Tampilkan postingan dengan label surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surabaya. Tampilkan semua postingan

2 Makam Tua yang cocok buat Anda Jepret Kamera

#

Jelas makam-makam di bawah ini bukan sembarang makam yang hanya ada batu-batu nisan bertuliskan nama seseorang saja. Bukan pula makam yang muda usianya, soal umur boleh dibilang makam ini mungkin lebih tua dari anda yang membidikkan mata lensa ke setiap sudut arsitekturalnya. Yup, mereka yang bersemayam tenang di makam ini mungkin adalah mereka yang  ada di cerita dalam literasi sejarah yang pernah anda baca.

Teramat istimewa untuk dilewatkan begitu saja bukan, saat anda berada di kota tempat makam itu berada? Jarang anda bisa menemui sebuah makam yang kaya akan artistikal desain bangunannya ini. Belum lagi di makam-makam itu tak jarang ditemui  ragam jenis patung-patung yang membuat suasana menjadi sedikit berbeda, seakan-akan makam itu memang tempat “peristirahatan” yang terakhir. Terbaring selamanya dengan malaikat penjaga di sisinya.

Sebelum kesana ada baiknya siapkan terlebih dahulu kamera yang anda punya, riset sejenak di sela waktu sebelum berkunjung mengenai sejarah dari makam itu agar punya sedikit gambaran. Setelah semuanya siap mari menghabiskan waktu dalam bingkai sejarah masa lalu di Taman Makam Prasasti dan Makam Peneleh Surabaya.

1.Taman Makam Prasasti Jakarta

Jika anda orang Jakarta, untuk menemukannya tidak terlalu susah karena makam prasasti tidak asing lagi di kota ini. Jika anda berada di Jalan Tanah Abang tinggal tanyakan kepada siapa saja yang ada di sana yang sekiranya dapat memberikan keterangan dimana letak makam prasasti, maka akan terlontarlah arah menuju makam. 
sumber foto: www.kroweku.wordpress.com
Sedikit membahas sejarahnya, makam Prasasti ini dibangun pada tahun 1795 awalnya bernama Kebon Jahe Kober, lalu berganti nama menjadi Museum Taman Prasasti setelah Gubernur Ali Sadikin meresmikannya menjadi sebuah museum pada tahun 1977. Namun makam ini sempat tutup pada tahun 1975 untuk kepentingan pembangunan walikota Jakarta Pusat. Banyak makam-makan yang dipindahkan ke pemakaman Tanah Kusir. Luas makam yang sedarinya seluas 5,9 hektar dengan 4.200 batu nisan itu, pun menyusut hanya menjadi 1,3 hektar dengan 1.372 batu nisan yang tersisa dan hanya 32 batu nisan yang tetap berada di tempat aslinya.
sumber foto: www.theheartofbatavia.blogspot.com
Dengan biaya masuknya yang cukup ramah di kantong, siapa-siapa saja yang dapat anda jumpai di makam ini?  gerakkan badan anda dari pintu masuk sampai ke dalam makam, karena di sana telah menanti aneka jenis patung dan batu nisan, dari batu nisan FH Roll, pendiri sekolah kedokteran STOVIA, Olivie Mariamne Raffles yang tak lain merupakan istri dari Thomas Stanford Raffles, A.V. Michiels (tokoh militer Belanda pada perang Buleleng),  dan tokoh penting pada masa Hindia Belanda.  Tak hanya itu, jika di sana pun terdapat nisan makam aktivis pergerakan mahasiswa di tahun 1960-an, Soe Hok Gie 

Selain nisan-nisan kuno, makam ini juga menyimpang peti jenazah dari presiden pertama RI dan wakilnya, berikut dengan kereta kuda pengangkut jenazah yang kondisinya masih bagus dan utuh, lengkap dengan empat rodanya. Museum Prasasti sendiri terbuka untuk umum dan buka setiap hari dari jam 8 pagi hingga malam hari. Di tempat ini tak jarang digunakan oleh para fotografer untuk hunting foto dengan latar belakang sebuah pekuburan tua.

