Tampilkan postingan dengan label medan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label medan. Tampilkan semua postingan

Ngopi-ngopi di Kedai Kopi Legendaris

#
Kopi ohh kopi, sepertinya minuman yang satu ini sudah cukup melegenda  dan membudaya di antara kita semua. Siapa yang tidak pernah mencicipi kopi, rasanya sangat jarang dan hampir semua orang pernah merasakan hitamnya sebuah kopi. Dari rakyat kecil yang tinggal di pinggiran sungai sampai mereka yang tinggal dalam perumahan mewah.

Keberadanya di negeri ini terbilang sudah lama, diawali dengan bercokolnya kaum penjajah yang ingin menjadikan kopi sebagai komoditas dagangan yang laris di pasaran Internasional dan akhirnya  perkembangan pun merata di hampir setiap kota karena para opurtunis melihat kopi dapat dijadikan sebagai lahan bisnisnya.
Kedai kopi pun bertebaran di kota-kota besar Indonesia, dari yang dijajakan di pinggiran sudut jalan sampai yang masuk dalam sebuah pertokoan. Namun seiring roda zaman yang terus berputar kedai-kedai kopi itu pun sepertinya tak mampu bertahan dan hanya sebagian kecilnya saja yang sampai sekarang masih melayani para pembelinya.

Tentu, sebuah prestasi tersendiri bagi kedai-kedai yang buka sampai detik ini, terlebih lagi cita rasa kopi itu masih dipertahankan sedemikian rupa dari awal kedai kopi itu berdiri. Nah, ingin tahu bagaimana rasanya menyelami sejarah dalam pekatnya sebuah kopi tua, di bawah ini ada beberapa kedai kopi yang siap melayani anda dengan sajian kopinya yang khas berselera.

1.Kedai Kopi Tung Tau
Nama warung kopi diambil dari nama pemiliknya yang bernama Fung Tung Tau yang merintis dagangannya dari tahun 1938 di Jalan Sungailiat, Bangka. Kedai miliknya saat ini sudah dikelola oleh tiga generasi. Dirinya sendiri kemudian dilanjutkan oleh generasi kedua Budjang Bunawan pada tahun 1950 dan  tahun 1980 dilanjutkan oleh istinya yang bernama Maria Matalia. Setelah itu sejak tahun 2010 warung kopi itu dilanjutkan oleh generasi ketiga yaitu Tedy, anak bungsu dari pasangan Budjang dan Maria.
sumber foto:www.uknowmj.blogspot.com
Kedai kopi ini sangat bersahaja jika dilihat dari tampilannya yang hanya tersusun oleh  meja kayu dan kursi plastik. Tapi nuansa seperti ini ternyata membuat banyak orang betah berlama-lama ngopi di sana. Ditambah lagi kedai kopi pertama di Bangka ini terbuka untuk segala lapisan masyarakat, mulai dari  pejabat dan politisi lokal, pengusaha sampai para wisatawan. 

Biji kopi yang diolah Kopi Tung Tau dibuat dari biji kopi pilihan, jadi bukan sembarang biji kopi. Untuk membuat kopinya, biji kopi itu digiling secara tradisional dan diracik dengan resep dan cara tradisional sehingga memiliki cita rasa sendiri yang khas.

Selain kopi sebagai sajian utamanya, warung ini juga punya sajian utama, yaitu  roti bakar. Rotinya itu berupa roti bantal. Roti ini disajikan dengan berbagai selai yang diracik sendiri sesuai dengan keingan pelanggan. Warung kopi Tung Tau kini memiliki dua cabang di kota Pangkalpinang. Cabang pertama di Jalan Sudirman No. 74 dan satu lagi berada di Jalan Depati Hamzah-Semabung.

2.Kedai Kopi Tiam Medan
Kita tinggalkan Bangka dan menuju ke Medan. Di kota ini terdapat warung kopi Tiam Ong yang berdiri sejak tahun 1968 di kediaman Ong Cin Kie yang sekaligus pemilik warung kopi ini. Ong memberi nama warung kopinya ini sesuai dengan namanya, sedangkan Kopi Tiam berasal dari dialek Hokkian yang dibaca Ka Pe Tiam. Memberi nama kedai kopi dengan nama marga merupakan kebiasaan etnis Tionghoa yang dibawa dari tanah leluhurnya, begitu pula dengan Ong Cin Kie

sumber foto:www.kopitiamong.blogspot.com
Seperti Kedai Kopi Tung Tau, Kedai Kopi Tiam Ong pun setali tiga uang. Dari luar warung kopi ini terlihat sederhana. Namun di dalamnya anda akan tersedot dalam pusaran masa lalu seakan-akan berada di awal abad ke-20 dengan barisan meja yang terbuat dari batu marmer dan kursi kayu yang didesain dengan model zaman dulu 

