Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan

Selasar Sunaryo Art Space

#

Jika Anda ke Bandung, mau mencari  hal-hal yang berbau seni itu cukup mudah caranya. Mengapa? karena Bandung ini memang banyak tempat-tempat dimana Anda bisa dimanjakan oleh karya-karya seni yang bermutu dan berkulitas, salah satunya dengan berkunjung ker rumah Seni.

Nah,  rumah seni yang cocok Anda kunjungi saat Bandung, yaitu Selasar Sunaryo Art Space (SAAS). SAAS ini didirikan oleh Sunaryo dan dibuka secara resmi pada tahun 1998. Di sinilah Sunaryo dengan penuh dedikasi bersama  AgungHujatnikajenong, dibantu dewan pertimbangan kuratorial Jim Supangkat, Yuswadi Salya, Saini KM, Asmudjo Jono Trianto, Rizki A Jaelani, Bambang Sugiharto mewadahi geliat seni kontemporer di negeri ini. Mereka inilah “tulang punggung” dan penimbang berbagai pagelaran seni kontemporer di SSAS.

Selasar Sunaryo Art Space ada untuk mendukung dan berkontribusi dalam pengembangan seni dan budaya di Indonesia. SSAS memberikan program yang beraneka ragam dan mudah diperoleh untuk kegembiraan penduduk setempat dan pengunjung, serta berkontribusi secara lokal dan nasional untuk kelangsungan seni dan budaya di Indonesia. Fokus dari program ini adalah seni kontemporer dan juga lebih mengenalkan budaya visual, seperti desain, kerajinan tangan, film/video, fotografi, dan arsitektur.

Tidak sulit mengenal salah satu masterpiece karya pematung Sunaryo, sebut saja karyanya ada pada film nasional Naga Bonar Jadi Dua dalam adegan saat Dedi Mizwar “berdialog” dengan patung Jenderal Sudirman karya Sunaryo yang kini bertengger di jalan protokol ibukota Jakarta.

Tidak hanya itu, satu lagi patung Soekarno Hatta yang terletak dekat bandara Soekarno Hatta juga karya Sunaryo. Belum lagi pada karya film Garin Nugroho Opera Jawa, Sunaryo turut “mewarnai” tata artistik yang memukau pada film yang sempat memperoleh beberapa award dan diputar diberbagai festival film internasional.

Sosok Sunaryo
Sunaryo bisa dibilang salah satu legenda seniman Indonesia. Lebih dari itu, alumnus Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) ini termasuk seniman grafis yang telah diakui secara internasional. Pengakuan itu dibuktikan dengan diraihnya puluhan penghargaan seni, termasuk yang berkelas internasional. Tahun 1978 ia memenangkan hadiah ke-2 Graphic Competition yang diadakan UNESCO di Paris. Sebelas tahun kemudian, lima karya grafisnya dimuat dalam buku Contemporary Prints of The World.

Dalam buku itu, nama Sunaryo disejajarkan dengan seniman-seniman besar grafis kelas dunia seperti Joan Miro, Paul Klee, dan George Braque. Ia pun telah memenangkan sedikitnya lima kali penghargaan dari The Philip Morris Award sejak tahun 1994.Tidak hanya berkarya di bidang grafis, Sunaryo pun menjelajahi berbagai jenis seni lainnya seperti seni patung, lukis, keramik, tekstil, hingga instalasi.

Menikah dengan Heti Komalasari, dan dikaruniai 3 orang anak, Hardianto, Arin Dwihartanto dan Harmita. Dalam pemahaman peraih Honourable Mention pada sayembara lukis The Philip Morris Group of Companies ASEAN Art Awards tahun 1995 ini, seni itu dinamis dan akan selalu berubah seiring detak jantung dan detak zaman.

Lokasi
Selasar Sunaryo Art Space ini berlokasi di Jalan Bukit Pakar Timur No.100 (Dago Atas).


Perhatian! Taman Lansia ada di mana-mana

#
Dilihat dari namanya mungkin pikiran kita langsung tertuju kepada orang tua yang telah lanjut usia. Yup, ada benarnya juga, seperti Monumen Jenderal Sudirman yang banyak berdiri di beberapa kota di Indonesia, Taman Lansia pun demikian. Di beberapa kota terdapat taman yang menggunakan nama yang sama, yaitu Taman Lansia atau Taman Lanjut Usia.

Taman ini mempunyai beragam fungsi bagi mereka yang ingin sekedar refreshing atau bersenang-senang. Dan uniknya, memang taman ini bernama taman lansia tetapi apalah arti sebuah nama, karena banyak pemuda-pemudi yang suka berkunjung ke taman ini, selain para lansia tentu saja.
sumber: www.santiago-yasir.blogspot.com
1. Taman Lansia di Bandung
Taman Lansia berada di sebelah kanan Gedung Sate. Taman Lansia ini menjadi semacam sarana bagi mereka ingin melepas lelah sekaligus kepenatan. Refresing segar ditemani semilir angin sepoi sungguh mengasyikkan, terlebih lagi jika dilakukan bersama keluarga atau handai taulan  saat hari sabtu, minggu atau hari libur lainnya.

Lapar disana tak perlu kuatir, di sekitaran Taman Lansia berdiri cafe-cafe beragam pangana yang siap mengisi perut Anda. Nah, bagi yang ingin berkuda sambil berkeliling taman, di sekitar taman terdapat banyak sekali penyewaan kuda. Bagi anak kecil dapat didampingi oleh sang pemilik kuda, atau bagi yang sudah berani berkuda sendiri dapat melakukannya tanpa didampingi sang pemilik kuda. Bagi keluarga yang ingin beramai-ramai menikmati taman dapat menyewa dokar.

2.Taman Lansia di Surabaya
Taman Lansia ini fungsinya tak jauh berbeda dengan Taman Lansia di Bandung, yaitu sebagai tempat hangout sekaligus rekreasi bagi warga kota. Taman ini  memang dimanfaatkan sebagai taman alternatif untuk semua orang tak terkecuali para lanjut usia.