2. Makam Peneleh Surabaya

Tak kalah tua dengan Makam Taman Prasasti, Makam yang bernama Peneleh ini sudah ada sejak tahun 1814. Di bangun dengan konsep pemakaman modern oleh pemeritah kolonial Belnda, makam yagn terletak di Jl Makam Peneleh, Surabaya ini memiliki tata letak makam yang rapi dan teratur. Selain itu juga memiliki catatan tentang jenazah yang dimakamkan, silsilah keluarga dan fasilitas krematorium yang sudah ada  sejak kompleks pemakaman ini dibangun.

Makam kuno ini memiliki bentuk yang unik dan menarik. Ada makam yang dibangun dengan menggunakan batu yang disemen, batu marmer  dan ada juga yang menggunakan besi tempa. Beberapa makam dihiasi dengan berbagai ornamen yang berupa patung atau ornamen-ornamen hiasan lainnya.Seperti patung dan relief Yesus Kristus, Bunda Maria, malaikat , Salib, wajah anak-anak dan sebagainya
sumber foto: www.intaninchan.wordpress.com
Ada juga ornamen berbentuk rangkaian bunga menghiasi tulisan pada nisan makam tersebut. Tulisan itu dalam bahasa Belanda yang berisi informasi tentang jenazah  yang berada di  dalam makam itu.. Ada juga yang bertuliskan kata-kata kenangan dari istri, anak dan keluarga yang ditinggalkan. Dengan bentuk dan nuansa kunonya yang cukup khas dan artistik, kawasan makam Peneleh ini sering menjadi lokasi pemotretan untuk fashion, pre wedding atau aktifitas fotografi lainnya. (berbagai sumber)

Dekatkan diri pada Alam di Hutan Manggrove Jakarta, Surabaya dan Bali

#
Merasa jenuh dengan aktivitas sehari-hari yang menyesakkan, jengah dengan kemacetan-kemacetan “gila” yang selalau mendera di saat kita berkendara, belum lagi dengan kerja yang tidak ada habis-habisnya. Jelas semua itu menjadi beban tersendiri yang berkontribusi pada timbulnya rasa stres pada diri anda bukan?

Sepertinya anda membutuhkan semacam katarsis untuk melepaskan beban yang semakin menumpuk di pundak. Salah satunya alternatifnya adalah anda harus kembali ke alam. Ya alam, disanalah anda dapat melakukan relaksasi psekaligus membebaskan pikiran, alih-alih kekuatan alam dapat membebaskan anda dari belengu stres yang melanda.

Tetapi yang menjadi pertanyaan sekarang adalah dimanakah “alam” itu ada di saat anda tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta dan . Nah, jangan kuatir jika anda berada di Jakarta sempatkanlah datang di Hutan Manggrove atau Suaka Margasatwa Muara Angke yang berada di utara Jakarta tepatnya di Penjaringan dekat dengan perumahan Pantai Indah Kapuk.
sumber foto: www.uniqpost.com
Mengapa harus kesana?, mungkin itu pertanyaan yang terlintas di benak anda. Di Hutan Mangrove yang merupakan satu-satunya di Jakarta ini mampu menawarkan sensasi tersendiri berikut hiburan “alam” yang tidak dapat ditawarkan oleh tempat-tempat lainnya di Jakarta. 

Suaka Margasatwa Muara Angke  atau yang biasa disingkat SMMA ini adalah kawasan hutan bakau (mangrove) seluas 25,02 hektar dan dihuni sekitar 91 spesies burung, yakni 28 spesies burung air dan 63 spisies burung hutan. Sebagian besar merupakan burung dilindungi, seperti Burung Sikatan Bakau (Cyornis rufigastra), Prenjak Jawa (Prinia familiaris), Cerek Jawa (Charadrius javanicus)

SMMA ini pun menjadi habitat terakhir dari Bubut Jawa (Centropus Nigrorufous), salah satu spesies yang terancam punah dari muka bumi. Selain itu tempat ini juga dihuni oleh Bangau Bluwok (Mycteria Cinerea). Bangun jenis ini diketahui hanya berkembangbiak di Pulau Rambut yang terletak tidak jauh dari Muara Angke

Selain jenis burung, kawasan ini juga masih dapat dijumpai satwa-satwa lainnya semisal monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis) yang hidup berkelompok yang suka memakan daun-daun muda dan buah-buahan seperti Pidada (Sonneratia Caseolaris).

