahkan ke pesantren Al-Ihsaniyah, Kecamatan Gandus, Palembang.
AL Quran ini merupakan suatu karya fenomenal tak diupungkiri, lantaran Delegasi negara Islam peserta Parliamentary Union of OIC Member States (PUIC) Conference ke-7, yaitu Lebanon, Libya, Iran, Malaysia, Sudan, Uganda dan Irak mengutarakan kekagumannya terhadap Al Quran Al Akbar yang merupakan karya ukiran bernilai seni agama. Tak hanya itu, mereka menilai Al Quran Akbar  yang dipamerkan di Pondok Pesantren Modern IGM Al Ihsaniyah Gandus Palembang di Jalan M Amin Fauzi, Soak Bujang, Gandus ini merupakan karya terbaik dan terbesar di dunia.
Delegasi negara Islam asal Baghdad, Irak, Sulaiman mengatakan, dirinya sangat antusias melihat langsung hasil karya ukiran Al Quran Al Akbar.  Sama halnya diungkapkan delagasi negara Islam asal Nigeria, Sade Umar Abu Bakar.  Dikatakannya, karya Alquran Al Akbar ini merupakan salah satu hasil karya yang sangat luar biasa dan patut menjadi sejarah Islam. Alquran Al Akbar ini merupakan satu-satunya yang ada di dunia.
Selain di Palembang, Al Quran ukuran raksasa juga bisa ditemukan di  Makassar tepatnya di  Masjid Raya Makassar. Sejak 25 Agustus 2009  Al Quran itu mulai dipajang  dan menjadi daya tarik bagi warga untuk datang ke masjid. Jika masuk dari pintu utama Masjid Raya, maka mata langsung tertuju pada Al-Quran raksasa dengan ukuran 1x1,5 meter itu.
foto: www.jalanjalanyuk.com
          Al Quran yang isinya 30 juz dengan 6.666 ayat, sama persis dengan Al-Quran asli tersebut merupakan pemberian dari pendiri perusahaan Bosowa yang dipesan di sebuah pesantren milik Yayasan l Asy'ariyah, Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah. Untuk pembuatan Al Quran tersebut butuh waktu satu tahun, Sementara untuk mejanya dibutuhkan waktu tujuh bulan untuk mengeringan kayu jatinya agar bisa bertahan ratusan tahun tidak dimakan rayap.
Ada pula Al Quran berukuran di Jumbo di Parung, Bogor, di Pondok Pesantren Al-Ashriyah Nurul Iman tepatnya. Al Quran ini memiliki panjangnya mencapai 2 meter dan lebarnya 2,8 meter. Yang unik dari Al Quran ini adalah bahannya bukan terbuat dari kertas, melainkan terbuat dari pelepah pohon pisang dan  Isinya pun lengkap seperti ukuran Al-Qur'an pada umumnya, yaitu 30 juz, 114 surat dan 6.666 ayat.
Kendati berada di Indonesia, tetapi Al-Qur’an yang ditulis tangan yang berada di Ponpes ini ternyata berasal dari Moro Filipina. Pengiriman Al Quran ke ponpes ini dalam rangka hibah.  Wujudnya pun masih berupa lembaran dan tersimpan di dalam Masjid Thoha yang berada di dalam Ponpes Al-Ashriyah Nurul Iman. (berbagai sumber)
foto: www.mataduniaonline.blogspot.com