Dengan luasnya yang mencapai 2000 m2 eks SPBU Kalimantan ini di sela warna warni tanaman  tersedia track khusus di buat untuk kenyaman kusi roda para lansia. Selain itu ada pula tempat duduk untuk penghantar saat menemani para lansia menikmati suasana kota di pagi atau sore hari.
sumber foto:www.prasetyowijaya.blogspot.com
Taman Lansia juga dihiasi oleh puluhan jenis bunga dan tanaman berwarna-warni, seperti, pandanus, teh-tehan, zisigium, erva merah, telo-teloan, rumput gajah, rumput jepang, andong merah, pandanwangi, cendrawasih, pakis boston, keindahan tanaman berbaur dengan air yang segar dan air mancur.

3.Taman Lansia di Magelang
Taman Lansia ini berada di  timur Jalan A. Yani, atau tepatnya di depan Kompleks Perumahan Militer. Taman seluas 3.800 m2 ini menjadi tamannya para lansia. Taman ini dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas seperti lantai pedestrian untuk refleksi yang dilengkapi dengan pegangan tangan, kursi taman yang nyaman serta tak ketinggalan penanaman warna-warni bunga dan pohon perindang sebagai penambah keindahan taman.

Adanya Taman Lansia ini merupakan ambisi Pemerintah Kota Magelang melalui Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Tata Kota berupaya untuk menata taman yang sudah ada selaijn juga untuk  memberdayakan lahan-lahan yang masih ‘nganggur’ alias belum dimanfaatkan secara optimal. Upaya ini tak lepas dari kebutuhan masyarakat akan tersedianya ruang publik yang nyaman untuk bersantai dan bersosialisasi. Hal pendorong ini lah yang mendorong Taman Lansia tercipta. (berbagai usmber)

Dari Taman sampai Museum, Kupu-kupu itu Berada

#
Siapa yang tidak tahu kupu-kupu, dari anak kecil sampai orang dewasa pastilah tahu binatang terbang yang satu ini. Indah penampilannya ketika sayapnya terkepak, keanggunannya terkadang membuat mata kita ingin terus menatapnya tanpa henti, terlebih lagi apabila kupu-kupu itu dihiasi oleh banyak warana

           Nah, di dunia ini memiliki kurang lebih 20.000 species kupu-kupu dan Indonesia sendiri adalah negara kedua  yang mempunyai koleksi kupu-kupu terbanyak dengan sekitar 2500 jenis kupu-kupu setelah Brasil. Maka tak heranlah apabila di beberapa kota di negeri ini mempunyai museum atau taman yang isinya hanya kupu-kupu saja.

Sumber: www.museumindonesia.com
            Ingin bermain-main sekaligus menambah pengetahuan dengan berbagai jenis kupu-kupu , ada baiknya jika Anda singgah ke beberapa tempat di bawah ini. 

1. Museum Serangga dan Kupu-kupu
 Kupu-kupu dapat dijumpai di Museum Serangga dan Kupu-kupu di Taman Mini Indonesia Indah atau TMII di Jakarta. Memang tidak hanya koleksi kupu-kupu saja dapat kita jumpai melainkan juga ada koleksi serangganya. 

Namun, di Museum yang berdiri bertepatan  dengan ulang tahun TMII ke-18 yang jatuh pada tanggal 20 April 1993 ini, kita dapat melihat sekitar 250 spesies kupu-kupu yang dipamerkan dalam kotak kaca.

Ke-250 koleksi kupu-kupu ini dikategorisasikan menjadi dua macam, yaitu berdasarkan daerah asaln dan taksonominya. Dari daerah asalnya, mulai kupu-kupu dari  Pulau Alor (NTT), Bacan (Maluku Utara), Bali, Obi (Maluku Utara), Lombok (NTB), Mangole (Sulawesi Utara), Nias (Sumatera Utara), Seram (Maluku), Simeulue (Aceh), Siau (Sulawesi Utara), Sumba (NTT), sampai Timor (NTT) ada di sini. Dari taksonominya, ada Kupu Papilionid, Kupu Pierid, Kupu Nymphalid. Bangsa kupu masih memiliki suku Rionidae, Lycaenid, Hesperid.

2. Taman Kupu-Kupu Bandung
Objek wisata terbilang baru di kota kembang lantaran usinya masih beberapa tahun saja berdiri. Namun, taman ini bisa menjadi alternafif liburan Anda bersama keluarga untuk sekedar bersenang-senang dan melepas kepenatan sambil belajar melihat proses metamorfosis kupu-kupu dari larva sampai dewasa secara sempura.
sumber:www.tamankupukupucihanjuang.blogspot.com
Luas taman yang berada di Cihanjuang Km 3,3 No.58, Desa Cibaligo, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat  ini mencapai 1,7 hektar yang di dalamnya dihuni oleh sekitar 300 kupu-kupu dari 35 jenis yang ditangkarkan dalam setiap harinya. Mereka beterbangan  dalam sebuah taman khusus seluas 1.800 meter persegi yang dipagari dengan jaring supaya kupu-kupu tersebut tak terbang sampai keluar dari taman ini.

Nah, bagi Anda yang  masuk ke taman yang tiketnya lumayan murah ini akan ditemani dengan pemandu yang akan memberikan penjelasan berbagai hal seputar kupu-kupu dan tamannya sendiri. ika ingin mendapatkan souvenir, disini juga ada toko aksesoris yang menjual berbagai pernak-pernik yang serba kupu-kupu. 

3. Museum Kupu-kupu Bantimurung
Kita tinggalkan tanah jawa dan menuju Sulawesi tepatnya Museum Kupu-kupu Bantimurung di Taman Wisata Alam Bantimurung, Maros. Di sini  Anda akan merasa seperti berada di kerajaan Kupu-kupu karena beragam koleksi yang mencapai 360 ekor kupu-kupu dengan 133 spesies kupu-kupu dapat Anda jumpai.

sumber foto:www.iftfishing.com
         Kupu-kupu spesies khas Maros, di antaranya yang termasuk dalam kelompok papilionidae yang hidup di kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung dan jenis atacus atlas yang selama ini hidup di Desa Laiya, Kecamatan Cendrana, Maros.

        Selain menikmati kupu-kupu yang ada, Anda juga dapat membel;i buah tangan dari banyak penjual cendera mata yang menjual aneka macam hiasan kupu-kupu yag diawetkan. Mulai bentuk gantungan kunci, lukisan, bros, anting, sampai pigura yang berisi bermacam-macam kupu-kupu aneka warna dan jenis.