Keberadaan monyet-monyet itu memiiliki arti penting bagi SMMA. Pasalnya,  monyet-monyet itu dapat membantu penyebaran biji-bijian tumbuhan hutan. Dimana saat mereka mengkonsumsi buah-buahan hutan, biji buah yang tak dapat dicerna akan dikeluarkan kembali bersama feses dan akhirnya akan menjadi benih tanaman yang baru

DI SMMA hidup pula beragam binatang lainnya, mulai dari ular Sanca (Phyton Reticulatus), Biawak (Varanus Salvator), ular Kobra (Naja Sputatrix), ular Welang (Bungarus Fasciatus), ular Kadut ( Homalopsis Buccata), ular Cincin Emas (Boiga Dendrophylla), sampai ular Air (Cerberus Rhynchops)

Berada di Hutan Manggrove ini ada baiknya jika menyusuri board walk di atas rawa yang terbuat dari kayu dengan berjalan kaki, sejauh mata memandang akan terlihat hijaunya warna tanaman bakau. Kicauan burung pantai menjadi musik pengiring langkah kaki anda  berikut dengan pemandangan biawak-biawak yang beruntung jika anda dapat melihatnya. Pohon bakau yang ada memiliki akar tunjang yang bercabang-cabang dan tingginya bisa mencapai 0,5 - 2 meter.

Itu Hutan Mangrove di Jakarta, lantas bagaimana dengan yang ada di Surabaya? Hutan Manggrove di Surabaya terletak di kawasan Pantai Timur Surabaya atau Pamurbaya. Adalah Wisata Anyar Mangrove (WAM)  namanya,  yang terletak di RW VII Kecamatan Gunung Anyar.

Daerahnya yang berada di bibir pantai ini merupakan bentang alam datar dengan kemiringan antara 0-3 persen. Kawasan ini ada kkarena terbentuk dari  hasil endapa sistem sungai yang ada di sekitarnya dan pengaruh laut. Kondisi daerah delta dengan tanah aluvial merupakan habitat yang baik bagi terbentuknya ekosistem mangrove.

sumber foto: wamsby.wordpress.com
Hutan mangrove ini mampu membuat 147 spesies burung untuk datang. Dari 84 spesies burung yang diketahui menetap di Pamurbaya, 12 spesies adalah  jenis yang dilindungi. Jenis burung tersebut tidak hanya burung air seperti kuntul perak, pecuk hitam, mandar padi, mandar batu, dan kowak malam. Selain itu, tempat ini merupakan tempat persingahan ribuan burung migran setiap tahun. Diketahui ada 44 jenis burung migran yang singgah di Pamurbaya. Burung tersebut kebanyakan asal Benua Australia menuju Eropa.

Dengan harga yang terjangkau, masyarakat bisa menikmati keindahan hutan mangrove yang masih "perawan" dengan menyusuri Sungai Kebun Agung hingga Sungai Tambak Klangri. Ingin berkeliling memnyusuri tak pelru kuatir karena  bisa berkeliling menyusuri pantai berhutan bakau tersebut.

Pengelola telah menyiapkan sebuah perahu motor berkapasitas maksimal 40 orang untuk menikmati keindahan lokasi itu. Untuk pengamanan, pengelola juga menyediakan pelampung dan fasilitas wisata lainnya. Perahu yang disewakan tersebut biasanya bergerak mulai dari dermaga Sungai Wonokromo menuju Selat Madura. Para pengunjung bisa menikmati rimbunnya hutan mangrove, burung-burung yang beterbangan  dan hinggap di ranting-ranting pohon mangrove.

Sedikit ke Timur, ada Hutan Manggrove Bali yang berada di kawasan Suwung Kauh, Denpasar. Hutan yang berada di sebelah kiri jalan By Pass Ngurah Rai ini merupakan proyek pengembangan pengelolaan hutan mangrove yang dibantu oleh pemerintah Jepang melalui Japan Internasional Cooperation Agency (JICA)

Apa saja yang ada di sana? seperti umumnya hutan manggrove lainnya, apa yang ada di hutan manggrove ini pun tak jauh berbeda, mulai dari pemandangan yang menyejukkan plus hewan-hewan yang biasa mendiami hutan mangrove.