Tak hanya itu, kesan di masa lalu pun akan semakin mengental lantaran anda akan disinari pancaran lampu ruangan yang ditutupi sangkar burung dan ditemani oleh ornamen-ornaman antik dipajang di sudut kiri dan kanan kedai. Sebut saja telepon tua, sempoa zaman dahulu, terompet renta, setrika arang, gramaphone dan yang lainnya.

Apa menu andalan di kedai kopi ini? menu andalan ini salah satunya adalah Kopi Terbalik. Kopi ini merupakan kopi Aceh yang dihidangkan dengan gelas terbalik yang dibawahnya terdapat piring kecil. Kopi pun diseruput keluar dari dalam gelas terbalik melalui piring kecil itu sedikit demi sedikit. Selain  kopi terbalik, kedai kopi ini juga menyajikan Kopi Berempah, yaitu kopi yang dicampurkan dengan bermacam-macam rempah seperti kayu manis dan cengkeh. Belum lagi dengan sajian Kopi Bandrek yang merupakan campuran kopi, susu dan jahe. Rasanya pun akan semakin membuat anda berbetah-betah di kedai ini.

Oh iya, jika merasa lapar saat anda sedang asiknya menyeruput kopi, tidak perlu kuatir karena  kedai kopi ini juga menyediakan camilan yang cukup mengenyangkan perut. Mulai dari  Loempia Kejoe Tjoklat yang merupakan lumpia yang berisi sayuran dan keju dan diberikan coklat sebagai hiasan di bagian atasnya, Oebi Goreng dan yang lainnya.

Soal harga tak perlu dipersoalkan, masing-masing harga sajiannya cukup bersahabat dengan kantong. Begitu pula dengan pelayanan dan keramahtamahan dari para pelayan-pelayannya. Jadi  anda  yang mengaku maniak kopi dan kebetulan berada di Medan, jangan lupa untuk mampir ke kedai kopi ini. (berbagai sumber)

Ekowisata di Penangkaran Buaya

#
Merangsang  adrenalin agar memuncak tidak harus selamanya menguras keringat dengan berbagai macam aktivitas, seperti panjat tebing,  diving atau yang lainnya. Ada kalanya adrenalin juga dapat dibangkitkan di saat kita melihat sesuatu yang liar, seram sekaligus buas atau pun yang merangsang bulu kuduk untuk berdiri, ya contohnya melihat buaya-buaya yang ditangkarkan.

Mungkin di benak anda bertanya, apa menarik dan asiknya melihat buaya-buaya, bukankah itu cukup membosankan, adrenalin? bagaimana bisa dibangkitkan? memang binatang karnivora yang sebagian besarnya hidup di rawa-rawa dan sungai ini sekilas pasif dan hanya berdiam diri saja di dalam air atau pinggiran kolam penangkaran. Namun siapa sangka, dibalik sikapnya yang cenderung “pendiam” itu mereka dapat bergerak agresif jika perutnya sedang keroncongan alias lapar.
sumber foto: www.desibucket.com
Di beberapa tempat wisata penangkaran buaya tak jarang menawarkan fasilitas memberi makan  para buaya-buaya itu kepada anda dan anda pun dapat melihat buaya-buaya itu saling bergulingan atau berebut dengan liarnya demi sebongkah daging atau seekor ayam untuk memuaskan rasa laparnya.   
Selain itu buaya di tempat penangkaran berbeda dengan buaya yang biasa anda temukan di kebun binatang. Perbedaan itu jelas terlihat dari banyaknya jumlah buaya-buaya itu ada karena biasauya di tempat penangkaran jumlah buayanya terbilang lebih banyak bahkan sampai ada yang ribuan. Bayangkan jika anda dapat melihat jumlah buaya yang sedemikian banyaknya, suatu hal yang berbeda bukan? Nah, sekarang dimana sajakah kita dapat melihat buaya-buaya itu ditangkarkan dengan cara yang aman pastinya.