4.Taman Kupu-kupu Tabanan
Nah, yang ke empat kupu-kupu banyak kita jumpai juga di Taman Kupu-kupu yang berlokasi di Jl.Batukaru, Br.Sandan lebah, Wanasari, Tabanan, Bali tepatnya 6 Km ke arah utara dari pusat kota.

sumber foto: www.listiaji.wordpress.com
Dengan Taman dengan luas 1 Ha netting area (ruangan yang tertutup Jaring) 3700 M3. Di taman ini setiap hari dilepas ratusan ekor kupu-kupu yang beraneka warna dan salah satu diantaranya yang paling terkenal di dunia ialah kupu-kupu Sayap Burung Sorga (Omithoptera Paradisea),  Priamus dan berbagai jenis dari seluruh nusantara.

Seperti Museum di Bantimurung, taman Kupu-kupu ini juga memproduksi aneka kerajinan yang terbuat dari bermacam-macam serangga seperti  Framing Butterfly ( Bingkai isi Kupu-2) , Framing Beetle ( Bingkai isi kumbang), Gantungan kunci yang terbuat dari serangga, selipan pembatas buku, Paper Weight ( penindih kertas) terbuat dari fiber bening berisi kupu-kupu, lukisan dari sayap kupu-kupu.


5. Museum Kupu-kupu Rokan Hulu Riau
Museum ini merupakan pusat penangkaran kupu-kupu yang berada di objek wisata air panas bumi Hapanasan, Kecamatan Rambah. Di tempat ini Anda dapat melihat 150 species kupu-kupu yang ada di Rokan Hulu. Nah, selain bisa melihat kupu-kupu, Anda pun dapat menikmati hangatnya air di pemandina air panas tidak jauh dari sana.

Museum Ratusan Naskah Kuno

#
Museum memang sejatinya menyimpan sekaligus melestarikan benda-benda peninggalan sejarah masa lalu bangsa. Tidak hanya itu museum juga mempunyai tugas dan kegiatan untuk memamerkan dan menerbitkan hasil-hasil penelitian dan pengetahuan tentang benda-benda yang penting bagi Kebudayaan dan llmu Pengetahuan.
Seperti yang kita tahu di museum itu terdapat berbagai macam benda kuno, dari patung, artefak, atau benda-benda bersejarah lainnya, termasuk juga naskah kuno. Nah, di beberapa museum di Indonesia ada museum yang menyimpan banyak koleksi-koleksi naskah yang umurnya rata-rata lebih tua dari museumnya itu sendiri, di museum mana sajakah yang banyak menyimpan koleksi-kolksi kuno itu
Museum pertama adalah Museum Sri Baduga di Jalan Peta, Bandung, di museum yang luasnya mencapai 8.415,5 m2 ini memiliki koleksi naskah kuno yang lumayan banyak, yaitu kurang lebih 147 naskah kuno. Yang berasal dari sejumlah daerah di Jawa Barat Naskah kuno yang dikoleksi seperti Cacarakan (Haracaraka-Jawa), Jawa kuno, Pegon (Arab Sunda), Sunda kuno, dan naskah yang lainnya. Naskah-naskah tersebut ditulis dengan menggunakan berbagai huruf kuno seperti huruf Sunda kuno, Jawa Kuno hingga bertuliskan huruf Palawa.
foto:www.toscaqueen-museumsribaduga.blogspot.com
Naskah-naskah itu berisi ajaran sastra, agama, pedoman hidup, kesehatan, adat istiadat, dan silsilah. Hampir sebagian besar naskah itu dipengaruhi oleh budaya India karena kebanyakan berasal dari zaman yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu.
Keberadan naskah-naskah itu memiliki arti dan nilai yang tinggi salah satunya karena mengungkapkan kondisi sosial budaya mayarakat Sunda tempo dulu yang dituliskan di daun lontar, kertas Eropa, logam dan kayu
Kedua, ada Museum Bengkulu yang mempunyai jumlah koleksi yang hampir sama dengan museum Sri Baduga, yaitu sekitar 120-an koleksi. Naskah koleksi dari museum ini sebagiannya adalah naskah kuno "ka ga nga. Ka ga nga ini merupakan tulisan asli masyarakat Melayu Bengkulu yang berasal dari aksara semit kuno, proto melayu, selain di Bengkulu ka ga nga juga terdapat di Jambi, dan Lampung tulisan ini berasal dari aksara Palawa. Huruf ka ga nga untuk masyarakat Suku Serawai di Bengkulu dikenal dengan tulisan ulu atau serat ulu, sedangkan untuk suku rejang dikenal dengan tulisan rencong.
foto:www.dennytipis.wordpress.com
Huruf ka ga nga sendiri  lahir menjelang abad ke 12, huruf ini merupakan bagian dari  tulisan aksara semit kuno atau lebih spesifik dari proto sumatra bahkan di Bandung ka ga nga juga dikenal lahir dari aksara Palawa atau naskah Melayu
Dari beberapa naskah yang dikoleksi di museum ini kebanyakannya adalah tulisan yang berisikan kitab pengobatan, penyakit, kisah atau kejadian alam semesta, cerita tentang sang kancil, hukum adat, pantun, tata cara hubungan kaum muda, tata cara bertani, pantun, serta jampi dan mantra. Tulisan ka ga nga untuk suku Rejang Lembak terdiri atas 23 kata sedangkan Serawai Pasemah terdiri atas 28 kata dan memiliki 13 tanda baca. (berbagai sumber)

Plesiran Tempo Dulu di Jembatan Tua

#
Pernahkah anda melintasi jembatan merah yang berada di Surabaya? Kita melewatinya dan tanpa dinyana usia jembatan itu sudah pasti lebih tua dibanding dengan usia kita sendiri. Dibangun pada abad ke-18, pahit getirnya jembatan itu melewati babakan zaman dari masa penjajahan sampai republik ini merdeka pasti telah dirasakannya. Tetap berdiri  dan tak lekang di makan sang waktu yang memang tak bisa berhenti.

