Tampilkan postingan dengan label sumatera barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sumatera barat. Tampilkan semua postingan

Antara Belanda Kecil dan Batu Bara di Sawahlunto

#

Anda yang tinggal di Sumatera Barat, tepatnya di Sawahlunto mungkin sudah tak asing lagi dengan arsitektural bangunan kota itu. Nah, bagi yang belum pernah ke Sawahlunto, mungkin bisa di lain waku datang kesana dan merasakan sensasi anda berada di sebuah kota yang disebut sebagai belanda kecil.

Mengapa Belanda kecil? Ya, karena banyak yang menyebutkan kota ini  terdapat bangunan-bangunan yang beraristektur seperti bangunan di negeri Belanda, salah satunya adalah Walikotanya sendiri. Seperti yang saya kutip dari situs berita travel, ia bilang hampir seluruh bangunan yang ada di Sawahlunto bergaya barat, seperti bangunan yang ada di Belanda. Suasana Belanda dipertahankan karena hingga pada 1990-an, masih ada ratusan warga keturunan Belanda yang tinggal di kota ini.
sumber foto: www.sawahluntokota.go.id
Belanda Kecil
Benar saja, jika dilihat dari banyaknya gedung di kota arang ini menunjukkan unsur “belanda”, mulai dari Gereja, sekolahan, gedung pemerintahan dibangun dengan arsitektur ala barat, bahkan sampai Museum Kereta Api Sawahlunto.

Museum ini sebelum dijadikan sebagai museum, tadinya merupakan  stasiun kereta yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1918. Museum Kereta Api Sawahlunto ini merupakan satu-satunya museum kereta api yang ada di Sumbar dan museum kereta api ketiga di Indonesia setelah Ambarawa dan Museum Transportasi di Taman Mini Indonesia Indah.

Selain Museum Kereta Api, ada pula Gedung Pusat Kebudayaan yang terletak di Jl. Ahmad Yani No. 4.  Tak kalah tuanya dengan museum itu, gedung ini juga dibangun pada tahun 1910 dengan nama "Gluck Auf" dan memiliki luas 870 meter persegi.

Gedung ini dulunya berfungsi sebagai gedung pertemuan (Societeit), dimana para pejabat pemerintah kolonial pertambangan berkumpul untuk menghibur diri sekaligus berolahraga di salah satu sisi bangunannya yang dijadikan sebagai tempat bermain olahraga boling dan biliar bagi para pejabat Belanda.

Tak hanya kedua bangunan itu, ada lagi bangunan yang bernama Goedang Ransum yang kini telah menjelma tidak lagi sebagai tempat dapur umum, melainkan menjadi sebuah museum. Bangunan ini didirikan pada tahun 1918. Seperti namanya,  Goedang Ransum dibangun sebagai dapur umum, tempatnya memasak para koki untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi pekerja tambang. 

Belum cukuplah sampai di sana, Sawahlunto juga mempunyai Masjid Raya Sawahlunto yang bersejarah lantaran sama seperti bangunan-bangunan di atas yang dibangun pada zaman pemerintahan kolonialis Belanda. Tahun 1894 bangunan ini didirikan  sebagai pusat energi listrik PLTU (power plan) di Kubang Sirakuak untuk menggerakan berbagai mesin mempercepat proses penambangan dan pengangkutan batubara. 

Bangunan ini terus berevolusi perihal fungsi dan peranannya, tempat ini pernah menjadi gudang dan perakitan senjata dimasa revolusi dimana terdapat bungker yang dipergunakan oleh para pejuang kemerdekaan sebagai tempat penyimpanan senjata seperti granat senjata api lainnya. Dan akhirnya  tahun 1952 pada bekas bangunan PLTU yang megah itu, dibangun tempat peribadatan muslim, (sekarang Mesjid Raya Kota Sawahlunto). Sedangkan bekas menara cerobong asap PLTU yang berketinggian lebih dari 75 meter dijadikan menara mesjid.

