Tampilkan postingan dengan label jawa barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jawa barat. Tampilkan semua postingan

Perhatian! Taman Lansia ada di mana-mana

#
Dilihat dari namanya mungkin pikiran kita langsung tertuju kepada orang tua yang telah lanjut usia. Yup, ada benarnya juga, seperti Monumen Jenderal Sudirman yang banyak berdiri di beberapa kota di Indonesia, Taman Lansia pun demikian. Di beberapa kota terdapat taman yang menggunakan nama yang sama, yaitu Taman Lansia atau Taman Lanjut Usia.

Taman ini mempunyai beragam fungsi bagi mereka yang ingin sekedar refreshing atau bersenang-senang. Dan uniknya, memang taman ini bernama taman lansia tetapi apalah arti sebuah nama, karena banyak pemuda-pemudi yang suka berkunjung ke taman ini, selain para lansia tentu saja.
sumber: www.santiago-yasir.blogspot.com
1. Taman Lansia di Bandung
Taman Lansia berada di sebelah kanan Gedung Sate. Taman Lansia ini menjadi semacam sarana bagi mereka ingin melepas lelah sekaligus kepenatan. Refresing segar ditemani semilir angin sepoi sungguh mengasyikkan, terlebih lagi jika dilakukan bersama keluarga atau handai taulan  saat hari sabtu, minggu atau hari libur lainnya.

Lapar disana tak perlu kuatir, di sekitaran Taman Lansia berdiri cafe-cafe beragam pangana yang siap mengisi perut Anda. Nah, bagi yang ingin berkuda sambil berkeliling taman, di sekitar taman terdapat banyak sekali penyewaan kuda. Bagi anak kecil dapat didampingi oleh sang pemilik kuda, atau bagi yang sudah berani berkuda sendiri dapat melakukannya tanpa didampingi sang pemilik kuda. Bagi keluarga yang ingin beramai-ramai menikmati taman dapat menyewa dokar.

2.Taman Lansia di Surabaya
Taman Lansia ini fungsinya tak jauh berbeda dengan Taman Lansia di Bandung, yaitu sebagai tempat hangout sekaligus rekreasi bagi warga kota. Taman ini  memang dimanfaatkan sebagai taman alternatif untuk semua orang tak terkecuali para lanjut usia.

Dengan luasnya yang mencapai 2000 m2 eks SPBU Kalimantan ini di sela warna warni tanaman  tersedia track khusus di buat untuk kenyaman kusi roda para lansia. Selain itu ada pula tempat duduk untuk penghantar saat menemani para lansia menikmati suasana kota di pagi atau sore hari.
sumber foto:www.prasetyowijaya.blogspot.com
Taman Lansia juga dihiasi oleh puluhan jenis bunga dan tanaman berwarna-warni, seperti, pandanus, teh-tehan, zisigium, erva merah, telo-teloan, rumput gajah, rumput jepang, andong merah, pandanwangi, cendrawasih, pakis boston, keindahan tanaman berbaur dengan air yang segar dan air mancur.

3.Taman Lansia di Magelang
Taman Lansia ini berada di  timur Jalan A. Yani, atau tepatnya di depan Kompleks Perumahan Militer. Taman seluas 3.800 m2 ini menjadi tamannya para lansia. Taman ini dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas seperti lantai pedestrian untuk refleksi yang dilengkapi dengan pegangan tangan, kursi taman yang nyaman serta tak ketinggalan penanaman warna-warni bunga dan pohon perindang sebagai penambah keindahan taman.

Adanya Taman Lansia ini merupakan ambisi Pemerintah Kota Magelang melalui Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Tata Kota berupaya untuk menata taman yang sudah ada selaijn juga untuk  memberdayakan lahan-lahan yang masih ‘nganggur’ alias belum dimanfaatkan secara optimal. Upaya ini tak lepas dari kebutuhan masyarakat akan tersedianya ruang publik yang nyaman untuk bersantai dan bersosialisasi. Hal pendorong ini lah yang mendorong Taman Lansia tercipta. (berbagai usmber)

Berenang-renang Bersama Ikan Keramat

#
Tak jarang di beberapa tempat objek wisata di Indonesia ada sesuatu yang dikeramatkan. Mulai dari tempatnya sendiri, atau pun sesuatu yang berada di tempat wisata tersebut, misalnya sebongkah batu, patung atau bahkan binatang seperti seekor ikan.Ya ikan,  kenapa ikan bisa dikeramatkan? apakah ada sesuatu yang istimewa dari ikan tersebut? menemukan jawabannya tentu kembali kepada cerita yang melatarbelakangi keberadaan dari ikan-ikan tersebut. Nah sekarang dimana sajakah anda dapat menemukan ikan-ikan keramat itu berada, dibawah ini ada daftar singkatnya