            Lantas bagaimana dengan jembatan-jembatan tua lainnya di Indonesia ini, mengecek laman internet di sana sini, eh ternyata banyak juga jembatan tua yang cocok dikunjungi dalam plesiran sejarah,  seperti Jembatan yang berada di propinsi Jambi ini. Adalah Jembatan  Sarolangundengan model khas eropanya. Jembatan ini juga dikenal dengan sebutan Jembatan Beatrixyang dibangun pada awal abad ke-20 ,sekitar tahun 1923 oleh pemerintah kolonial Belanda dengan menggunakan tenaga kerja asli pribumi melalui kerja rodi.

Jembatan "Beatrix"
       Fungsi jembatan itu dibangun adalah untuk menghubungkan langsung antara dua desa yang berseberangan yaitu  Desa Sri Pelayang dengan Kelurahan Pasar Sarolangun dengan panjang sekitar 100 meter. Dilihat dari fisiknya, konstruksi jembatan itu ditopang oleh  tiga tiang penyangga dengan empat ruas jembatan yang menyatu. 

        Nah soal nama jembatannya sendiri yaitu “Beatrix”  kemungkinan diambil dari nama salah satu ratu belanda yang lahir tahun 1938. Hal ini diperkuat dengan adanya prasasti saat peresmian jembatan itu pada tahun 1939, dimana ada tugu batu sejenis marmer  yang bertuliskan “Beatrix Brug”, pangkal jembatan dari arah pasar bawah Sarolangun.
       Penamaan jembatan tersebut mungkin merupakan hadiah atas lahirnya putri Beatrix Wilhelmina Armgard, yang tidak lain adalah anak dari  Putri Mahkota Juliana dari Belanda dan Pangeran Bernhard, yang lahir tahun 1938, setahun sebelum jembatan itu diresmikan.

Itu Jembatan Beatrix di Jambi, anda yang pernah atau tinggal di Surabaya pasti mengenal dengan jembatan yang satu ini, Yup adalah Jembatan Petekan yang merupakan sebuah jembatan tua peninggalan zaman Belanda yang terletak di bagian utara  Surabaya.

Jembatan Petekan
Jembatan ini bukan jembatan biasa karena dulunya adalah jembatan layang yang akan terbuka apabila ada kapal di bawahnya melintas. Jembatan itu dibangun sedemikian rupa sebagai jembatan gantung yang bisa dinaik-turunkan karena saat itu Sungai Kalimas menjadi jalur transportasi utama perahu dan kapal tradisional yang membawa barang ke kawasan perdagangan di Kembang Jepun.

 Sebelum jembatan itu dinamakan sebagai Jembatan Petekan,  oleh pihak Belanda jembatan itu dinamakan Jembatan Ophaalbrug dan di bangun oleh NV Braat and Co sekitar awal abad ke-20. Nah, entah kenapa kemudian nama jembatan itu berubah menjadi Jembatan Peteka. Petekan sendiri diambil dari kata dalam bahasa Jawa, Petek, yang artinya di pencet atau di tekan.

Selain Jembatan Petekan, masih di kota yang sama  ada juga Jembatan Gubeng yang tak kalah kesohornya yang telah mencapai umur 112 tahun. Jembatan yang menyeberangi sungai Kalimas depan Stasiun Gubeng ini menghubungkan daerah Gubeng dengan Jalan Pemuda (Simpang). Awalnya material konstruksi jembatan yang awalnya bernama Goebeng Brug ini bukan terbuat dari beton melainkan bambu dan kayu . Akan tetapi, lantas dibongkar dan dibangun lagi dengan menggunakan struktur besi sekitar tahun 1924.

Kita tinggalkan Surabaya, sekarang mari kita ke Jakarta ke kawasan  kawasan Pekojan, Jakarta Barat tepatnya di wilayah Tubagus Angke ada sebuah jembatan yang tidak dapat dilalui kendaraan roda empat. Disanalah Jembatan Kambing berada. Asal muasal namanya sendiri tidak bisa dilepaskan dari banyaknya kambing-kambing yang melintasi melewati jembatan itu. Lantas apa hubungannya dengan hewan yang satu ini?

Nah, daerah Pekojan sendiri  sampai dengan 1950-an mayoritas penduduknya adalah keturunan Arab yang sebagian besar berasal dari Hadramaut (salah satu wilayah di selatan Yaman). Besarnya jumlah komunitas keturunan Arab ini menyebabkan banyak pula pedagang kambing yang jualan di tepi Kali Angke itu. Dan para pedagang kambing ini sebagian besar juga keturunan Arab.

Namanya juga pedagang  kambing,  kambing-kambing yang didatangkan dari berbagai tempat, sebelum disembelih di pejagalan lebih dulu melewati jembatan Kali Angke yang memisahkan Pekojan dan Jl Tubagus Angke. Nah, dari kebiasaan hilir mudiknya kambing-kambing di jembatan itu maka dinamakan Jembatan Kambing.

Selain jembatan itu, di Jakarta juga ada jembatan yang bernama Jembatan Pasar Ayam yang terletak di  Kali Besar. di dekat Hotel Omni Batavia di Jalan Kali Besar Barat. Lagi-lagi memakai nama binatang untuk nama jembatan seperti nama jembatan diatas. Jembatan Ayam ini dibangun pada tahun 1628 dan dulunya diberi nama Engelse Brug” atau “Jembatan Inggris”.

Jembatan Pasar Ayam
Jembatan itu yang menempati lokasi yang menurut peta masa Gubernur Jenderal Van der Parra, merupakan pasar ayam dan sayuran, yaitu yang terletak di sebelah utara gereja lama Portugis (Binnenkerk). Lahan bekas pasar ayam itu kemudian dijadikan lokasi tempat perbaikan kapal. Karena Boom Besar dalam jangka panjang juga akan dibangun, maka pembesar kumpeni merencanakan lokasi untuk gudang-gudang di tepi Kali Besar itu. Karena itulah dibangun jembatan angkat, sehingga perahu-perahu yang mengangkut berbagai kebutuhan sehari-hari tetap dapat melewati Kali Besar.

Di kota kembang  Bandung, tepatnya di Jatinangor ada sebuah Jembatan yang bernama Jembatan Cincin. Jembatan Cincin dibangun oleh perusahaan kereta api Belanda yang bernama Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf pada tahun 1918. Jembatan Cincin ini pada awalnya dibangun sebagai penunjang lancarnya kegiatan perkebunan karet. Dus, Jembatan ini pun berguna untuk membawa hasil perkebunan.