1.Penangkaran Buaya Teritip Balikpapan
Menempati lahan seluas 5 hektar di desa Tritip, Balikpapan, di tempat penangkaran ini anda dapat menemukan berbagai ribuan buaya dari yang ukuran paling kecil sampai yang paling besar. Buaya-buaya itu berada di puluhan kandang yang diklasifikasikan dalam empat jenis, yaitu kandang anak buaya, kandang untuk buaya muda, kandang dewasa, dan kandang untuk menimbang berat badan buaya.

sumber foto: www.surgaparawisata.blogspot.com
Rata-rata buaya yang ada di tempat penangkarang ini adalah buaya berjenis buaya muara. Selain itu terdapat pula Buaya Air Tawar (Crocodylus Siamensis) dan Buaya Supit (Tomistoma segelly). Ingin mengetahui seluk beluk kehidupan atau jenis buaya-buaya disini, tingal tanyakan saja ke pemandu setempat yang akan menjelaskan kepada anda tentang kehidupan buaya mulai telur sampai berkembang menjadi buaya dewasa.

Fasilitas dan Atraksi
Atraksi yang ditawarkan oleh penangkaran yang telah beroperasi tahun 1991 ini adalah atraksi memberi makan buaya-buaya. Cukup merogoh kantong Rp 10.000 untuk membeli seekor ayam hidup dan anda akan memberi makan langsung kepada buaya-buaya itu.  Tak cukup memberi satu, anda pun dapat membeli lagi ayam-ayam hidup tersebut.
Tak hanya itu, sajian bercita rasa buaya juga di sajikan di restoran-restoran yang banyak berdiri di sekitar areal tersebut. Anda dapat mencicipi sate rasa buaya, abon, dan kerupuk yang terbuat dari daging buaya. Ada juga obat kuat yang terbuat dari tangkur dan pil empedu. Selain itu, Anda bisa menemukan banyak kerajinan dan aksesoris dari kulit buaya, seperti tas, dompet, ikat pinggang, dan lain-lain.

Lokasi
Penangkaran Buaya Balikpapan berlokasi di Desa Teritip, Balikpapan, Kalimantan Timur. Jaraknya  sekitar 27 kilometer dari pusat kota  dan bisa ditempuh  30 menit menggunakan mobil, serta hanya 20 menit dari Bandara Sepinggan. Taksi bandara, maupun angkutan kota,  dapat mengantarkan ke sana setiap saat
Objek wisata ini di saat weekend maupun hari libur nasional banyak dikunjungi oleh pengunjung dari berbagai kota di sekitar Balikpapan. Tak hanya itu turis mancanegara pun tak segan mengunjungi objek wisata ini

2. Penangkaran Buaya Medan
Dengan jumlah buaya yang mencapai kurang lebih 2800 ekor, penangkaran buaya di Medan ini dikatakan sebagai penangkaran buaya salah satu yang paling besar di Asia. Luasnya mencapai satu hektar dengan 78 bak penangkaran yang  dihuni oleh beragam jenis buaya dengan umurnya masing-masing.
sumberf foto:www.efenerr.wordpress.com
Tempat penangkaran ini dikelola di dalam rumah penduduk biasa yang cukup sederhana sebagaimana sederhananya rumah tangga Lo Than Muk bersama isterinya Lim Hiu Cu dengan dua anaknya Robert Lo (30) dan Robin (28).
Lo Than Muk, sang pemilik tempat penangkaran ini tidak pernah menyangka  penangkaran buayanya berkembang menjadi 2.800 ekor. Awalnya dia hanya iseng memelihara buaya kecil 12 ekor yang didapat dari sungai-sungai yang ada di Kota Medan. Dari situ kemudian buayanya terus berkembang biak dan akhirnya dia buka penangkaran 1959 dan sempat tenar sebelum tahun 1998 sebagai objek wisata andalan Kota Medan.

Fasilitas dan Atraksi
Sama seperti penangkaran buaya di Balikpapan, di  tempat ini cukup hanya merogoh Rp.30.000 untuk membeli pakan yang telah disiapkan oleh pemilik dan anda bisa memberi makan langsung ke buaya-buaya tersebut. Selain itu Anda pun dapat menikmati suasana pemberian makan buaya yang dilakukan satu kali dalam sehari pada pukul 17.00 WIB. Nah, jika anda berminat, anda pun dapat menyaksikan seorang pawang yang akan melakukan atraksi buaya bersama seekor kera dengan hanya membayar Rp.50.000