1.Objek Wisata Cigugur
Objek Wisata Cigugur berada wilayah kaki gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Disana terdapat ikan yang bernama Ikan Dewa. Kenapa dinamakan ikan dewa? tak ada yang tahu karena ikan itu muncul secara tiba-tiba, tetapi kolam sebagai tempat ikan itu dapat hidup berenang-renang sesuka hatinya mempunyai cerita yang berkaitan erat dengan Sunan Gunung Jati.

sumber foto:www.rikiridwana.co.cc
Adalah Rama Haji Irengan yang merupakan salah satu murid dari Sunan Gunung Jati. Rama Haji membuat kolam itu sebagai pertanda bahwa wilayah itu telah memeluk agama islam seperti amanah yang diberikan oleh sang guru.
Ikan Dewa ini konon akan menghilang dengan sendirinya saat air kolam menyusut, tetapi akan muncul kembali apabila air kolam terisi kembali. Entah bersembunyi dimana tetapi yang pasti masyarakat setempat percaya akan mitos dari keberadaan ikan tersebut. Barang siapa yang berani menangkap atau mengkonsumsi ikan Kancra atau dalam bahasa latin dikenal Labaebarbus Dournensisakan berakibat petaka.
                                                                                                                                    
Awalnya kolam ini hanya satu saja, namun semenjak dikelola sebagai objek wisata kolam pun dibagi menjadi dua kolam. Salah satu kolam dibagi lagi menjadi tiga bagian dengan kedalaman berbeda dan dapat digunakan pengunjung  untuk berenang.

2.Sumur Tujuh Cibulan
Selain di Cigugur, Ikan Dewa juga bisa ditemui di Sumur Tujuh Cibulan yang terletak di Desa Maniskidul pinggir jalan raya Kuningan-Cirebon. Mitosnya hampir sama dengan Ikan Dewa di Cigugur, yang mengambil dan memakannya akan cilaka nantinya.
sumber foto: www.evayulianti76.blogspot.com
Mengenai keberadaan ikan-ikan dewa di kolam itu masih diselimuti kabut misteri  Ada cerita yang mengatakan konon ikan-ikan tersebut  dibawa oleh murid-murid Walisongo saat datang ke Cibulan. Para murid walisongo juga meninggalkan 7 buah sumur yang mereka gunakan untuk berwudhu pada saat itu dan dipercaya dapat membuat orang tetap awet muda dengan membasuh wajahnya dengan menggunakan air sumur. Ada pula yang mengatakan  ikan kancra bodas atau ikan dewa itu  merupakan mantan pasukan Prabu Siliwangi yang membelot. Nah mana yang benar, hanya Tuhan yang tahu.

3. Gua Ngerong
Itu ikan dewa di Kuningan, lantas di daerah Kabupaten Tuban ada sebuah Gua yang bernama Gua Ngerongyang berada di kec. Rengel. Gua ini adalah gua air yang jika kita ingin mangarunginya harus menggunakan perahu karet.

Gua yang panjangnya sampai berkilo-kilo ini di dalamnya terdapat ikan Bader Bang (Puntius Javanicus) sebesar paha berenang-renang yang jumlahnya mencapai ribuan ekor. Mitos ikan ini seperti Ikan Dewa di Kuningan karena barang siapa yang berani memakan atau membawanya pulang akan terjangkiti penyakit yang tak akan pernah sembuh.

Mitos lainnya barang siapa masuk gua maka dia harus keluar 12 jam berikutnya. Mitos-mitos ini membantu gua, lingkungan sekitar gua beserta ikan-ikan dan hewan-hewan lainnya yang berada dalam gua tetap lestari sampai saat ini karena tidak banyak mendapatkan gangguan dari tangan-tangan manusia.

4.Objek Wisata Rambut Monte

Tak ketinggakan selain di Kuningan, Ikan Dewa yang keramat juga dapat ditemui di Objek Wisata Rambut Monte di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Objek wisata ini terletak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Blitar. Rambut Monte berada di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari.

Kawasan wisata Rambut Monte dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni pelataran, areal candi dan telaga yang terdapat Ikan Dewa. Warga setempat biasa menyebutnya dengan nama ikan sengkaring, seperti ikan wader (Labeobarbus siamensis) yang panjangnya sekitar 60 centimeter.