Pada masa itu Jembatan Jatinangor menjadi salah satu roda penggerak perkebunan karet terbesar di Jawa Barat. Jembatan ini menjadi salah satu roda penggerak perkebunan karet terbesar di Jawa Barat. Dan sekarang ini jembatan cincin telah beralih fungsi sebagai jembatan penyeberangan penduduk setempat dan para mahasiswa yang tinggal di sana (kost) karena lokasinya yang berdekatan dengan kampus Universitas Padjadjaran di Jatinangor.

        Kita tinggalkan tanah Jawa menuju ke Sumatera, tepatnya di Payakumbuh di sana ada sebuah jembatan yang bernama Jembatan Ratapan Ibu. Kenapa namanya Ratapan Ibu? Ini masih menjadi misteri, namun Jembatan Ratapan Ibu adalah sebuah Jembatan tua yang dibangun pada tahun 1818

Jembatan ini memiliki panjang 40 meter dengan arsitektur kuno berupa susunan batu merah setengah lingkaran yang direkat dengan kapur dan semen tanpa menggunakan tulang besi. Jembatan ini melintasi Sungai Batang Agam, menghubungkan Pasar Payakumbuh dan nagari Aie Tabik. (berbagai sumber)

Mari Wisata Sejarah ke Hotel-Hotel Tua Indonesia

#
Hampir di setiap kota-kota besar di Indonesia berdiri hotel-hotel tua yang umurnya melebihi usia republik ini ada. Yup, dibangun sewaktu kolonialis Belanda masih berkuasa penuh di Nusantara, dibawah ini ada beberapa hotel yang sangat tua di Indonesia yang mungkin bisa Anda kunjungi apabila ingin melihat bentuk rupa peninggalan sejarahnya yang masih tersisa.

1.Hotel Pelangi dan Hotel Splendid Inn
Di kota Malang ada hotel tua yang bernama Hotel Pelangi yang letaknya di Jl. Merdeka Selatan No. 3. Kalau dihitung-hitung dari semenjak hotel ini berdiri, sekarang umurnya kurang lebih sudah 96 tahun lantarannya hotel ini suda ada di Malang dari tahun  1916.

Hotel Pelangi
Nama hotel ini awalnya bukanlah Hotel Pelangi melainkan bernama Hotel Palace entah kenapa bisa berubah nama. Nah, yang menarik dari hotel yang punya 50 kamar ini terletak dari arsitekturnya yang mempunyai ciri khas  yaitu  adanya Menara Kembar yang dahulunya digunakan sebagai menara pengawas. 

Untungnya dibuat kokoh karena sampai saat ini di dalamnya masih terjaga keasliannya, bentuk lantai, plafon dan tegel-tegel dinding bergambar pemandangan negeri kincir angin yang eksotis. 
        
       Masih di Malang,  lanjut lagi ke hotel yang bernama Hotel Splendid Inn. Arsitektur dari gedung yang dibangun pada 1924-1930 ini bergaya Nieuwe Bouwen (berbentuk kubus dan atap lurus) membuat bangunan ini masih kokoh berdiri sampai sekarang. Banyak turis asing dari Belanda yang bernostalgia di tempat ini. Fasilitas yang ada pun relatif sama dengan hotel-hotel berbintang, sehingga sesuai dengan anda yang ingin beristirahat dalam nuansa tempo dulu. 

Hotel Splended Inn
Selain kedua hotel di atas, kota ini juga mempunyai hotel yang tak kalah bersejarahnya yaitu Hotel Graha Cakra yang berada di Jl. Cerme 16. Hotel berbintang tiga ini dahulu adalah bekas gedung Radio Republik Indonesia (RRI) Malang yang pernah rata dengan tanah karena hancur saat pecah Perang Clash ke-1pada 1947. Untuk gaya arsitektur dari hotel ini masih menerapkan gaya yang sama dengan Hotel Splendid Inn yaitu gaya Nieuwe Bouwen yang populer pada 1935 karya arsitek Belanda, Ir. Mulder
Gaya Nieuwe Bouwen yang diterapkan dalam dua hotel itu sebenarnya istilah untuk gaya bangunan sesudah tahun 1920-an yang merupakan penganut dari aliran International Style, sebagaimana yang diungkapkan Akihary (1988) dalam bukunya Architectuur en Stedebouw in Indonesie 1870-1940.Gaya arsitektur ini dibarengi oleh pengaruh gaya arsitektur modern yang sedang trend pada masa itu antara lain,  Amsterdam School, Bauhaus dan De Stilj yang berkembang di Indonesia karena semakin banyak arsitek Belanda beraliran arsitektur modern berpraktek di Indonesia.

2. Hotel Oranje
Dari Malang sekarang kita ke Surabaya disana ada Hotel Oranje atau Hotel Majapahit yang melegenda, mungkin dari anda sudah tahu sebelumnya terlebih lagi apabila anda adalah wong suroboyo. Alkisah, hotel ini didirikan oleh seoarang pedagang yang bernama Lucas Martin Sarkies dari Armenia. 

Hotel ini diarsiteki oleh James Afprey, seorang berkebangsaan Inggris yang membangun hotel ini  pada tahun 1910 dengan menerapkan gaya arsitektur Art Nouveau. Keluarga Sarkies ini memang dikenal berkecimpung di bisnis perhotelan karena sebelum mendirikan hotel ini, keluarga Sarkies sudah mendirikan banyak hotel di  Asia, seperti Hotel Niagara di Lawang, Hotel Eastern and Oriental di Penang (Malaysia), Hotel Strand in Rangoon (Burma) dan Hotel Raffles di Singapura.

Nah, tahun 1911 adalah tahun bersejarah untuk hotel  karena untuk yang kali pertamanya hotel ini dibuka dengan menggunakan nama “Hotel Oranje”. Dalam perkembangannya, di tahun 1931 ada penambahan bangunan di hotel ini yaitu di bagian depan pintu masuk lama, sebagian ruang masuk dibangun dalam gaya Art Deco oleh arsitek Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker.

Hotel Oranje
Bagi anda yang pernah menyaksikan salah satu film perang produksi anak negeri dimana salah satu scennya ada orang yang merobek bendera di atap gedung hotel, nah kejadian itu lah yang terjadi di hotel ini.  