Untuk mengelilingi hutan dapat menggunakan jembatan kayu yang telah disediakan. Jembatan ini sangat panjang dan di beberapa titik terdapat menara pantau berikut dengan pondok persitirahatan. Harga tiketnya sangat murah, tak lebih dari Rp.10.000 anda pun dapat mengitari hutan mangrove sampai puas(berbagai sumber)




Monumen Jenderal Sudirman di Beberapa Kota Indonesia

#
Siapa yang tidak mengenal pahlawan nasional yang satu ini, ya Jenderal Sudirman. Serpak terjangnya di era perang kemerdekaan tak mungkin disangsikan lagi. Panglima dan Jenderal Republik Indonesia yang pertama sekaligus termuda ini, berhasil melawan pasukan Inggris dan NICA dalam perang besarnya, Palagan Ambarawa. Belum lagi saat Agresi Militer ke-2, Jenderal Sudirman dalam keadan sakitnya masih terus melangsungkan perang dengan cara bergerilya, pindah dari satu hutan ke hutan lainnya.

Kini untuk mengenang jasa-jasanya banyak di kota-kota di Indonesia, selain mempunyai jalan raya yang dinamakan Jalan Jenderal Sudirman,  juga berdiri monumen Jenderal Sudirman. Nah dimana sajakah itu? mari kita melongok satu persatu
sumber foto: www.dwi-x.blogspot.com
1. Monumen Jenderal Soedirman, Surabaya
Monumen Jenderal Sudirman di Surabaya terletak di  Jalan satu utama yang selalu sibuk setiap harinya, yaitu jalan Yos Sudarso. Monumen ini didedikasikan untuk semua masyarakat Jawa Timur yang di gagas oleh Letnan Jenderal M. Yasin sebagai Komandan VII Brawijaya pada saat itu. Di bawah patung juga ada pahatan dari beberapa kata dari Panglima Jenderal Soedirman yang menunjukan semangat untuk terus berjuang, mempertahankan tanah air, tidak pernah menyerah dan selalu berjuang bagi bangsa dan negara.
sumber foto: www.vaquitabandpurwokertopamijen.blogspot.com
2. Monumen Jenderal Soedirman, Purwokerto
Monumen Jenderal Soedirman di Purwokerto berada di pintu masuk kota ini dari arah barat tepatnya di sebelah timur Sungai Logawa di Jalan Dr. Soeparno 24 Purwokerto. Monumen ini terdiri dari dua lantai. Pada lantai bawah berisi foto-foto perjuangan Panglima Besar yang berasal dari Cilacap (tetangga Banyumas) ini dalam merebut Yogyakarta kembali sebagai ibukota Indonesia (pada saat itu) dari kolonial Belanda. Sedangkan pada lantai dua berisi relief sejarah bangsa Indonesia dalam Perang Kemerdekaan 19.  Patung Jenderal Soedirman sedang duduk di atas punggung kuda yang terbuat dari perunggu seberat 5,5 ton dengan tinggi 4,5 meter.
sumber foto: www.kotaperwira.com
3. Monumen Jenderal Soedirman, Purbalingga
Panglima Besar Jendral Soedirman ini berada di dukuh Rembang desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga. Monumen dibangun pada tanggal 6 Februari 1976, oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga pada masa Bupati Goentoer Darjono,sebagai “tetenger” sekaligus sebagai penghargaan atas jasa-jasa perjuangan beliau menegakkan kemerdekaan NKRI.
sumber foto: www.eril-extrada.blogspot.com
4. Monumen Jenderal Soedirman, Nganjuk
Monumen terletak di desa Bajulan, kec. Loceret arah selatan kota Nganjuk, Monumen  didirikan sebagai tanda bahwa di desa Bajulan pernah disinggahi Panglima Besar Jendral Soedirman selama 9 hari dalam rute perjalanannya memimpin perang gerilya melawan Belanda pada tahun 1949. 3 km dari monumen ke arah selatan terdapat padepokan yang sekarang dijadikan museum, juga tempat wudlu, tempat perundingan, serta tempat shalat yang pernah dipakai Jenderal Sudirman selama tinggal di desa Bajulan.