Lokasi
Penangkaran Buaya ini terletak di  Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang di Jalan Bunga Raya II Kota Medan, Sumatera Utara. Biaya masuknya cukup murah hanya Rp 5000 bagi orang dewasa dan Rp 3000 bagi anak-anak. (berbagai sumber)

Mari Icip-icip Es Krim Zaman Dulu

#
Siapa yang tidak kenal dengan nama makanan yang satu ini, ya sepertinya kebanyakan lidah kita pernah bergoyang sambil kedinginan merasakannya saat masih kecil atau sampai lanjutnya usia sekarang. Adalah es krim nama  makanannnya, yup sebuah makanan kecil  namun  tidak sekecil rasanya dan sudah tercipta beratus-ratus tahun yang lalu.
Menyoal sedikit sejarah kelahiran makanan dingin yang satu ini memang masih teka-teki. Ada yang berpendapat es krim telah tercipta di awal masehi di Rowawi saat Kaisar nero masih berkuasa, ada juga berpendapat es krim ini terlahir di benua asia tepatnya di Cina, ada pula yang berpendapat di Eropa lah es krim tercipta lebih-lebih akibat lintas perdagangan yang dilakukan oleh Italia dengan bangsa lainnya.
Ada pula yang mengatakan bahwa sejarah terciptanya makanan ini merupakan rentetan dari alur tulisan di atas. Jadi berawal dari Cina yang kala itu es krim hanya bisa dinikmati oleh kalangan raja dan bangsawan, kemudian berlanjut ke Itali lantaran Cina membuka pintu usaha dagangnya ke Eropa. Berkat jasa Marcopolo lah resep-resep itu sampai ke Eropa.
          Dari Eropa lantas es krim melalang buana ke seluruh dunia dan sampailah es krim ini di negeri paman sam. Di sana es krim semakin populer  seiring dengan penemuan mesin pembuat es krim untuk memenuhi permintaan rakyat Amerika yang tinggi terhadap kudapan ini. Dari Amerika pulalah muncul sebutan es krim, yang berasal dari kata "ice cream".
Sejak itu, es krim semakin berkembang dengan berbagai modifikasi dan teknik pembuatan. Ada french-style ice cream, yang terbuat dari kuning telur dan populer di dataran Amerika. Di Amerika, kemudian teknis ini dikembangkan menjadi philadelphia ice cream, yang terbuat dari putih telur ditambah berbagai rasa, seperti coklat, vanilla, dan stroberi.
Lantas bagaimana dengan es krim di Indonesia sendiri? Es krim datang bersama Belanda dan  berkembang seiring semakin kukuhnya kolonialisme negeri kincir angin ini di Nusantara. Di kota-kota besar banyak bermunculan restoran-restoran yang banyak menjajajakan es krim sebagai makanan kudapan. Dan saat itu es krim  merupakan jenis makanan yang sangat mahal dan mewah, orang pribumi mungkin hanya bisa bermuka pengen melihat para meneer dan mevrouw Belanda menikmati es krim di panasnya hari.
            Namun sekarang semua itu tinggal kenangan, akan tetapi restoran-restoran di mana para meneer dan mevrouw itu duduk menikmati es krim masih bertahan hingga kini. Nah, di mana sajakah restoran-restoitran es krim itu yang masih bertahan.

1. Es Krim Toko Oen
Toko Oen di  Malang dan Semarang yang sudah berdiri sebagai toko es krim di tahun 1922. Awalnya Oma Oen berbisnis kue di kota Gudeg tahun 1910. Lantaran ingin mengembangkan uasahanya lalu dia membuat toko es krim dan membuka cabangnya di berbagai kota dari Jakarta, Semarang, dan Malang. 
Namun malang tak bisa diraih, cabang Yogyakarta dan Jakarta terpaksa tutup karena suatu sebab. Tetapi cabang yang di Semarang hingga kini ini masih bertahan dan dikelola sama keturunan Oma Oen. Baik yang di Malang maupun di Semarang, keduanya masih mempertahakan interior khas di masa kolonial Belanda begitu pun dengan es krimnya.Dalam penyajiannya, es krim di Toko Oen ini disajikan dengan kue lidah kucing, toping sirup, dan buah-buahan. Selain itu penyajian es krim pun disusun berwarna-warni dan  pengolahan es krim ini pun masih menggunakan alat tradisional. 