Tepatnya pada  tanggal 19 september 1945  terjadi “Insiden Bendera” saat Kolonialis Belanda menaikkan bendera kebangsaannya di menara hotel ini.  Kontan, para nasionalis Indonesia naik pitam dan memanjat ke menara lalu menyobek-nyobek bagian biru dari bendera Belanda yang kemudian berubah menjadi bendera Indonesia.

Nama Hotel Oranje digunakan sampai tahun 1950-an. Waktu itu hotelnya dinasionalisasikan dan nama diganti menjadi Hotel Majapahit. Anda di sana, sempatkanlah untuk melihat kamar bersejarah yaitu kamar yang pernah digunakan oleh aktor Charlie Chaplin. Komedian yang tenar di tahun 30-an ini pernah sempat menginap di hotel ini pada tahun 1936. Kamar tersebut diberi nama Kamar Merdeka dengan nomor kamar 33. 

3. Hotel Surabaya
Itu di kota pahlawan, Bandung tak mau kalah soal hotel bersejarahnya karena di sana ada Hotel yang bernama Hotel Surabaya yang sedikit lebih tua dari Hotel Oranje.  Hotel ini dibangun oleh pengusaha China yang kaya raya asal Surabaya. Adanya hotel ini lantaran untuk menyambut dibangunnya jalur kereta api Jakarta-Bandung yang ditandai dengan berdirinya stasiun Bandung pada tahun 1884.

Untuk bagian hotelnya sendiri  terdiri atas tiga bagian, bagian pertama berada di belakang dan dibangun bergaya neoclassic pada tahun 1886 dengan konsep modern karena banyak menggunakan elemen suluran, tanaman dan kacanya sudah menggunakan colour glass. Sedangkan bagian towernya sendiri dibangun beberapa tahun setelahnya yaitu pada tahun 1900 sampai 1910 dengan menggunakan gaya art nouvo

4.Hotel Sriwijaya
Bagaimana dengan di Ibukota sendiri, jelas Jakarta tak mau ketinggalan karena disini ada Hotel Sriwijaya. Letak hotel ini ada di pojokan Jalan Veteran dan Jalan Veteran I, Jakarta Pusat. Dari Stasiun Juanda, hotel ini berada di sisi kanan tak jauh dari Masjid Istiqlal. Tembok hotel ini memanjang hingga ke Jalan Veteran I mendekati kedai es krim Ragusa. 

Hotel Sriwijaya
 Conrad Alexander Willem Cavadino atau CAW Cavadino  yang memulai usaha restoran dan kue di tahun 1863. Tempat usaha ini dibangun persis di pojokan Rijswijk (Jalan Veteran) dan Citadelweg (Jalan Veteran I). Di tahun 1872 Restoran Cavadino berubah menjadi Hotel Cavadino sementara usaha ritelnya dilakukan di sebuah tempat usaha bernama Toko Cavadino yang berada di depan bangunan hotel.

Dari sebuah iklan di tahun 1894, Toko Cavadino disebut sebagai toko yang menyediakan permen, cokelat,  cerutu Havana, Belanda dan Manila hingga bir, anggur, dan minuman beralkohol lainnya. Bahkan, begitu terkenalnya usaha ini sampai-sampai jembatan di depan hotel ini dinamakan Jembatan Cavadino (Cavadino Bridge). Jembatan itu kini berada di samping Hotel Sriwijaya, sejajar dengan pintu masuk ke hotel tersebut.

Dari foto lama yang terpampang di dalam hotel ini dan juga dari foto koleksi KITLV, Leiden, yang ditampilkan oleh Scott Merrillees dalam buku yang berjudul Batavia in Nineteenth Century Photographs letak bangunan hotel dan toko kue terpisah. Posisi bangunan Hotel Cavadino, yang kini jadi Hotel Sriwijaya, terlihat berada di pojokan jalan yang masih sangat sepi dengan dua jalur trem di depannya. Sedangkan Toko Cavadino kini menjadi restoran dan masih menjadi bagian dari Hotel Sriwijaya.

Usaha toko dan hotel berjalan terus hingga akhir abad-19. Merrillees mencatat, sebenarnya CAW Cavadino tak lagi sebagai warga Batavia sejak tahun 1870 meskipun demikian, usahanya tetap menggunakan nama Cavadino & Co. Hotel Cavadino dan bertahan sampai tahun 1898. Namun sejak 1899 hotel itu berubah nama menjadi Hotel du Lion d’Or. Di tahun 1941 hotel itu sudah berubah nama lagi menjadi Park Hotel. Dan diperkirakan sekitar pertengahan tahun 1950-an nama hotel itu berubah menjadi Hotel Sriwijaya.

5. Hotel Inna Dibya Puri dan Hotel Candi Baru
Sekarang kita tinggalkan Jakarta dan pindah ke Semarang, disana telah hadir sebuah hotel yang bernama Hotel Inna Dibya Puri. Soal usianya, hotel ini tak kalah tua dengan hotel-hotel lainnya lantaran Hotel di Semarang ini dibangun tahun 1847. Hotel ini menawarkan sensasi keindahan arsitektur hotel yang pada zaman Penjajahan Belanda bernama Du Paviliun itu. Dan konon di tahun 1945, hotel ini pernah menjadi markas pejuang. Akibat pertempuran lima hari di Semarang, beberapa bagian bangunan, seperti dinding dan jendela mengalami kerusakan.

Hotel Candi Baru
Masih di sekitaran kota Atlas ada Hotel Candi Baru yang dulunya nama hotel ini adalah Hotel Bellevue. Hotel bergaya art deco ini dibangun pada 1919 dimiliki oleh Van Demen Wars. Kemudian sejak 1961  nama hotel berubah jadi Hotel Candi Baru.

6. Hotel Salak dan Hotel Pasar Baroe
Puas melihat hotel-hotel tua di kota Atlas, sekarang mari kita tengok hotel apa saja yang ada di kota hujan Bogor. Yang pertama di sana ada Hotel Salak yang usinya sudah sangat tua ratusan tahun yang lewat, hotel ini awalnya bernama Bellevue Dibbets Hotel yang dimiliki oleh Gubernur Hindia Belanda saat itu. Selain untuk tempat menginap dan beristirahat, hotel ini juga diperuntukkan untuk acara pertemuan bisnis dan admistrasi pemerintahan Belanda.