Ikan-ikan di telaga itu cukup jinak namun tak seorangpun yang berani menangkapnya. Kepercayaan masyarakat sekitar mengenai ikan-ikan keramat itu berdasarkan legenda yang beredar sejak dahulu kala. Konon dulu di lokasi ini terjadi perkelahian antara Rahwana dan Naga melawan Mbah Rambut Monte, keturunan Kerajaan Majapahit.

Pertarungan itu dimenangkan oleh Mbah Rambut Monte. Mbah Rambut Monte kemudian mengutuk Rahwana dan Naga menjadi candi berbentuk monyet dan relief naga. Mbah Rambut Monte berpesan kepada sejumlah muridnya agar menjaga batu candi yang berwujud Rahwana dan relief naga.

Namun karena sebagian muridnya tidak mematuhi perintahnya, Mbah Rambut Monte marah besar dan mengutuk murid-muridnya menjadi ikan Sengkaring yang hingga saat ini masih mendiami telaga.(berbagai sumber)

Ada Gondomayit di Tiga Objek Wisata Indonesia

#

Setidaknya ada tiga nama objek wisata di Indonesia dari pantai sampai Gua yang namanya serupa. Ya, Gondomayit namanya, yang berarti jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah berbau mayat. Wow! Horor sekali namanya, namun apakah tempatnya itu seseram dengan namanya. Nah, itu tergantung Anda sendiri merasakannya. Sekarrang dimana sajakah objek wisata Gondomayit itu berada.

1.Pantai Gondomayit
Pantai ini terletak di sebelah selatan kabupaten Blitar, Jawa Timur. Tapi apa artilah semua nama karena pantai yang masih perawan ini cukup indah dipandang mata. Belum lagi dengan pemandangan alam sekitarnya yang juga menawan.
sumber: www.travellers2009.wordpress.com
Bagaimana untuk mencapai kesana? Memang letaknya agak tersembunyi secara pantainya ini berada di balik bukit Pantai Tambakrejo. Tetapi untuk sampai kesana,  Anda harus terlebih dulu sampai di Pantai Tambakrejo dan menitipkan kendaraan. Jika Anda merasa belum yakin, Jangan malu untuk bertanya dimana letak Pantai Gondo Mayit persisnya kepada orang-orang sekitar, agar Anda tidak tersesat.
Pantai ini bisa dicapai dengan berjalan kaki, namun sebelumnya Anda harus mendaki bukit yang tidak terlalu tinggi. Di tengah bukit ini Anda akan menemui sebuah makam yang konon kabarnya dihuni oleh penjaga Pantai Gondo Mayit.
Pasir putihnya sangat bersih, tanpa karang dan tidak ada sampah. Tetapi hati-hati Ombak disini lumayan besar lantaran berada di wilayah selatan Jawa yang terkenal dengan ombak-ombaknya yang besar. Anda seorang pecinta selancar air, ganasnya ombak di pantai sangatlah cocok untuk dirasakan. Akan tetapi, jika ingin bersantai-santai saja, Pantai Gondo Mayit ini sangat pas dijadikan sebagai tempat wisata keluarga dan bermain di pinggir pantai saja.

2. Gua Pasetran Gondomayit. 
Masih di wilayah Jawa Timur ada   Gua Pasetran Gondomayit yang berlokasi di desa Sine, Tulangagung.  Gua ini masuk dalam golongan gua arkeologi karena di dalam gua banyak ditemukan pecahan-pecahan tembikar, hiasan dari tutup siput, kapak tipois pemotong kulit siput dan yang lainnya.
Kenapa dinamakan Gondomayit? Ternyata gua ini punya kisahnya sendiri yang konon pada zaman dahulu kala ada sebuah perahu yang pernah mendarat. Entah karena sebab apa ke-44 awak kapal merampok penduduk dan meminta agar Demang Sine menyerahkan istrinya. Karuan saja, Kidemang Sine yang bernama Tatakriyak ini menolak tegas namun untungnya dia tak kehabisan akal.  Dalam suatu kesempatan, dia memberi mereka sesaji beracun agar mereka mabuk.
Nah dalam keadaan mabuk, penduduk yang merasa kesal itu kemudian mengeroyok perampok itu. Tak pelak 40 orang perampok tewas dan  empat yang selamat kemudian mengarungi lautan dan yang mati dibuang ke dalam gua yang kemudian dinamakan Gua Pasetran Gondomayit.
Cerita tersebut bukan hanya cerita belaka. Sebab, saat diteliti oleh Drs. Abdurachman (pembantu Gubernur Jawa Timur) beserta petugas Kecamatan dan beberapa warga di gua tersebut ditemukan kerangka manusia.