200 Juta Ton Batubara
Orang-orang Belanda banyak mendirikan bangunan disini  karena daya tarik dari Sawahlunto, yaitu kekayaan alamnya yang berupa kandungan batu-bara yang melimpah ruah. Sawahlunto dalam penelitian yang pernah dilakukan De Greve pada tahun 1867 menyebutkan, kandungan batu bara di kota itu mencapai  200 juta ton batu bara. Kandungan batu bara itu berada di sekitar aliran Batang Ombilin, salah satu sungai yang ada di Sawahlunto.

Setelah hasil penelitian itu diumumkan di Batavia pada tahun 1870,  pemerintah Hindia-Belanda pun mulai membuat perencanan soal pembangunan sarana dan prasarana yang dapat memudahkan eksploitasi batu bara di Sawahlunto. 

Pembangunan dimulai selang beberapa tahun kemudian dan kota ini  mulai memproduksi batu bara pada tahun 1892. Syahdan. Sawah lunto menjelma menjadi kawasan permukiman para pekerja tambang , dan terus berkembang menjadi sebuah kota dengan rata-rata penduduknya berprofesi  sebagai pegawai dan pekerja tambang. 

Di tahun 1889, pemerintah Hindia-Belanda mulai membangun jalur kereta api menuju Kota Padang untuk memudahkan pengangkutan batu bara keluar dari Kota Sawahlunto. Jalur kereta api tersebut mencapai Kota Sawahlunto pada tahun 1894, sehingga sejak angkutan kereta api mulai dioperasikan produksi batu bara di kota ini terus mengalami peningkatan hingga mencapai ratusan ribu ton per tahunnya. Wow!!!(berbagai sumber) 

Tradisi Unik Pacu Itiak di Sumatera Barat

#

Jika di Probolinggo marmut menjadi bintang utamanya dalam Karapan Marmut, nah lain halnya di Sumatera Barat tepatnya di daerah Nagari Tanjung, Kecamata Luak, Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat. Pasalnya, disana ada tradisi masyarakat dimana seekor itik digunakan dalam sebuah lomba adu cepat yang namanya Pacu Itiak atau balapan itik. Di tradisi inilah itik menjadi bintang yang dielu-elukan untuk menjadi juara terdepan.
sumber foto:www.sandurezu.wordpress.com
Anda pasti tahu dengan itik bukan? namun apakah semua itik bisa dilombakan dalam Pacu Itiak ini? dan ternyata jawabannya adalah tidak karena Itik yang digunakan dalam balapan ini bukanlah sembarang itik melainkan itik dengan kriteria khusus. Kriterianya pun macam-macam, mulai dari warna paruh dan kaki harus sama, mata dengan alis memiliki jarak yang tipis, leher pendek, sayapnya tidak boleh berpilin tetapi harus lurus dan mengarah ke atas, jumlah giginya ganjil, ujung jarinya ada sisik kecil, sampai dengan badan yang pajang (seperti jantung). Umur itik pun tak boleh tua yaitu harus berusia 4 sampai 6 bulan.

Jika Karapan Marmut, marmut dipaksa untuk berlari di tanah balap yan telah disediakan, di pacu itik, itik dipaksa terbang setelah dilepaskan untuk menuju garis finish. Itik memang dikenal sebagai hewan yang jarang terbang namun dalam perlombaan ini seperti membuktikan bahwa itik ternyata dapat terbang jauh. Jadi siapa yang mencapai garis finish duluan maka dialah yang menjadi juara. Itiak itu dipegang sedemikian rupa oleh para pemilik itiak untuk kemudian dilemparkan tinggi melambung ke udara. Setelah itiak dilepaskan, maka itiak-itiak tersebut akan terbang  menuju garis finish. 

Seperti halnya orang pacu lari, pacu itiak pun memiliki jarak terbang yang sudah dibuat dalam beberapa pilihan, yakni mulai dari 800 m hingga 2000 m. Penilaian dilakukan yakni dengan melihat itiak yang mampu terbang di atas jalur yang telah ditentukan dan mampu mencapai garis finish paling cepat. 