Seiring berjalannya waktu, mungkin Jepang memerlukan tempat yang besar untuk menampung para tentara berikut alat persenjataannya, di zaman penjajahan Jepang fungsi hotel ini berubah fungsi menjadi markas militer Jepang. Nah, baru setelah Jepang angkat kaki dari negeri ini, kepemilikian hotel diserahkan ke pemerintah Indonesia dan namanya pun berubah menjadi Hotel Salak.

Hotel ini teramat special sebagai destinasi penginapan karena event atau meeting berskala internasional pernah dilakukan di Hotel yang letaknya di kaki Gunung Salak ini, misalnya pada tahun 1955 di hotel ini dilangsungkan Pertemuan Persiapan Konferensi Asia Afrika, selain itu pada tahun 1994 ajang pertemuan APEC pun pernah dilakukan di hotel ini.

 Selain Hotel Salak, di Bogor juga ada Hotel Pasar Baroe, dilihat dari namanyanya saja mengingatkan kita kepada salah satu tempat yang ada di Jakarta, namun diantara keduanya tidak ada hubungannya hanya sekedar namanya saja yang sama. Hotel ini tanpa dinyana setua dengan Hotel Salak di atas lantaran dibangun pada tahun 1873.

Hotel Pasar Baroe
Hotel berlantai dua yang berdiri di atas lahan seluas 1.200 meter2 ini memiliki keunikan arsitektur berupa perpaduan gaya Eropa dengan Tionghoa. Hotel ini pernah menjadi primadona bagi para pelancong kala itu, namun mereka yang mampir mayoritasnya adalah warga timur asing seperti Tionghoa, Arab dan Belanda.  Sekedar catatan pada masa itu di Bogor sendiri terdapata 4 hotel yang bisa menjadi tempat persinggahan para pelancong selain Hotel Bellevue, Hotel Salak, dan Hotel du Chemin (sekarang menjadi kantor polisi Mapolres Bogor).

7. Hotel Ambarrukmo Palace
Lantas bagaimana dengan hotel bersejarah di kota pelajar, Yogyakarta? kota ini juga mempunyai hotel yang bernama Hotel Ambarrukmo Palace. Hotel ini sebenarnya berada di dalam kawasan Pesanggarahan Ambarrukmo yang dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono V.

Tahun 1895-1897, bangunan dierenovasi  oleh Sultan Hamengkubuwomo VII, sebelum turun tahta tempat ini dijadikan untuk menjamu tamu, akan tetapi setelah turun tahta, tempat ini pun berubah menjadi kediaman Sultan. Nah, dalam perkembangannya setelah Indonesia merdeka, Soekarno presiden pertama RI menggagas pembangunan hotel-hotel berstandar internasional pertama di nusantara, dan salah satunya adalah hotel ini yang diresmikan pada tahun 1966

Saat peresmiannya di tahun 1966, tak pelak hotel tersebut menjadi hotel mewah pertama di Yogyakarta. Hotel tersebut terdiri dari dua sayap yaitu sayap pertama dibangun tahun 1965 dan sayap kedua dibangun tahun 1974. Namun siapa sangka ternyata hotel ini sempat terbengkalai, samapi akhirnya di tahun 2011, jaringan hotel Santika Indonesia mengambil alih dan menghidupkan kembali Hotel Ambarrukmo.

Lantaran pengambilalihan itu lalu nama hotel pun berubah nama menjadi Ambarrukmo Palace Hotel. Area keraton juga direvitalisasi dan disi berbagai kegiatan kesenian. Di dalam hotel ini terdapat mural ukiran batu karya Harijadi di tahun 1962 yang menggambarkan kehidupan rakyat di sekitar Gunung Merapi. Lalu mozaik dinding dari keramik yang diperkirakan dibuat oleh seniman Indonesia Batara Lubis di tahun 1976. (berbagai sumber)

Abadikan Cinta Anda di Situ Patenggang

#
Tak salah lagi apabila anda sedang berada di kota Bandung, Jawa Barat untuk mampir ke destinasi wisata yang satu ini.  Adalah Situ Patengan yang lokasinya ada bagian selatan kota Bandung di Ciwidey., apa yang istimewa disana? Yup, teramat istimewa  karena di tempat ini ada batu cinta yang siap menjadi saksi kekuatan cinta anda dan pasangan anda.

Batu cinta ini termasuk situs bersejarahyang sudah lama ada di kawasan ini. Untuk sampai kesananya  kita harus naik perahu untuk sampai ke Batu Cinta karena posisinya berada di tengah di tengah danau. Nah, terserah anda ingin melakukan apa sesampainya di depan batu itu, apakah mau saling mengucapkan segidup semati layaknya pasangan yang ingin menikah, foto-foto dengan pasangan anda,  atau yang lainnya. Semua itu ok anda lakukan, asalkan jangan mempraktekkan tindakan vandalisme saja terhadap batu itu. hehehehehe
foto: www.jalanjajanhemat.com
Oh iya, terkait dengan batu cinta ini ternyata katanya batu ini yang ukurannya lumayan besar ini memiliki mitosnya juga sama seperti air-air terjun. Menurut masyarakat patenggang dulunya ada sepasang kekasih bernama Ki Santang putranya Siliwangi dan Dewi Rengganis

Mereka terpisah karena terjadi perang pada saat itu. Namun entah mengapa mungkin juga karena cinta keduanya begitu dalam akhirnya mereka pun dapat bertemu  kembali di suatu tempat yang sampai saat ini bernama “Batu Cinta”, batu inilah yang menjadi saksi bisu dipertemukannya cinta mereka kembali. 

Kisah ini dapat Anda baca pada sebuah lukisan bergambar panorama Situ Patengan yang berada di lokasi Batu Cinta. Masyarakat setempat juga percaya bahwa jika mengunjungi Batu Cinta bersama pasangan, maka hubungan pasangan tersebut akan langgeng. Jadi jangan lama-lama datanglah kesana dan bawa pacar anda.