2. Es Krim Toko Zangradi
Yang kedua ada Toko Zangradi di Jalan Yos Sudarso, Surabaya. Adalah Orang Italia bernama Renato Zangradi yang mengadu peruntungan dengan mendirikan toko es krim di tahun 1930 di kota itu. Eh, tanpa dinyana bisnis itu membuat para meneer dan mevrouw kesengsem. Kelebihan dari tokonya Zangrandi adalah es krim yang dijadikan berasal dari olahan tangan alias hand madedan bukan buatan mesin. Rupanya olahan tangan yang dibuat di kedai Zangrandi ini sesuai dengan lidah orang-orang Belanda. 
Di Zangradi, selain menjual es krim batangan juga terdapat es krim scoop atau per mangkok. Ada pula banana split yaitu pisang dipadukan beberapa es krim sesuai selera. Untuk menemani makan es krim, toko ini juga menjual aneka jajanan seperti pastel sampai makanan berat seperti pizza. Beragam jenis es tersaji di toko ini dari  Chocolate Twinkle, Noodle Ice Cream, Soda Ice Cream, Avocado Fudge, Tropicana Fruit, Crispy basket, Zangrandi Pie, Horn, Macedonia, Royale Peach, Banana Split. Ada pula es krim dalam bentuk slices yaitu Tutti Frutti, Satay Ice Cream, Surabaya Moon, Pudding Ice Cream

3. Es Krim Ragusa
Toko es krim yang ketiga ada di Jakarta yaitu Es Krim Ragusa. Seperti Zangradi, kreator es krim Ragusa ini lagi-lagi adalah seoarang berkebangsaan Itali yang bernama Luis Ragusa. Awalnya bukan hanya Ragusa saja yang memulai bisnis es krimnya ini, melainkan dibantu oleh saudaranya,  Vincenzo Ragusa.
Nah, di tahun 1932 mereka berdua mulai membuka kafe es krim nya di pasar Gambir. Tapi sayang tempatnya tidak terlalu ramai alias sepi pembeli. Bagaimana bisa untung kalau tempatnya sepi? Mungkin pikir mereka berdua, lantas kafe keduanya pun pindah lokasi di Jl. Veteran I No. 10 Jakarta Pusat tahun 1947. Gayung pun bersambut, es krimnya banyak diminati orang-orang.
sumber foto:ww.aditstorsi.files.wordpress.com
Selama menekuni bisnis es krim ini mereka tidak hanya bekerja berdua saja, melainkan dibantu juga oleh Jo Giok Siaw. Ibu Hj. Sias Mawarni, menantu dari Jo Giok Siaw, dan suaminya yang meneruskan penjualan es krim ini. Sepeninggal duo itali itu,  es krim diwariskan secara turun temurun tanpa pernah mengganti resep aslinya dan masih mempertahankan es krim tanpa bahan pengawet. Es krim Ragusa menjual tujuh rasa dan masing-masing rasa memiliki penggemarnya tersendiri. Dari rasa cokelat sampai durian, ada pula modifikasi seperti Spaghetti Ice Cream dan Banana Split.

 4. Es Krim Tip Top
 Itu di Jakarta, bagaimana dengan es krim yang ada di kota terbesar kedua di negeri ini, yaitu Medan tepatnya di Jalan Ahmad Yani.  Ya, disana ada restoran es krim yang bernama Tip Top, restoran ini juga sama tuanya dengan restoran es krim lainnya, yaitu sudah berdiri dari tahun 1929 dengan nama Jang kie. Kemudian pindah ke Jl. Kesawan tahun 1934 dan menganti namanya menjadi Tip Top.
Es krim Tip Top memiliki sekitar 50 varian rasa seperti Soda, Fosco, Neapolitan, Banana Split, Tutty Frutty Sundae, Tutty Frutty, Mont Blanc, Cassatta, Strawberry Float, Vanilla Float, Vanilla + Coke, Chocolate + Coke, Snow White, Rainbow, Desert Pineapple, Desert Strawberry, Nougat, Rhum Corn Flakes, Kopior Sundae, Mocca Rissins Sundae, Vanilla Sundae, Chocolate Sundae, Tip Top, Rhum, Kopior, Mocca Rissins, Strawberry, Chocolate, Vanilla dan Cone/Horn.