5. Monumen Jenderal Sudirman, Gunung Kidul, Yogyakarta
Monumen ini berlokasi di kawasan Gua Pindul, Bejiharjo, Gunung Kidul, Yogyakarta dan menyimpan sejarah perlawanan Jenderal Sudirman dalam perang kemerdekaan. Asal muasal pembangunan monumen itu. 'Peringatan 10 Maret 1949, Markas Komando Pemerintahan Militer Kabupaten Gunungkidul, Yang terletak di Desa Gelaran diserbu dan dibakar oleh tentara Kolonial Belanda. Lokasi monumen ini dekat sekali dengan objek wisata Gua Pindul.  Objek wisata Gua Pindul merupakan salah satu gua yang dialiri sungai bawah tanah. Keajaiban alam di Gua Pindul ini memang banyak memikat wisatawan. (berbagai sumber)

Perhatian! Taman Lansia ada di mana-mana

#
Dilihat dari namanya mungkin pikiran kita langsung tertuju kepada orang tua yang telah lanjut usia. Yup, ada benarnya juga, seperti Monumen Jenderal Sudirman yang banyak berdiri di beberapa kota di Indonesia, Taman Lansia pun demikian. Di beberapa kota terdapat taman yang menggunakan nama yang sama, yaitu Taman Lansia atau Taman Lanjut Usia.

Taman ini mempunyai beragam fungsi bagi mereka yang ingin sekedar refreshing atau bersenang-senang. Dan uniknya, memang taman ini bernama taman lansia tetapi apalah arti sebuah nama, karena banyak pemuda-pemudi yang suka berkunjung ke taman ini, selain para lansia tentu saja.
sumber: www.santiago-yasir.blogspot.com
1. Taman Lansia di Bandung
Taman Lansia berada di sebelah kanan Gedung Sate. Taman Lansia ini menjadi semacam sarana bagi mereka ingin melepas lelah sekaligus kepenatan. Refresing segar ditemani semilir angin sepoi sungguh mengasyikkan, terlebih lagi jika dilakukan bersama keluarga atau handai taulan  saat hari sabtu, minggu atau hari libur lainnya.

Lapar disana tak perlu kuatir, di sekitaran Taman Lansia berdiri cafe-cafe beragam pangana yang siap mengisi perut Anda. Nah, bagi yang ingin berkuda sambil berkeliling taman, di sekitar taman terdapat banyak sekali penyewaan kuda. Bagi anak kecil dapat didampingi oleh sang pemilik kuda, atau bagi yang sudah berani berkuda sendiri dapat melakukannya tanpa didampingi sang pemilik kuda. Bagi keluarga yang ingin beramai-ramai menikmati taman dapat menyewa dokar.

2.Taman Lansia di Surabaya
Taman Lansia ini fungsinya tak jauh berbeda dengan Taman Lansia di Bandung, yaitu sebagai tempat hangout sekaligus rekreasi bagi warga kota. Taman ini  memang dimanfaatkan sebagai taman alternatif untuk semua orang tak terkecuali para lanjut usia.

Dengan luasnya yang mencapai 2000 m2 eks SPBU Kalimantan ini di sela warna warni tanaman  tersedia track khusus di buat untuk kenyaman kusi roda para lansia. Selain itu ada pula tempat duduk untuk penghantar saat menemani para lansia menikmati suasana kota di pagi atau sore hari.
sumber foto:www.prasetyowijaya.blogspot.com
Taman Lansia juga dihiasi oleh puluhan jenis bunga dan tanaman berwarna-warni, seperti, pandanus, teh-tehan, zisigium, erva merah, telo-teloan, rumput gajah, rumput jepang, andong merah, pandanwangi, cendrawasih, pakis boston, keindahan tanaman berbaur dengan air yang segar dan air mancur.

3.Taman Lansia di Magelang
Taman Lansia ini berada di  timur Jalan A. Yani, atau tepatnya di depan Kompleks Perumahan Militer. Taman seluas 3.800 m2 ini menjadi tamannya para lansia. Taman ini dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas seperti lantai pedestrian untuk refleksi yang dilengkapi dengan pegangan tangan, kursi taman yang nyaman serta tak ketinggalan penanaman warna-warni bunga dan pohon perindang sebagai penambah keindahan taman.