Niagara Kecil Bandung Barat

#
Ingin lihat miniatur  air terjun Niagara yang ada di Amerika Serikat, coba Anda sempatkan datang ke Curug Malela  yang berada di Kab. Bandung Barat Kec. Rongga Desa, Cicadas. Yup, penampilannya memang sedikit mirip dengan Air Terjun Niagara di negeri Paman Sam sana, tapi air terjun di selatan kota Bandung Jawa Barat ini ini memang lebih kecil namanya juga miniatur.

Berbeda dengan air terjun Niagara yang sengaja dibentuk oleh tangan manusia, Curug Malela ini terbentuk  oleh proses alami selama jutaan tahun yang lalu. Curug Malela ini berada pada aliran sungai yang mengalir dari Ciwidey melalui sungai Cidadap yang selanjutnya bermuara di Cisokan. Curug Malela berada pada relief terjal plateau Rongga. Dimana relief tersebut membentuk lembah-lembah terjal dengan kemiringan lebih dari 100%  atau dengan  sudut kemiringan lebih dari 45 derajat.
Syahdan, keberadaan relief terjal plateau inilah yang membuat medan tempuh untuk sampai di Curug Malela sedikit melelahkan karena medannya berupa lereng lereng bukit . Dilihat dari morfologi batuannya Curug ini menunjukkan bebatuan besar yang sangat keras dengan dinding-dinding tegak yang licin.

foto:travel.detik.com
Bebatuan yang ada tersebut selanjutnya mendapat pergeseran secara signifikan yang dipengaruhi lempeng lokal pada jutaan tahun yang lalu. Maka terbentuklah Curug Malela dengan ketinggiannya yang mencapai sekitar 70 m dan lebar sekitar 100 m dan beberapa curug lainnya yang berada di daerah aliran sungai cidadap tersebut.

 Ada 7 curug dengan aliran air yang sama tetapi dengan keindahan yang berbeda-beda. Ketujuh curug tersebut mempunyai nama tersendiri seperti Curug Malela, Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Sumpel, Curug Ngebul, Curug Palisir dan Curug Pameungpeuk

Namun di sisi lain, relief terjal plateau ini membuat panorama keindahan alam begitu mempesona. Dimana lanskap yang terbentuk dari relief tersebut, menjadikan pemandangan indah dengan rimbunnya pepohonan berdaun hijau.
foto:disparbud.jabarprov.go.id
Kawasan Curug Malela sudah menjadi objek wisata kota Bandung dan Cianjur bahkan terkenal hingga luar kota. Tak lupa disarankan bila mengujungi Curug Malela tidak pada saat musim hujan, bersikap ramah dengan warga setempat dan membawa kendaraan pribadi karena disana tidak terdapat kendaraan umum.(berbagai sumber)

Legenda, Misteri dan Mitos Curug Penganten Bandung

#
Ngomong-ngomong  soal air terjun, Nusantara ini memang kaya dengan banyaknya air terjun yang tersebar di wilayah-wilayah pelosok negeri dengan beragam nama, asal-usul, mitos, ketinggian dan yang lainnya.

Anda yang berada di  Jakarta dan ingin menikmati keindahan Air Terjun, ada baiknya berkunjung sesekali ke wilayah Bandung. Pasalnya, di kota kembang ini  terdapat beberapa curug / air terjun yang cocok sekali sebagai tempat wisata yang untuk mengisi liburan. Salah sdatu air terjun itu adalah Curug Penganten yang berlokasi di Desa Patakaharja Kabupaten Ciamis, Bandung.

Setali tiga keping dengan Air Terjun Hargomulyo Ngrambe, air terjun di Bandung  ini memiliki kemiripan dengan curug di wilayah Purwokerto itu, lantaran air terjun ini memiliki sungai yang airnya mengalir dari dua buah curug yang letaknya saling berhadapan.
            Ikhwal kenapa sampai air terjun ini dinamakan demikian, kabar legenda menyebutkan pada zaman dulu ada suatu peristiwa yang cukup mengenaskan dari sepasang pengantin yang berlayar di sungai ini. Pada saat pengantin itu berlayar, mereka bercanda-canda sehingga membuat perahu yang mereka tumpangi hilang kendali dan terbalik, mereka pun terjatuh dari perahunya. Alhasil karena saat itu arus sungainya lagi deras-derasnya, maka pengantin tersebut terbawa arus, dan konon katanya lagi jasad dari sepasang pegantin tersebut tak diketemukan setelah masyarakat mencarinya.

            Ya terlepas dari kabar legenda itu, air di sungai Curug Panganten ini masih jernih dan lingkungan sekitarpun masih sangat asri serta udara yang sejuk. nah, jika Anda mau kesana jarak yang harus ditempuh dari jalan utama itu sekitar 400 m dan jalan masuknya tepat berada di sisi Jembatan Sungai Citanduy yang terletak di Kawasan Wisata Sejarah Karangkamulyan.  

Akses jalan kendaraan menuju Curug Panganten harus terhenti pada jarak 50 meter. Selanjutnya, perjalanan dapat disambung dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Oh iya, jangan lupa siap sedia dengan perbekalan makanan dan minuman sendiri karena di tempat wisata alam ini jarang pedagang yang menjajakan makanan untuk kebutuhan kita nanti bila ke Curug Panganten.

Yah namanya juga juga air terjun,  pastilah ada beberapa misteri yang akan dikisahkannya kepada kita. Di Curug Panganten ini suka terdengar suara gamelan, para penduduk sekitar yang bermukim di dekat Curug Panganten sudah tidak asing lagi dengan suara gamelan tersebut karena sudah sering terdengar oleh mereka. Di salah satu batu besar yang ada di Curug Panganten selalu terdengar nyaring suara gamelan setiap malam jumat kliwon. Bahkan bukan suaranya saja yang terdengar tapi gamelannyapun pun dapat dilihat.

Di dekatnya Curug Panganten terdapat sebuah batu yang bernama Batu Bedil atau senapan. Bentuknya  sudah jelas menyerupai sebuah  Bedil. Mitos yang beredar di masyarakat setempat tentang Batu Bedil ini adalah jika suatu saat nanti saat terjadinya kiamat, Batu Bedil ini akan meledak dan menembak kawasan beberapa dusun yang ada di Desa Patakaharja, ya terserah Anda mau mempercayainya atau tidak. (berbagai sumber)