3. Batu Gondomayit
Batu Gondomayit ini terletak di Gua Ratu, Nusakambangan, Kabupaten Cilacap. Kalau ini benar-benar bernuansa mistis, pasalnya altar yang berada di sebelah kiri pintu masuk gua dipercaya menjadi salah satu ruangan pertemuan parta lelembut dari berbagai kerajaan gaib.
Apalagi setiap malam jumat Kliwon dan satu Suro, batu yang berbentuk seperti pohon beringin itu mengeluarkan asap yang berbau mayit. Kontan saja, setiap malam itu banyak para pengunjung mencoba menyaksikan asap dan merasakan bau asap tersebut. Menurut masyarakat setempat, bentuk jalan menuju ke Gua Ratu ini digambarkan seperti lekukan seorang putri yang sedang tidur. Betapa susahnya dan berliku-likunya jalan menuju ke Gua Putri.  (Berbagai sumber)

Tiga Bedug Ukuran Jumbo di Indonesia

#
Tasbih berukuran raksasa ada, Al Quran terbesar pun juga ada, Nah bagaimana soal Bedug, adakah bedug berukuran jumbo di Indonesia. Jawabnya terang ada, Anda ingin melihat bedug-bedug berukuran jumbo di negeri ini gampang caranya! Anda tinggal mendatangi tiga kota dibawah ini  saja. Yang pertama kota Purworejo tepatnya di  Masjid Agung Darul Muttaqin, kedua di Jakarta Islamic Centre (JIC), Jakarta dan yang ketiga di Masjid Agung Kota Tasikmalaya

1.Bedug Masjid Agung Darul Muttaqin
Kota Purworejo mempunyai bedug raksasa yangg bernama Bedug Kyai Bagelan dan konon kabarnya merupakan bedug berukuran paling besar di dunia. Bedug yang merupakan peninggalan masa syiar islam pada abad XIX d ini terbuat dari bongkot (pangkal) pohon jati berumur ratusan tahun yang berasal dari Dusun Pendawa, Kecamatan Purwodadi. 
foto: www.revienspurworejo.com
         Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat,  pohon jati yang digunakan sebagai bahan bakunya itu  mempunyai cabang lima dengan ukuran yang cukup besar hingga bahkan tidak cukup dirangkul tiga orang sekaligus. Maka, tak heran kalau Bedug tersebut juga dikenal sebagai Bedug Pendawa.
           Soal ukurannya yang jumbo, bedug ini memiliki panjang 292 cm dengan garis tengah depan 194 cm, garis tengah belakang 180 cm, keliling bagian depan 601 cm dan keliling bagian belakang 564 cm.kulit beduk terbuat dari kulit banteng. Namun, karena sempat rusak, akhirnya diganti dengan kulit sapi. Beduk ini memerlukan paku sebanyak 120 buah untuk di bagian depan dan 98 buah untuk di bagian belakang.Pada hari raya keagamaan, Beduk Pendowo pun dibunyikan.

2.Bedug Jakarta Islamic Center
Selain bedug di Purworejo, yang kedua bedug raksasa juga dapat dijumpai di Jakarta Islamic Center (JIC) di Jakarta. Bedug yang didatangkan dari Jepara, Jawa Tengah ini memiliki panjang 3 meter dan memiliki diameter 2.10 meter ini.
         Bedugnya sendiri memiliki desain yang unik karen  berdasarkan ornament masjid JIC dan memiliki makna yang berkaitan dengan islam dalam setiap detail desainnya. Salah satu maknanya adalah paku yang berbentuk logo JIC dan jumlah ornament sebanyak 114 buah yang menunjukkan jumlah surat dalam Al-Qur’an. Jumlah ini sama dengan asmaul husna (sifat-sifat Allah yang baik).
          Bedug ini terdiri atas tiga komponen yaitu bedug, rumah bedug dan kentongan yang kesemuanya terbuat dari kayu jati dan nangka. Selain itu plafon rumah bedug yang ditutup dengan 40 lembar kayu jati, menunjukkan umur Rasulullah ketika pertama kali mendapatkan wahyu. Bedug ini berada di kiri mimbar Masjid JIC dan  digunakan setiap pelaksanaan shalat Jumat dan perayaan hari besar Islam.