Sebagai catatan, Pacu itiak adalah olahraga tradisional asli Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat yang sudah dijadikan tradisi sejak tahun 1028. Pacu Itiak diklaim sebagai satu - satunya di dunia. Olahraga ini bermula dari masyarakat di kanagarian Aur Kuning, Sicincin, dan Padang Panjang yang memelihara itiak sambil bertani. Itiak tidak hidup di kandang saja melainkan di gembala di sawah-sawah mereka. (berbagai sumber)

Dari Sabang sampai Merauke Terbentang Gua Jepang Bag I

#
Seperti  gajah mati meninggalkan gadingnya, penjajah Jepang pun pergi meninggalkan jejak sejarahnya. Namun bukan cerita kelam, peninggalan senjata atau yang lainnya, tetapi berupa gua. Yup, seperti yang kita ketahui Jepang pernah menjajah nusantara ini kurang lebih tiga setengah  tahun lamanya. Nah, dalam masa kependudukannya yang seumuran jagung itu Jepang banyak mendirikan basis-basis pertahanannya, dan gua di Indonesia banyak dimanfaatkan oleh bala tentara sakura untuk melindungi dirinya dari serangan musuh. Tanpa panjang lebar, mari kita tengok gua-gua mana saja pernah digunakan oleh tentara jepang

Pertama adalah Gua Jepang di Bukitinggi, Sumatera Barat yang letaknya persis disamping Ngarai Sianok, atau di bawah Taman Panorama. Gua ini lumayan panjang yaitu satu setengah kilometer, namun sekarang hanya sekitar 750 meter. Lorong masuknya sangat dalam dan panjang. Ada sekitar 128 anak tangga untuk turun ke bawah sebelum akhirnya para pengunjung melewati ruang demi ruang Gua Jepang itu.
         
        Di dalam guanya sendiri terbagi dalam beberapa kamar, mulai dari lorong untuk rapat para serdadu, tempat makan hingga kamar para tahanan yang orang Indonesia.  Kalau dijumlah ada  12 barak militer, 12 tempat tidur, 6 buah ruang amunisi, dua ruang makan romusha dan satu ruang sidang. 

sumber foto: www.yopium.wordpress.com
       Yang unik adalah gua ini mempunyai beberapa lorong saluran untuk ke atas tanah, dan beberapa lorongnya dipakai sebagai lorong penyergapan dan pengintaian bagi para penduduk Indonesia yang kebetulan melintasi daerah itu. Jelas kegunaan utama dari Gua Jepang ini untuk basis pertahanan militer penjajah Jepang dari serangan Sekutu, tapi tak seorangpun yang mengetahui secara pasti kapan gua-gua jepang  ini mulai dibangun.

Kedua ada Gua Jepang di Pengandaran, Jawa Barat, letak persisnya berada di dusun Ngreco, dan Poyahan, Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong. Gua Jepang ini merupakan peninggalan Perang Dunia II yang digunakan juga pastinya untuk sarana pertahanan militer di zaman Jepang pada tahun 1942-1945. Yah namanya juga Jepang pasti mengandalkan tenaga romusha untuk membangun sesuatu, begitu juga dengan gua ini yang banyak mengandalkan  para pekerja paksa (Romusa) selama ± 1 tahun.

sumber foto: www.disparbud.jabarprov.go.id

Di gua ini di temukan setidaknya 18 bangunan bunker yang sebagian besar masih dalam keadaan utuh. Bentuknya pun beranekaragam serta mempunyai fungsi yang berlainan pula, misalnya sebagai tempat pengintaian, ruang tembak, ruang pertemuan, gudang dan dapur. 

Ketebalan dinding rata-rata 50-70 cm , dari bahan beton bertulang, semen dan batu padas yang sudah tersedia di sekitarnya. Bunker-bunker tersebut dibangun saling berdekatan (30 m), serta dihubungkan dengan parit perlindungan yang berada di luar setinggi (1 m).