KIsah Hotel De Boer Di Masa Lalu

#
Pernah ada suatu masanya hotel yang letaknya di Jalan Balai Kota Medan sebelah barat laut lapangan “Esplanade” (Lapangan Merdeka) mengalami masa kejayaannya. Tamu yang datang menginap bukan dari kalangan biasa, melainkan tamu  istimewa yang namanya tercatat dalam buku sejarah dunia.
Tak hanya itu, hidangan spesial kue tradisonal speculaas bercitarasa rempah-rempah yang menjadi kue handalan hotel ini telah melalang buana tidak hanya di Hindia Belanda waktu itu bahkan Singapura, Bangkok dan Hongkong tepat beberapa bulan sebelum perayaan St. Nicholas yang jatuh pada tanggal 5 Desember
            Adalah Hotel De Boer namanya, yang sekarang telah berubah nama menjadi Hotel Inna Dharma Deli. Sebuah hotel tua yang dibangun oleh seorang berkebangsaan Belanda yang bernama Aeint Herman De Boer. Kenapa pria yang berasal desa Workum, Belanda ini memtuskan untuk membangun hotel wilayah ini? Mungkin dirinya melihat suatau peluang di tanah sumatera ini untuk meraup untung di bisnis perhotelan.
Hotel De Boer
Hotel ini sendiri dibangun setelah De Boer memutuskan untuk hijrah dari Surabaya sekitar tahun 1809 setelah lama berkelana sebagai salah satu pemilik bisnis (part proprietor) dari restoran “GRIM” di Surabaya.
            Di tahun tahun 1898 pembangunan hotel De Boer dimulai,  diawali dari sebuah restoran, bar dan 7 kamar saja.  Namun entah bagaimana bak gayung bersambut setelah hotel ini dibangun sedemikian rupa termasuk dirancang sebagai Hotel yang bebas nyamuk karena sengatan nyamuk adalah sesuatu yang mengancam bagi kulit-kulit putih orang eropa yang sensitif, ketenaran pun diraihnya. Nama hotel menjadi menyeruak keluar dari tanah Medan dan menjadi terkenal di wilayah Hindia Belanda.
Terlebih lagi saat  De Boer di tahun 1909 berinisiatif untuk meningkatkan lagi  usahanya dengan sebuah Perseroan Terbatas (PT) untuk membangun hotelnya karena tak lagi mampu untuk menampung para tamu yang ingin menginap. Dengan total biaya F1 200.000, ia  memperluas bangunan Hotel menjadi 40 buah kamar yang dilengkapi dengan 400 buah lampu.
Tak pelak, tamu-tamu yang datang dari luar Hindia Belanda yang mendengar nama tenar Hotel Boer pun datang untuk berkunjung dan menginap di hotel ini.  Tamu-tamu yang pernah bermalam di sana,  antara lain Raja Leopold dari Belgia, Pangeran Schaumburg-Lippe, kemenakannya  Ratu Wilhelmina dari Belanda.
            Nah, bagi anda yang akrab dengan dunia Spionase pastilah mengenal dengan sosok wanita cantik yang satu ini. Yup, Mata hari, seoarang wanita cerdik nan lihai yang memainkan peranan gandanya sebagai mata-mata sekaligus penari bersama suaminya diketahui pernah tinggal di Indonesia tepatnya di Jawa dan Sumatera antara 1897-1902. Hotel De Boer di Medan adalah salah satu tempatnya menginap ketika di Sumatera.
Tak hanya itu, Sutan Syahrir kecil pernah pun mencari nafkah dengan menjadi pengamen di hotel mewah ini, Di bangunan mewah yang dulunya cuma diperuntukkan bagi orang kulit putih imi, Sjahrir kerap mencari uang saku dengan bermain biola di sana.
Sejalan dengan pertumbuhan kota Medan sebagai pusat administrasi perkebunan di Sumatera Timur dan banyaknmya para bisnisman datang ke kota ini.  Jumlah kamar Hotel de Boer terus meningkat dan akhirnya pada tahun 1930 Hotel de Boer sudah memiliki 120 kamar yang dilengkapi dengan hall dan restoran.
Madelon Szekely-Lulofs dalam novel autobiografinya yang berjudul Rubber dan telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Berpacu di Kebun Karet menggambarkan Hotel De Boer, sebagai sebuah hotel Dekat sebuah lapangan yang luas, dengan disekitarnya jalan aspal yang luas terdapat Hotel yang paling utama di Medan, Hotel de Boer. Di tengah-tengahnya berdiri bangunan utama, dua tingkat tingginya: di bawah ruang dansa dan ruang makan dengan beranda yang besar. Di atas kamar-kamar penginapan. (berbagai sumber)