3.Bedug Masjid Agung Kota
Bedug besar ketiga ada di kota Tasikmalaya, Jawa Barat tepatnya di bagian depan Masjid Agung Kota Tasikmalaya. Adalah Beduk Kia Ijo namanya, yang  mempunyai diameter 2,02 meter, panjang empat meter, dan tinggi dua meter. Berat bedug ini sekitar satu ton dan pernah tercatat di Museum Rekor Indonesia (Muri).
         Bedug ini merupakan sumbangan dari perusahaan swasta. Sejak 2006, beduk ini sering mengikuti pawai beduk. Setiap bulan Puasa, Kiai Ijo selalu dibawa untuk parade beduk keliling seluruh Indonesia. Bedug Kiai Ijo tidak pernah dipakai dalam kegiatan sehari-hari, dan cenderung menjadi hiasan masjid karena masjid ini sudah memiliki beduk lain yang berukuran lebih kecil. Beduk kecil itulah yang biasa dipakai untuk kegiatan sehari-hari.
        Berbeda dengan bedug di JIC yang berbahan baku kayu jati dan nangka, bedug di masjid ini terbuat dari kayu bingkerey, jenis kayu yang sangat kuat dankeras. Nah, untuk kulit bedugnya berasal dari kulit kerbau yang didatangkan secara khusus dari Banten.
         Untuk menabuh Kiai Ijo, bisa dilakukan oleh empat orang sekaligus dan perlu kekuatan yang penuh. "Beduk ini kalau ditabuh dapat mengeluarkan bunyi yangsangat mantap, bernada rendah sekali tetapi terdengar sangat agung. (berbagai sumber)

Masjid Berasitektur Art Deco di Garut

#
Sekilas mungkin orang tidak akan menyangka apa yang dilihatnya saat di kampung Cipari, Kecamatan Garut adalah sebuah Masjid. Ya, Masjid Cipari atau Masjiid A-Syuroini memang berbeda dengan kebanyakan masjid lainnya di Indonesia. Pasalnya, bentuk bangunannya mirip dengan sebuah gereja. Selain itu masjid tertua di Garut ini pun mengadopsi gaya Art Deco yang tak lazim diadopsi oleh sebuah masjid.
Mungkin dari seluruh wilayah di Indonesia ini hanya Masjid Cipari dan Masjid Somobito di Mojowamo Mojokerto, Jawa Timur yang memiliki bentuk mirip gereja. Hanyalah kubah dan menaranya yang menjadi ciri yang nampak dari  bangunan tersebut merupakan masjid.

Menurut catatan sejarahnya , Masjid Cipari ini bukan hanya masjid yang digunakan untuk ritual ibadah saja, namun pernah menjadi markas perjuangan dan pusat pergerakan para ulama pejuang. Masjid inilah yang dipakai para ulama untuk melakukan musyawarah para pejuang kemerdekaan, bahkan  menjadi benteng pertahanan dari serangan luar.

Sejarah Perkembangan Masjid Cipari
Tahun 1895 pertama kali masjid ini dibangun di lingkungan pesantren Cipari. Namun  saat itu wujud masjid Cipari tidak seperti sekarang dan kondisinya masih sangat sederhana. Kemudian sepeninggal sang pendiri pesantren  KH Harmaen, pembangunan masjid kembali di lakukan di bawah pimpinan anaknya yaitu KH Yusuf Tauziri pada tahun 1933.  Pembangunan masjid itu juga di lakukan seiring dengan kemajuan pesat pesantren da bertambahnya jumlah pesantren.
Nah, selain itu perluasan masjid ini juga mempunyai kaitan erat dengan  situasi pergerakan nasional  karena KH Yusuf Tauziri merupakan seorang ketua PSII cabang Wanaraja. Selain itu kemajuan pesantren  juga ditunjang oleh dihapuskannya ordonansi sekolah luar oleh pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 13 Februari 1932 akibat penentangan berbagai organisasi nasional dan Islam, seperti Budi Utomo, Muhamadiyah, PNI, PSII, dan yang lainnya. Masjid ini pun pernah dipakai untuk Muktamar Sarekat Islam se-Indonesia pada tahun 1933-1934.
Memasuki era perang kemerdekaan,  pesantren Cipari memainkan peranannya. Para santri di sana  dididik sebagai pejuang, selain belajar ilmu agama karena pesantren ini menjadi salah satu satu pesantren dari organisasi perjuangan Syarikat Islam.
Masjid ini pun kerap digunakan sebagai tempat untuk latihan perang, pertahanan, bahkan dapur umum para pejuang kemerdekaan. Saat  Agresi belanda ke-2, dibawah komando KH. Abdul Qudus dan KH. Yusuf Tauzirie, masyarakat di wilayah Garut timur dipersatukan dalam laskar Hizbullah, yang diantara angggotanya kemudian menjadi bagian dari tentara Siliwangi.
Nah, pada waktu pemberontakan DI/TII masjid ini sempat dijadikan tempat pengungsian, perawatan pejuang yang terluka ketika kembali dari hijrah ke Yogyakarta, tempat perlindungan para pejuang dan keluarganya.
Masjid ini pernah menjadi target serangan DI/TII, kurang lebih 22 kali mesjid ini diserang oleh DI-TII. Namun, saking tebal dindingnya yang lebih dari 40 sentimeter, masjid ini bisa bertahan dan kini masih tegak berdiri dengan kokoh. Lubang-lubang bekas peluru yang terdapat di jendela menara masjid menjadi saksi bisu serangan tersebut.