Adanya Taman Lansia ini merupakan ambisi Pemerintah Kota Magelang melalui Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Tata Kota berupaya untuk menata taman yang sudah ada selaijn juga untuk  memberdayakan lahan-lahan yang masih ‘nganggur’ alias belum dimanfaatkan secara optimal. Upaya ini tak lepas dari kebutuhan masyarakat akan tersedianya ruang publik yang nyaman untuk bersantai dan bersosialisasi. Hal pendorong ini lah yang mendorong Taman Lansia tercipta. (berbagai usmber)

Melihat-lihat Tiga Masjid Cheng Ho di Indonesia

#
Tanpa panjang lebar lagi memperinci siapa Cheng Hoo itu sebenarnya, bagaimana sejarah perjalanannya dan hubungannya dengan Indonesia. Nah, di Indonesia ini setidaknya ada  tiga masjid yang menggunakan nama tokoh yang pernah masuk 14 daftar urutan orang terpenting dalam milenium terakhir menurut majalah Life ini.

1.Masjid Cheng Hoo di Jakabaring Palembang
Sebenarnya masjid ini bernama Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo. Memang masjid ini tidak didirikan atau bekas peninggalan Cheng Hoo,  melainkan didirikan atas prakarsa para sespuh, penasehat, pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumsel, dan serta tokoh masyarakat Tionghoa di sekitar Palembang.

Pembangunan masjid percampuran unsur Cina, melayu, dan nusantara diawali dengan peletakkan batu pertama 2003. Modal awal pembangunan masjid itu sekitar Rp 150 juta dari hasil kumpul-kumpul dengan kawan-kawan di PITI. Tanah tempat masjid berdiri merupakan hibah dari pemerintah daerah dan baru diresmikan pada 2006.
Masjid Cheng Hoo Palembang, sumber: www.bujangmasjid.blogspot.com
Masjid berlantai dua ini dapat menampung kurang lebih 600 jemaah. lantai pertama digunakan untuk jemaah laki-laki, sedangkan lantai kedua untuk jemaan wanita. Menara di kedua sisi masjid meniru klenteng-klenteng di Cina dengan cat merah dan hijau giok.

 2. Masjid Cheng Hoo Surabaya
Masjid Cheng Hoo ini berlokasi di Jalan Gading, Ketabang, Genteng, Surabaya atau 1.000 m utara Gedung Balaikota Surabaya. Sama seperti pembagunan masjid Cheng Hoo di Palembang, masjid pun ini didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat, pengurus PITI, dan pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia Jawa Timur serta tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya. 

        Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya ini mampu menampung sekitar 200 jamaah. Bangunannya berdiri di atas tanah seluas 21 x 11 meter persegi dengan luas bangunan utama 11 x 9 meter persegi. Maknanya, angka 11 untuk ukuran Ka'bah saat baru dibangun, angka sembilan melambangkan Wali Songo dan angka 8 melambangkan Pat Kwa (keberuntungan/kejayaan dalam bahasa Tionghoa). Masjid Muhammad Cheng Ho juga memiliki delapan sisi di bagian atas bangunan utama. Ketiga ukuran atau angka itu ada maksudnya. 

MAsjid Cheng Hoo Surabaya, sumber: www.surabayakota.com
Masjid yang menyerupai klenteng ini di dominasi warna merah, hijau, dan kuning. Ornamennya kental nuansa Tiongkok lama. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda, terdapat juga relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk sebagai pelengkap bangunan masjid.





3. Masjid Cheng Hoo Pandaan, Pasuruan
Berbeda dengan Masjid Cheng Ho Surabaya dan Palembang yang didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat, pengurus PITI (Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) serta tokoh masyarakat Tionghoa, maka masjid Cheng Ho Pandaan ini dibangun dengan biaya dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

Masjid Cheng Ho Panda’an terletak di pinggir jalan raya Malang-Surabaya-Trawas-Tretes, Propinsi Jawa Timur. Lokasinya yang terletak di daerah yang memiliki pemandangan alam memukau menjadikan Masjid ini tempat istirahat sejenak yang menyenangkan bagi mereka yang melalui ruas jalan tersebut

Masjid Cheng Hoo Pasuruan, sumber:www.bujangmasjid.blogspot.com
Masjid Cheng Ho Pandaan gaya arsitekturnya mengadopsi Masjid Cheng Hoo Surabaya yang telah lebih dulu menjadi ikon pariwisata. Lantai dasar Masjid Cheng Hoo Pandaan digunakan untuk ruang pertemuan yang disewakan, namun bagi jamaah yang ingin tidur sejenak dipersilahkan di ruang tersebut. 

Lantai dua khusus sholat dan tidak boleh digunakan untuk tiduran. Ukuran keseluruhan masjid dua lantai ini adalah 50 x 50m. (berbagai sumber)