Dan yang ketiga masih berada di Jawa Barat ada Gua Jepang di Garut. Gua Jepang berada di sebuah lembah di antara dua bukit yang bernama Puncak Munasim. Goa di lembah ini ada 4, salah satunya menjadi sarang kelelawar dan sumber mata air bagi penduduk Cikopo.

sumber foto: www.fhetanblog.wordpress.com

Gua Jepang di Garut ini tidaklah terlalu dalam dan hanya sekitar 10 meter. Gua ini adalah tempat persembunyian tentara Jepang dari serbuan udara pasukan Belanda. Goa ini lagi-lagi dibangun dengan menggunakan tenaga romusha dengan sistem kerja paksa. Lokasinya memang jauh dari Kota Kabupaten Garut, sekitar 99 Km ke arah selatan dan dapat ditempuh dengan perjalanan sekitar 2-3 jam. (berbagai sumber)

Gua dan Para Pejuang Indonesia

#
Menelisik keberadaan dari sebuah gua di Indonesia ternyata cukup krusil juga, pasalnya gua-gua di Indonesia pada zaman negeri belum merdeka banyak digunakan oleh para pejuang kemerdekaan kita untuk melawan kaum penjasjah. Banyak yang mereka lakukan di dalam sana, dari mulai mengatur strategi perang melawan kaum penjajah sampai dijadikan tempat untuk sekedar singgah sementara setelah berjibaku dengan banyak peluru. Dimana sajakah gua-gua itu berada, nah dibawah ini ada beberapa gua-gua di Indonesia yang dekat dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia:
          Yang pertama adalah Gua Kamang yang terletak di Jorong Durian, Kanagarian Kamang Mudik, Kecamatan Kamang Magek. Gua ini pernah dipergunakan oleh para pejuang Agam dalam perrang perjuangan kemerdekaan. Gua ini dijadikan sebagai tempat untuk mengatur strategi dalam Perang Kamang, diantara tokoh yang pernah menggunakannya adalah Haji Abdul Manan.
sumber foto: www.agamkab.go.id
Selain itu di tahun 1831, gua ini juga pernah digunakan sebagai benteng bagi Tuanku Nan Renceh dan pengikut-pengikutnya. Beliau adalah salah seorang perwira dan pejuang nan masyhur pengikut Tuanku Imam Bonjol pejuang kemerdekaan melawan penjajah dalam Perang Padri 1821-1837. Nan Rencch dikenal pula sebagai satu di antara Harimau Nan Salapan (Harimau Yang Delapan) di Luhak Agam. Dalam gua Ngalau Kamang ini ada ruangan seluas 70 meter persegi tempat Tuanku Nan Renceh mengatur siasat dan mempertahankan diri.  Ngalau Kamang yang mempunyai panjang sekitar 5 km sering dikunjungi oleh masyarakat dalam kegiatan wisata.
Gua yang berjarak 15 kilometer dari Bukittinggi, Padang, Sumatera Barat ini sangat mudah dicapai dengan berbagai jenis kendaraan. Jalan ke sana cukup baik datar sekalipun ada yang belum diaspal. Pintu-pintu gua pun dihiasi dengan gerbang model rumah gadang.
Kedua ada Gua Grobogan yang panjangnya lebih pendek dibanding dengan gua diatas yaitu tujuh kilometer yang berada di pegunungan Kendeng Selatan di Desa Sumberjosari Kecamatan Karang Rayung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Gua ini konon katanya sudah ada beratus-reatus tahun yang lalu dan diduga menjadi tempat persinggahan para pejuang pada masa penjajahan Belanda. Gua tersebut adanya di pinggiran sawah warga Sumberjosari Karang Rayung dan sekeliling gua dipenuhi rerumputan yang tinggi layaknya areal pegunungan.
Yang ketiga Gua Borallah, Goa ini disebut masyarakat dengan nama Goa Borallah tepatnya berada di Hutapungkut Julu, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Gua ini mempunyai arti penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia lantaran pernah digunakan oleh para pejuang kemerdekaan RI sebagai temppat persembunyian dan rapat dalam menyusun strategi dalam mengusir penjajajah dari bumi pertiwi ini. Di antara para tokoh kemerdekaan yang pernah menggunakan gua ini tercatat ada  H. Adam Malik, Tan Malaka, H. Sujak dan pejuang kemerdekaan lainnya.
 Keempat, letaknya di Kediri, ada Gua yang bernama Gua Surowono, nah pada masa perang kemerdekan Gua itu digunakan sebagai tempat persembunyian para pemuda dan para pejuang laki-laki Indonesia yang ingin mempertahankan daerah tersebut. (bersambung)