Masjid Cipari yang Art Deco
Melihat bentuk bangunan dari Masjid Cipari ini memang sangat mirip layaknya sebuah gereja.  Bentuk bangunannya  memanjang dengan pintu utama yang terletak  di tengah-tengah  muka bangunan dus keberadaan menaranya yang terletak di ujung bangunan  di atas pintu utama. Dari bentuk dan posisi menara dan pintu utama tersebut, bangunan ini memang menyerupai sebuah bentuk bangunan gereja.
Mengenai langgam Art Deco, belum ada catatan sejarah yang mengatakan mengapa masjid in mengadopsi langgam Art Deco untuk bangunannya. Langgam Art Deco pada masjid ini tampak dari pengolahan fasad bangunannya yang  berbentuk geometris. Arsitektur Art Deco yang dilahikan oleh sekelompok arsitek Amsterdam School dari Belanda ini memang memiliki memiliki ciri elemen dekoratif geometris yang tegas dan keras
Pola-pola dekorasi geometris masjid yang berulang di atas material batu kali memperlihatkan dengan jelas langgam ini. Selain itu, garis horizontal yang halus pada sisi samping kanan maupun kiri juga mencirikan langgam yang sama. Bentuk menara dan atapnya yang menyerupai kubah dengan beberapa element dekorasi pada bagian samping maupun puncaknya juga mengingatkan pada langgam ini.
Menara masjid berketinggian lebih kurang 20 meter ini menarik perhatian bahkan seperti menjadi eye catcher pada bangunan masjid. Mungkin sekadar simbol untuk menandai bahwa bagunan ini bukan gereja melainkan masjid, maka diletakkanlah bulan sabit di ujung menara. Terdapat beberapa lantai pada interiornya, dengan lantai teratas merupakan ruangan sempit berlantai pelat baja yang dikelilingi semacam balkon kecil yang juga daripelat baja.
Dalam ruangan bangunannya terdapat ruang mihrab berupa penampil yang menempel di dinding arah kiblat. Sementara, ruang shalatnya pun lebih mirip ruang kelas yang dapat dimasuki dari pintu di sebelah utara dan selatan atau dari pintu timur yang terletak di antara ruang naik tangga. 
Lokasi Masjid
Batas-batas mesjid sekarang, di sebelah utara adalah Kampung Pinggirsari dan Kampung Tegalkiang Kecamatan Sukawening, selatan adalah Kampung Babakan Cipari dan Kampung Ci Kecamatan Pangatikan, barat adalah Pasar Karangsari Kampung Cimaragas dan pesawahan Kecamatan Pangatikan, dan sebelah timur adalah sawah dan makam Kecamatan Sukawening 

Cara mencapainya
Masjid Cipari Wanaraja dapat dicapai dari Terminal Cileunyi Bandung ke Terminal Ciawitali Garut Kota dengan waktu tempuh ± 1,5 jam. Kemudian menuju lokasi dengan menggunakan angkutan kota satu kali jurusan Wanaraja sekitar 50 menit dengan jarak ± 4 Km dari Kecamatan Wanaraja dan ± 12 Km dari ibukota kabupaten. Selanjutnya dapat dicapai dengan naik ojeg dengan jarak ± 1 km sekitar 5-10  menit. Mesjid Cipari Wanaraja berada di dalam Kampung Babakan Cipari, Desa Cipari, Kecamatan Pangatikan, pada posisi koordinat: 7º 09’ 171” LS 107º 59’ 764’’ BT. (berbagai sumber)